Awal bulan ini, mendapat begitu banyak berita yang membuat hati galau. Kondisi kesehatan si mama yang terus menurun, hasil pemeriksaan dokter yang membuat jantung berdetak lebih kencang: dioperasi dengan segala komplikasi yang ia miliki versus kondisi makin parah jika tak dioperasi, benar-benar ibarat makan buah simalakama. Dengan kondisinya yang dijangkiti berbagai penyakit beberapa tahun belakangan ini, adalah riskan melakukan operasi, ternyata tidak gampang memang, memilih diantara dua pilihan yang beresiko tinggi bagi hidupnya.
Baru kelar urusan berobat, terdengar diujung sana, berpulangnya si bibi, tak seorangpun dari kami berani memberitakan ini kepada mama, karena kuatir kondisi psikologisnya terpengaruh. Maka cukuplah kami sesama sepupu saling menyampaikan pesan, dan memastikan tak ada secuilpun dari berita itu yang sampai kepadanya.
Tak berapa lama, berita kehilangan lainnya, berpulangnya seorang teman SMA dan kakak kelas yang masih bisa dikatakan dalam usia yang cukup muda. Di mata saya keduanya ini adalah orang baik. Si kakak kelas, berjiwa sosial, giat dalam berdakwah. Saking giatnya waktu jaman kuliah dulu sebagian kami, adik binaannya takut jika ketahuan pacaran misalnya. Dan bagi adik yg bandel seperti saya (bandel: tak bisa mengiyakan begitu saja tanpa lewat proses berpikir) maka sudah bisa dipastikan "effort" beliau lebih keras lagi. Entah mengapa kebiasaan untuk tak mau ikut-ikutan instan ini tertanam kuat sejak dulu. Tetapi saya bersyukur, dengan sikap ini, mudah-mudahan apapun yang dilakukan selalu diusahakan dengan sebaik-baiknya, karena di dorong motivasi dari dalam dan untungnya, dengan menjadi diri sendiri tak perlu memasang topeng demi menyenangkan orang lain.
Ah, semoga si kakak mendapat tempat yang baik di sisiNYA, demikian juga teman SMA yg masih lajang ketika kembali. Kami tak terlalu dekat ketika SMA tetapi rutin berkomunikasi terkadang ketika mudik ataupun ketika bercanda di sosial media. Di tengah grup alumni yang mulai puritan, saya merasa mendapat teman ketika membaca komentar beliau. Ketika semuanya terbiasa menjadi homogen, maka pendapat yang berbeda akan dibahas, dihakimi oleh "self made" hakim-hakim itu. Meski tak ikut meramaikan percakapan disana, saya terhibur oleh caranya menanggapi cemoohan sekelompok "homogenous creatures" tadi. Yang terkadang lupa bahwa menjadi pribadi yang baik itu terlihat dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain atau kelompok lain. Sulit mendapat teman seperti ini yang selalu menjaga ucapannya dan tak pernah terdengar menyakiti. Semoga jalanmu lancar teman, menuju keabadian, semoga disanalah kau bertemu jodohmu.
Terus terang, kepergian ketiga orang ini membuat saya berpikir, apa yang kita tinggalkan ketika suatu saat kita pun pergi? Saya tak ingin membahas amalan disini, karena bagi saya amal itu cukuplah kita yang tahu dan saya yakin setiap orang sedikit banyak pasti berusaha memperbaiki amalannya.
Lalu saya teringat tentang menjadi orang baik, penolong, bermanfaat bagi sesama, setidaknya itu bisa menjadi legacy kita. Entahlah belakangan ini saya berpikir bahwa ketiganya itu lebih penting ditujukan bagi yang benar-benar membutuhkan: keluarga, orang terdekat, orang miskin, anak sekolah dari keluarga tak mampu, pengungsi, orang yang tertimpa musibah. Sulit membedakan memang antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang ingin "memanfaatkan". Golongan terakhir adalah mereka yang mampu sebenarnya tetapi ketika berhadapan dengan kita, tiba-tiba menjadi kurang mampu. Dan kita diharapkan memenuhi kebutuhannya, jika tidak maka bisa saja kita dituduh tidak berempati, kurang supportive dan lain-lain. Dan biasanya hubungan ini searah, yang satu mencurahkan yg lainnya menampung curahan tersebut.
Menjadi baik, mestinya ikhlas dalam memberi dan memberi bantuan, mestinya tidak menghitung seberapa banyak yang kita kontribusikan, gampang diucapkan tetapi sulit dilakukan. Sulit karena, tidak selamanya kita ada dalam kondisi pemberi sementara mereka yang terbiasa diberi terlanjur berharap, terlebih lagi jika mereka bukan dalam kondisi yang benar-benar membutuhkan pemberian tadi, tetapi hanya terbiasa menerima pemberian dan terus berharap akan situasi yang sama.
Lalu kemarin seorang teman mengirim pesan teduh: teruslah menebar kebaikan, semampu kita, seikhlas kita, karena kita tidak pernah tahu amal yg mana yang akan menjadi berkat kita kelak.
Tuesday, February 23, 2016
Monday, January 4, 2016
Resolusi awal tahun 2016
Sejujurnya, membuat resolusi awal tahun sudah lama tertinggal di belakang. Semakin bertambah usia, semakin banyak tempat yang di tinggali, semakin menjadi diri sendiri, resolusi ini bukan lagi bersifat tahunan, tetapi lebih ke refleksi ke dalam. Bersyukur atas hidup yang telah dijalani, apapun itu baik yang membuat tertawa ataupun sebaliknya.
Tulisan dari penulis favorit saya mengenai resolusi 2016 menjadi klimaks atas refleksi perjalanan delapan tahun terakhir. Lewat Alkemis, beliau menggugah jiwa muda saya untuk terus menjelajah, mencari dan mengalami hal-hal baru, mencari hikmah atas pengalaman. Lalu sekali lagi, lewat resolusi ini, beliau menangkap dan mensarikan perjalanan hidup yang kemungkinan dialami oleh siapa saja.
"Close some doors. Not because of pride, incapacity or arrogance, but simply because they no longer lead somewhere".`Paulo Coelho.
Adalah niscaya untuk mendekap segala yang pernah kita punya, kita miliki. Dengan melepaskan akan tercipta ruang bagi yang akan datang.
Tulisannya begitu mengena, dan saya ingin menyimpannya sebagai catatan disini untuk dikunjungi saat diperlukan...
CLOSING 2015
One always has to know when a stage comes to an end. If we insist on staying longer than the necessary time, we lose the happiness and the meaning of the other stages we have to go through.
Closing cycles, shutting doors, ending chapters – whatever name we give it, what matters is to leave in the past the moments of life that have finished.
Did you lose your job? Has a loving relationship come to an end? Did you leave your parents’ house? Gone to live abroad? Has a long-lasting friendship ended all of a sudden?
You can spend a long time wondering why this has happened.
---------------
Tulisan dari penulis favorit saya mengenai resolusi 2016 menjadi klimaks atas refleksi perjalanan delapan tahun terakhir. Lewat Alkemis, beliau menggugah jiwa muda saya untuk terus menjelajah, mencari dan mengalami hal-hal baru, mencari hikmah atas pengalaman. Lalu sekali lagi, lewat resolusi ini, beliau menangkap dan mensarikan perjalanan hidup yang kemungkinan dialami oleh siapa saja.
"Close some doors. Not because of pride, incapacity or arrogance, but simply because they no longer lead somewhere".`Paulo Coelho.
Adalah niscaya untuk mendekap segala yang pernah kita punya, kita miliki. Dengan melepaskan akan tercipta ruang bagi yang akan datang.
Tulisannya begitu mengena, dan saya ingin menyimpannya sebagai catatan disini untuk dikunjungi saat diperlukan...
CLOSING 2015
One always has to know when a stage comes to an end. If we insist on staying longer than the necessary time, we lose the happiness and the meaning of the other stages we have to go through.
Closing cycles, shutting doors, ending chapters – whatever name we give it, what matters is to leave in the past the moments of life that have finished.
Did you lose your job? Has a loving relationship come to an end? Did you leave your parents’ house? Gone to live abroad? Has a long-lasting friendship ended all of a sudden?
You can spend a long time wondering why this has happened.
You can tell yourself you won’t take another step until you find out
why certain things that were so important and so solid in your life have
turned into dust, just like that.
But such an attitude will be awfully stressing for everyone involved: your parents, your husband or wife, your friends, your children, your sister.
Everyone is finishing chapters, turning over new leaves, getting on with life, and they will all feel bad seeing you at a standstill.
Things pass, and the best we can do is to let them really go away.
That is why it is so important (however painful it may be!) to destroy souvenirs, move, give lots of things away to orphanages, sell or donate the books you have at home.
Everything in this visible world is a manifestation of the invisible world, of what is going on in our hearts – and getting rid of certain memories also means making some room for other memories to take their place.
Let things go. Release them. Detach yourself from them.
Nobody plays this life with marked cards, so sometimes we win and sometimes we lose.
Do not expect anything in return, do not expect your efforts to be appreciated, your genius to be discovered, your love to be understood.
Stop turning on your emotional television to watch the same program over and over again, the one that shows how much you suffered from a certain loss: that is only poisoning you, nothing else.
Nothing is more dangerous than not accepting love relationships that are broken off, work that is promised but there is no starting date, decisions that are always put off waiting for the “ideal moment.”
Before a new chapter is begun, the old one has to be finished: tell yourself that what has passed will never come back.
Remember that there was a time when you could live without that thing or that person – nothing is irreplaceable, a habit is not a need.
This may sound so obvious, it may even be difficult, but it is very important.
Closing cycles. Not because of pride, incapacity or arrogance, but simply because that no longer fits your life.
Shut the door, change the record, clean the house, shake off the dust.
Stop being who you were, and change into who you are.
Paulo Coelho
But such an attitude will be awfully stressing for everyone involved: your parents, your husband or wife, your friends, your children, your sister.
Everyone is finishing chapters, turning over new leaves, getting on with life, and they will all feel bad seeing you at a standstill.
Things pass, and the best we can do is to let them really go away.
That is why it is so important (however painful it may be!) to destroy souvenirs, move, give lots of things away to orphanages, sell or donate the books you have at home.
Everything in this visible world is a manifestation of the invisible world, of what is going on in our hearts – and getting rid of certain memories also means making some room for other memories to take their place.
Let things go. Release them. Detach yourself from them.
Nobody plays this life with marked cards, so sometimes we win and sometimes we lose.
Do not expect anything in return, do not expect your efforts to be appreciated, your genius to be discovered, your love to be understood.
Stop turning on your emotional television to watch the same program over and over again, the one that shows how much you suffered from a certain loss: that is only poisoning you, nothing else.
Nothing is more dangerous than not accepting love relationships that are broken off, work that is promised but there is no starting date, decisions that are always put off waiting for the “ideal moment.”
Before a new chapter is begun, the old one has to be finished: tell yourself that what has passed will never come back.
Remember that there was a time when you could live without that thing or that person – nothing is irreplaceable, a habit is not a need.
This may sound so obvious, it may even be difficult, but it is very important.
Closing cycles. Not because of pride, incapacity or arrogance, but simply because that no longer fits your life.
Shut the door, change the record, clean the house, shake off the dust.
Stop being who you were, and change into who you are.
Paulo Coelho
---------------
Tuesday, September 29, 2015
Melbourne on a weekend (Berakhir pekan di Melbourne)
Perjalanan ke Melbourne is quite unplanned. Bermula dari keinginin mengikuti pre-confrence workshop mengenai monitoring dan evaluasi yang di selenggarakan Asosiasi Evaluator Australia (AEA). Maka saya pun akhirnya menginjakkan kaki di Melboune awal September 15, lalu.
Sky Bus
Dengan penerbangan pagi dari Brisbane, penerbangan dengan cuaca yg cukup nyaman, pesawat touched down di Tullamarine Airport pukul 9 pagi. Tak sulit untuk mencapai pusat kota (CBD), Sky Bus berwarna merah telah menanti di depan terminal 3 dan dalam waktu 20 menit bus tersebut tiba di kawasan Dockland. Bagi yang senang dengan transportasi lokal pilihan sky bus ini selain ekonomis juga praktis. Karena bus mengantarkan kita langsung ke CBD.
Salah satu yang saya sukai dari Melbourne adalah transportasi gratis selama dalam kawasan CBD. Dan yang lebih menyenangkan lagi ada tram city circle (routes 35) yang mengelilingi CBD selama lebih kurang 45-50 menit yang bisa dipakai buat hop on/off mengunjungi berbagai pusat wisata di kota ini. Bagi wisatawan yang akan ke Melbourne ada baiknya mencermati rute tram ini untuk menyusun itenerary.
Setibanya di Southern Cross terminal, saya berjalan kaki dua blok menunggu tram yang akan membawa saya ke Victoria Market, tetapi dua stasiun sebelumnya saya memutuskan turun dari tram dan menyusuri Elizabeth street CBD yang baru mulai bergeliat di pagi hari. Warung-warung kopi dan pertokoan baru mulai buka dan aromanya menyesap ke udara. Pada satu toko saya melihat banyak sekali orang yang antri, biasanya ini pertanda makanan enak! Sekilas saya teringat menemukan pizza yang sangat lezat di salah satu jalan kecil di Roma, yang saya cicipi setelah melihat antrian yang panjang. Demikianlah, pagi itu satu cangkir kopi, sepotong gozleme dengan bayam dan keju menyapa perut saya dan membuat perkenalan yang menyenangkan dengan Melbourne.
Setelah bertemu dengan K sahabat lama saya, lalu checked in di apartemennya yang terletak satu blok dari Victoria Market, kami berjalan menuju University of Melbourne, untuk mengecek lokasi workshop keesokan harinya. Meninggalkan Asia Myer Centre, kami melewati toko underground yang menjual pakaian dengan potongan harga. Toko berukuran sedang ini cukup menakjubkan, berbagai fashion label asal Amerika dijual disana dengan potongan harga 40-50%. Bagi yang pernah ke OZ, mungkin paham bahwa disini lebih banyak fashion bermerk lokal yang tersedia. Memasuki toko itu serasa kembali ke Macy's atau Nordstrom, hanya saja dengan jumlah terbatas dan harga miring. Untunglah kami berdua lepas dari jebakan shopping yang pertama ini.
Tak jauh dari toko itu, kami melihat restoran Norsiah di Carlton St, restoran rasa Malaysia yang sangat ramai, iseng kami ikut ngantri ke dalam, ternyata makanan yang familiar dengan lidah kita tersaji dibalik etalase kaca. Maka kamipun menikmati nasi campur dengan rendang dengan merogoh kocek $6 saja. Ciyus! Masih kaget menemukan makanan dengan harga ini di OZ.
Shopping di Richmond
Lalu kami menghabiskan sisa hari di wilayah Richmond. Teman kuliah K menyarankan kami jjs ke tempat ini. Benar saja, begitu turun dari tram, kami langsung kalap melihat begitu banyak toko yang sale di sepanjang jalan. Dan menjadi konsumer terakhir penutup toko dan kembali dengan berbagai jinjingan di tangan :)
Lygon street
Minggu pagi, kami sarapan di Brunetti kafe di Lygon St, jalan ini semacam Little Italy-nya kota Melbourne. Kami juga janjian dengan si uni yang merupakan kenalan lama di Qld. Jadilah pagi itu kami bertiga menikmati kopi, plus salmon baguette buat saya. Ah sekilas, tempat ini mengingatkan akan Paul's di Washington DC, kafe di dekat kantor dulu dengan baguette-nya yang super yummy!
Mengingat satu hari habis terpakai untuk mengikuti workshop dan itenerary yang tidak begitu ambisius kali ini, maka dua hari yang tersisa di Melbourne benar-benar digunakan untuk leyeh-leyeh. Entah mengapa, biasanya saya ambisius dengan daftar tempat yang ingin dikunjungi tetapi kali ini, bertemu K saja rasanya sudah menyenangkan. Selain dulunya sama-sama bekerja di organisasi yang sama, sesekali kami juga travel bersama. Dalam kurun 9 tahun belakangan tak selalu kami dapat bertemu, tetapi jika ada kesempatan meski hanya ngopi satu jam, ngupdate kehidupan terkini terasa lebih dari cukup. Mungkin benar kata banyak orang, persahabatan tidak mesti dilihat dari jumlah waktu yang dihabiskan bersama.
Hosier Lane Street Art
Jika di kebanyakan kota, graffiti di larang, maka di Melbourne seni ini di akomodir. Salah satunya di Hosier lane. Disini dinding dinding bangunan di lorong Hosier di penuhi graffiti dan mural berukuran besar. Tak jauh dari tempat ini di Devgrave st, juga terdapat underpass yang menjadi ajang seniman berekspresi. Di sepanjang Devgrave juga terdapat berbagai tempat ngopi asik.
Victoria Market
Rasanya sudah lama sekali tidak menjajal pusat pasar tradisional. Lokasinya yang berjarak satu blok dari penginapan membuat kami mendatangi Victoria Market pada Minggu pagi. Kami memasuki dari bagian penjualan daging, berbagai macam daging di jual disana, sekilas mengingatkan akan Mercado de Joseph-nya Barcelona. Tetapi jika disana stall-nya dihiasi buah-buahan aneka warna dan cured meats, maka di tempat ini justru butcher-nya yang berjaya. Kami berjalan ke bagian belakang dimana musisi jalanan mulai beraksi, dan beberapa pengunjung larut dalam gerak tubuh mengikuti lantunan irama, sementara yang lainnya antri di warung kopi. Di bagian belakang kami mendatangi stall pakaian kulit, jaket, coat, tas, dompet dan berbagai barang lainnya terpajang disini. Demikian juga sepatu-sepatu dengan harga miring. Dibandingkan membeli di toko-toko di pusat perbelanjaan, harga di Victoria Market jauh lebih ramah. Jacket kulit yg biasanya diharga $300 bisa di dapat disini separuh harga.
Tak banyak tempat yang didatangi kali ini, menjelang sore kami menaiki city circle tram dan membuat mental note, akan tempat-tempat yg perlu didatangi pada kunjungan berikutnya.
Investasi
Tiket pp Brisbane-Melb $300-an
Mamak restoran CBD $6-13
Borek Bakehouse $2-6
Brunetti Cafe $4-$18
Norsiah, Malaysian restaurant $6
Indian Resto Lygon Street $15
Sky Bus
Dengan penerbangan pagi dari Brisbane, penerbangan dengan cuaca yg cukup nyaman, pesawat touched down di Tullamarine Airport pukul 9 pagi. Tak sulit untuk mencapai pusat kota (CBD), Sky Bus berwarna merah telah menanti di depan terminal 3 dan dalam waktu 20 menit bus tersebut tiba di kawasan Dockland. Bagi yang senang dengan transportasi lokal pilihan sky bus ini selain ekonomis juga praktis. Karena bus mengantarkan kita langsung ke CBD.
Salah satu yang saya sukai dari Melbourne adalah transportasi gratis selama dalam kawasan CBD. Dan yang lebih menyenangkan lagi ada tram city circle (routes 35) yang mengelilingi CBD selama lebih kurang 45-50 menit yang bisa dipakai buat hop on/off mengunjungi berbagai pusat wisata di kota ini. Bagi wisatawan yang akan ke Melbourne ada baiknya mencermati rute tram ini untuk menyusun itenerary.
Setibanya di Southern Cross terminal, saya berjalan kaki dua blok menunggu tram yang akan membawa saya ke Victoria Market, tetapi dua stasiun sebelumnya saya memutuskan turun dari tram dan menyusuri Elizabeth street CBD yang baru mulai bergeliat di pagi hari. Warung-warung kopi dan pertokoan baru mulai buka dan aromanya menyesap ke udara. Pada satu toko saya melihat banyak sekali orang yang antri, biasanya ini pertanda makanan enak! Sekilas saya teringat menemukan pizza yang sangat lezat di salah satu jalan kecil di Roma, yang saya cicipi setelah melihat antrian yang panjang. Demikianlah, pagi itu satu cangkir kopi, sepotong gozleme dengan bayam dan keju menyapa perut saya dan membuat perkenalan yang menyenangkan dengan Melbourne.
Setelah bertemu dengan K sahabat lama saya, lalu checked in di apartemennya yang terletak satu blok dari Victoria Market, kami berjalan menuju University of Melbourne, untuk mengecek lokasi workshop keesokan harinya. Meninggalkan Asia Myer Centre, kami melewati toko underground yang menjual pakaian dengan potongan harga. Toko berukuran sedang ini cukup menakjubkan, berbagai fashion label asal Amerika dijual disana dengan potongan harga 40-50%. Bagi yang pernah ke OZ, mungkin paham bahwa disini lebih banyak fashion bermerk lokal yang tersedia. Memasuki toko itu serasa kembali ke Macy's atau Nordstrom, hanya saja dengan jumlah terbatas dan harga miring. Untunglah kami berdua lepas dari jebakan shopping yang pertama ini.
Tak jauh dari toko itu, kami melihat restoran Norsiah di Carlton St, restoran rasa Malaysia yang sangat ramai, iseng kami ikut ngantri ke dalam, ternyata makanan yang familiar dengan lidah kita tersaji dibalik etalase kaca. Maka kamipun menikmati nasi campur dengan rendang dengan merogoh kocek $6 saja. Ciyus! Masih kaget menemukan makanan dengan harga ini di OZ.
Shopping di Richmond
Lalu kami menghabiskan sisa hari di wilayah Richmond. Teman kuliah K menyarankan kami jjs ke tempat ini. Benar saja, begitu turun dari tram, kami langsung kalap melihat begitu banyak toko yang sale di sepanjang jalan. Dan menjadi konsumer terakhir penutup toko dan kembali dengan berbagai jinjingan di tangan :)
Lygon street
Minggu pagi, kami sarapan di Brunetti kafe di Lygon St, jalan ini semacam Little Italy-nya kota Melbourne. Kami juga janjian dengan si uni yang merupakan kenalan lama di Qld. Jadilah pagi itu kami bertiga menikmati kopi, plus salmon baguette buat saya. Ah sekilas, tempat ini mengingatkan akan Paul's di Washington DC, kafe di dekat kantor dulu dengan baguette-nya yang super yummy!
Mengingat satu hari habis terpakai untuk mengikuti workshop dan itenerary yang tidak begitu ambisius kali ini, maka dua hari yang tersisa di Melbourne benar-benar digunakan untuk leyeh-leyeh. Entah mengapa, biasanya saya ambisius dengan daftar tempat yang ingin dikunjungi tetapi kali ini, bertemu K saja rasanya sudah menyenangkan. Selain dulunya sama-sama bekerja di organisasi yang sama, sesekali kami juga travel bersama. Dalam kurun 9 tahun belakangan tak selalu kami dapat bertemu, tetapi jika ada kesempatan meski hanya ngopi satu jam, ngupdate kehidupan terkini terasa lebih dari cukup. Mungkin benar kata banyak orang, persahabatan tidak mesti dilihat dari jumlah waktu yang dihabiskan bersama.
Hosier Lane Street Art
Jika di kebanyakan kota, graffiti di larang, maka di Melbourne seni ini di akomodir. Salah satunya di Hosier lane. Disini dinding dinding bangunan di lorong Hosier di penuhi graffiti dan mural berukuran besar. Tak jauh dari tempat ini di Devgrave st, juga terdapat underpass yang menjadi ajang seniman berekspresi. Di sepanjang Devgrave juga terdapat berbagai tempat ngopi asik.
Victoria Market
Rasanya sudah lama sekali tidak menjajal pusat pasar tradisional. Lokasinya yang berjarak satu blok dari penginapan membuat kami mendatangi Victoria Market pada Minggu pagi. Kami memasuki dari bagian penjualan daging, berbagai macam daging di jual disana, sekilas mengingatkan akan Mercado de Joseph-nya Barcelona. Tetapi jika disana stall-nya dihiasi buah-buahan aneka warna dan cured meats, maka di tempat ini justru butcher-nya yang berjaya. Kami berjalan ke bagian belakang dimana musisi jalanan mulai beraksi, dan beberapa pengunjung larut dalam gerak tubuh mengikuti lantunan irama, sementara yang lainnya antri di warung kopi. Di bagian belakang kami mendatangi stall pakaian kulit, jaket, coat, tas, dompet dan berbagai barang lainnya terpajang disini. Demikian juga sepatu-sepatu dengan harga miring. Dibandingkan membeli di toko-toko di pusat perbelanjaan, harga di Victoria Market jauh lebih ramah. Jacket kulit yg biasanya diharga $300 bisa di dapat disini separuh harga.
Tak banyak tempat yang didatangi kali ini, menjelang sore kami menaiki city circle tram dan membuat mental note, akan tempat-tempat yg perlu didatangi pada kunjungan berikutnya.
Investasi
Tiket pp Brisbane-Melb $300-an
Mamak restoran CBD $6-13
Borek Bakehouse $2-6
Brunetti Cafe $4-$18
Norsiah, Malaysian restaurant $6
Indian Resto Lygon Street $15
Wednesday, August 19, 2015
Eat, Pray and Swim di Sabang dan Banda Aceh
Lebaran tahun ini, kami memutuskan mudik selama satu bulan. Kerinduan akan suasana Ramadhan di tanah air membuat kami terbang seminggu sebelum lebaran. Berbeda dari pengalaman sebelumnya dimana waktu mudik di sertai dengan perjalanan ke Bali atau Lombok, kali ini kami memutuskan transit di Singapura dan melanjutkan ke Kuala Namu.
Ada insiden menggelikan di airport saat kedatangan, ketika mendekati pos imigrasi, si petugas mengatakan bahwa WNA yang tinggal bersama keluarga selama di Indonesia harus membayar visa. Tetapi jika mereka tinggal di hotel maka akan bebas visa. Pernyataan yg cukup konyol, apalagi di tengah era informasi saat ini dimana pemerintah telah mengeluarkan daftar negara-negara yang penduduknya dibebaskan dari pembayaran visa saat berkunjung ke Indonesia. Bagi saya pribadi, ini bukanlah masalah jumlah uangnya, tetapi komitmen untuk tidak membantu korupsi. Lalu ketika saya meminta surat resmi dari dept imigrasi mengenai ketentuan tersebut, si petugas langsung meminta kami menuju pos kedatangan tempat stempel passpor. Memang, kadang di Medan ini kita perlu agak "parbada" agar tidak mudah tertipu.
Demikianlah, setelah lebaran usai dan satu persatu saudara saya mulai kembali ke kota masing-masing, kami mulai merencanakan perjalanan ke Sabang. Dari Medan, ada dua opsi bagi wisatawan menuju Sabang: opsi pertama dengan pesawat Garuda yang terbang tiga kali dalam seminggu dengan harga tiket dibandrol sekitar lima ratus ribu rupiah, atau lewat jalan darat menuju Banda Aceh, lalu melanjutkan dengan kapal (termasuk kapal cepat) dari pelabuhan Ulee Lee menuju pelabuhan Haloban.
Simpati Star
Kami memutuskan jalan darat dengan menumpang bus Simpati Star, dengan armada bus Scania dari Swedia yang di poles sedemikian rupa dengan bangku 2-1 dan kursi yang lega dan "shiny". Medan-Banda Aceh di bandrol 375 ribu per kursi (harga lebaran) dan di tempuh kurang lebih 7-8 jam. Bus ini dilengkapi wifi tetapi tidak ada colokan listrik. Sepanjang perjalanan bus melaju kencang dan saling kejar-mengejar hingga tiba di Banda. Jalan mulus sepanjang rute ini nampaknya mendukung kebut-kebutan pak supir.
Tiba di Banda, kami menyewa mobil yang mengantarkan kami ke pelabuhan, untuk 6 orang kami membayar dua ratus ribu rupiah. Orang sudah ramai di pelabuhan saat kami tiba, mengejar penyeberangan pagi dengan kapal cepat. Untunglah masih ada tiket yang tersedia, di ruang bagian atas kapal dengan pendingin seharga 105 ribu rupiah per kursi. Gelombang laut lumayan ramah pagi itu, tanpa terasa 45 menit penyebrangan ke Sabang berjalan mulus.
Sebelum berangkat kami mengontak beberapa penginapan, Iboih Inn dan Sumur Tiga sudah penuh hingga dua minggu ke depan, alternatif selanjutnya adalah Yulia's, penginapan di sebelah Iboih Inn ini posisinya paling akhir di teluk Iboih. Ketika tiba di Iboih, staf dari Iboih Inn menjemput kami dari tempat drop off. Dengan cekatan ia menaikkan barang ke atas boat dan dalam waktu lima menit, satu persatu memanjat ke pier Julia inn untuk check in.
Yulia's
Begitu naik ke pier Yulia's, saya memandang takjub ke bawah. Air laut yang jernih terhampar di depan mata, seakan mengundang untuk nyebur saat itu juga. Beberapa turis asing melompat ke dalam air dan mengambang diatas punggung mereka, membuat kami pun ingin bersegera berendam di air.
Cottages Yulia's berjejer di sepanjang bibir pantai diikuti dua baris bungalow di belakangnya, berjejer di perbukitan. Lumayanlah, kasur spring bed, AC, TV dan kamar mandi di dalam, balkoni yang luas dilengkapi hammock. Dengan pemandangan ini saya ga yakin TV tersebut akan bermanfaat dalam liburan ini.
Segera saja, dua keponakan saya, Igor dan Ogu meminta berenang, saya volunteeran menemani mereka, tak berapa lama, sudah ada tiga anak lelaki kecil, yang satu lagi adalah Ammar, putera bungsu pemilik penginapan. Ketiganya tak berhenti melompat, berenang, dan bercengkrama hingga matahari mulai beranjak dan air laut naik. Ketiganya menjadi tak terpisahkan, bermain hingga menjelang tidur dan pagi-pagi sekali Ammar sudah menunggu kedua temannya di balkoni, tak sabar ingin bermain bersama.
Sore itu kami menghabiskan waktu menikmati indahnya langit teluk Sabang saat matahari terbenam. Kegiatan yang nyaris tak terlewatkan selama kami disana selama beberapa hari ke depan, di temani sebuah buku, secangkir kopi dan donat kampung yang di beli di pantai Iboih.
Pantai Iboih
Sekilas kami melihat pantai ini ketika menaiki boat menuju Yulia's. Saya ingat ketika saya ke Iboih beberapa tahun lalu, perahu yang kami sewa untuk snorkeling trip mengantarkan kami ke pantai tersebut untuk makan siang. Pantai kecil berpasir putih, lengkap dengan pepohonan rindang. Persis seperti yang kami idamkan.
Tak sulit untuk menemukan ikan saat snorkelling di Iboih, lion star, nemo dan bermacam ikan dengan mudah di temui di depan Yulia's. Salah seorang tamu bahkan sempat berenang dengan penyu. Sedangkan di pantai iboih, segerombolan ikan dengan ukuran cukup besar bisa dijumpai dari jarak tiga hingga empat meter dari bibir pantai, dengan suara khas yang tercipta ketika mereka menggigit karang mencari makanan.
Entah mengapa, pantai luas memanjang seperti Kuta maupun Surfer Paradise tak menarik buat kami. Sehingga kami selalu memilih mengunjugi pantai-pantai kecil dengan pepohonan tempat berteduh dari teriknya matahari. Lebih afdol lagi kalau di tempat itu ada dijual kelapa muda segar, dijamin deh, berenang, tidur siang sambil membaca buku akan semakin asik!
Cafe Olala
Jika ada yang perlu ditingkatkan di Iboih, saya kira restoran dengan menu yang bervariasi terutama dengan bahan ikan dan seafood adalah jawabnya. Selama beberapa hari praktis kami hanya makan di Yulia's, terkadang di warung makan dekat pantai Iboih dengan menu masakan lokal dan makan malam di Cafe Olala. Menu di Yulia's cukup sederhana bagi lidah kami, kari ikan-nya bisa di rekomendasikan. Sementara di Olala, udang asam pedasnya lumayan enak, tetapi makanan datangnya agak lama mengingat banyaknya wisatawan yang pergi kesini. Kentang goreng baik di Yulia's maupun di Olala sama gurihnya. Seringkali ketika memesan menu, terkadang bahannya tidak tersedia. Saya berharap semoga suatu hari ada restoran khas seafood yang buka di Iboih.
Tak terasa, kami memasuki hari-hari terakhir di Sabang, keponakan dan teman barunya sudah tak terpisahkan, Ammar mengantar mereka yang kembali lebih awal ke pier, di atas boat dia duduk menyendiri, tampaknya tak percaya teman barunya akan segera pergi. Ketika Igo dan Ogu turun dari kapal, Ammar membuang muka, ah! kami pun terharu dibuatnya. Dia masih memilih menyendiri ketika mereka ingin mengucapkan selamat tinggal, saya tak bisa membayangkan berapa kali ia mengalami kejadian seperti ini, berteman dengan anak-anak yang berkunjung ke Yulia's dan bersedih ketika liburan mereka usai, mungkin itu juga yang membuat Ammar yang berusia empat tahun terlihat lebih matang dari usianya.
Banda Aceh
Kami melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, dengan berat hati tentunya, jernihnya taman air laut Sabang, hammock di Yulia's serta angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang di pantai Iboih membuat kami merasa betah berlama-lama disana. Teman kami, kak Sari seorang dosen di IAIN Banda Aceh membantu mencarikan mobil sewa yang akan mengantar kami berkeliling di Banda Aceh. Tujuan pertama adalah Mesjid Raya, di mesjid yang luas dan bersih ini kami melaksanakan shalat Zuhur dan bercerita tentang Aceh pasca tsunami. Terus terang dulu saya bolak balik ke Banda Aceh ketika bekerja di lembaga internasional humanitarian, tetapi kesibukan saat itu membuat saya tak bisa menapakkan kaki disini, demikian juga ketika sudah sampai di gerbang mesjid beberapa tahun lalu, kami tak diijinkan masuk karena hanya memakai kulot panjang dan tidak mengenakan rok. Demikianlah, jauh-jauh hari saya menyiapkan rok dan memasukkan ke dalam koper, agar bisa mengunjungi masjid Baiturrahman ini.
Museum Tsunami
Kami menyempatkan diri mengunjungi museum tsunami. Dengan lorong gelapnya diperciki air sempat membuat hati ini agak ciut ketika masuk. Terbayang kembali liputan TV di tanah air ketika tsunami melanda, di salah satu sisi terdapat ruangan gelap dengan corong di langit-langitnya bermuarakan kepada tulisan Allah. Nama-nama korban tertulis rapi di dinding ruangan tersebut, begitu syahdunya tempat ini, seketika air mata meleleh mengingat saat-saat mereka bertarung dengan maut dan doa terpanjatkan semoga mereka mendapat tempat kembali yang lebih baik di sisiNYA. Kami juga menelusiri lantai atas yang berisi pengetahuan penting tentang terjadinya gempa dan tsunami serta catatan mengenai lembaga-lembaga humanitarian yang berkiprah di Aceh pasca tsunami. Seketika saya melihat lambang palang merah dan bulan sabit merah di salah satu sudutnya, mengingatkan saya kembali ke situasi di awal tsunami, dimana kami bekerja dalam jam panjang membuat perencanaan, membahasnya dalam rapat, menyiapkan relawan dan bala bantuan, hingga beberapa tahun sesudahnya ketika merampungkan masa-masa pemulihan.
Rumah Makan Aceh Rayeuk "Hasan III"
Kak Sari membawa kami ke rumah makan Aceh Rayeuk, segera saja berbagai menu sedap terhidang dalam piring-piring kecil, bebek goreng, ayam tangkap, kuah Pliek U, Ungkot Kemamah, Lobster dan berbagai macam sambal memenuhi meja panjang. Sungguh sedap sekali!
Pantai Lampuuk
Selepas makan, pak supir mengarahkan mobil ke arah pantai Lampuuk, pantai indah berpasir putih dengan gugusan karang di tepinya. Segera saja kami bertiga mengambil posisi nyaman, berbaring di pantai pasir putih tersebut. Sedikit saya menyesali, mengapa dulu terlalu sok serius bekerja sehingga perjalanan tiap minggu ke Banda Aceh dihabiskan di kantor dan penginapan saja. Alangkah beruntungnya warga Banda Aceh memiliki pantai seindah ini! Pada perjalanan pulang kami melewati perkampungan dengan ukuran dan lambang rumah yang seragam, tampaknya bantuan dari pemerintah Turki. Saya bertanya-tanya apakah setiap donor melakukan hal yang sama? meninggalkan logo masing-masing di rumah yang mereka bangun? Menurut kak Sari, dulunya jalanan di perkampungan ini juga memakai nama-nama Turki, namun beberapa tahun kemudian warga mengembalikannya ke nama-nama lokal.
Warung Kopi
Tidak klop singgah ke Banda Aceh tanpa singgah di kedai kopi. Jika pada pagi hari kami sarapan di kedai Solong maka sore harinya sebelum bertolak ke Medan kak Sari membawa kami ke kafe Sada di Lampriet, menunya beragam dari Espresso, Capuccino, Ice Coffee, hingga yang divariasikan dengan cincau. Sungguh nikmat sekali rasa kopinya, kopi gayo lokal di roast dengan sempurna, ditemani dengan camilan pisang goreng, menutup sore itu. Saya membeli dua kantung bubuk kopi untuk di bawa sebagai oleh-oleh. Entahlah setelah menyeruput kopi sada, saya tak tertarik dengan warkop lainnya. Semoga kafe Sada bisa mempertahankan mutu kopinya ke depan. Dan tentunya terima kasih buat kak Sari yang sudah meluangkan waktunya menemani kami.
Demikianlah oleh oleh cerita dari Sabang dan Aceh, kami berharap bisa kembali lagi kesana pada lain kesempatan.
Investasi:
Penginapan di Sabang: Iboih Inn, Yulia's (300 ribu-500 ribu)
Makanan : kurleb 35 ribu per porsi di penginapan; lebih murah di warung lokal
Transport: 75 ribu per orang dari Balohan ke Iboih; 105 ribu per orang kapal cepat Banda Aceh-Balohan, 250.000-500.000 (bus/ pesawat dari Medan), 500 ribu sewa mobil di Banda Aceh
Ada insiden menggelikan di airport saat kedatangan, ketika mendekati pos imigrasi, si petugas mengatakan bahwa WNA yang tinggal bersama keluarga selama di Indonesia harus membayar visa. Tetapi jika mereka tinggal di hotel maka akan bebas visa. Pernyataan yg cukup konyol, apalagi di tengah era informasi saat ini dimana pemerintah telah mengeluarkan daftar negara-negara yang penduduknya dibebaskan dari pembayaran visa saat berkunjung ke Indonesia. Bagi saya pribadi, ini bukanlah masalah jumlah uangnya, tetapi komitmen untuk tidak membantu korupsi. Lalu ketika saya meminta surat resmi dari dept imigrasi mengenai ketentuan tersebut, si petugas langsung meminta kami menuju pos kedatangan tempat stempel passpor. Memang, kadang di Medan ini kita perlu agak "parbada" agar tidak mudah tertipu.
Demikianlah, setelah lebaran usai dan satu persatu saudara saya mulai kembali ke kota masing-masing, kami mulai merencanakan perjalanan ke Sabang. Dari Medan, ada dua opsi bagi wisatawan menuju Sabang: opsi pertama dengan pesawat Garuda yang terbang tiga kali dalam seminggu dengan harga tiket dibandrol sekitar lima ratus ribu rupiah, atau lewat jalan darat menuju Banda Aceh, lalu melanjutkan dengan kapal (termasuk kapal cepat) dari pelabuhan Ulee Lee menuju pelabuhan Haloban.
Simpati Star
Kami memutuskan jalan darat dengan menumpang bus Simpati Star, dengan armada bus Scania dari Swedia yang di poles sedemikian rupa dengan bangku 2-1 dan kursi yang lega dan "shiny". Medan-Banda Aceh di bandrol 375 ribu per kursi (harga lebaran) dan di tempuh kurang lebih 7-8 jam. Bus ini dilengkapi wifi tetapi tidak ada colokan listrik. Sepanjang perjalanan bus melaju kencang dan saling kejar-mengejar hingga tiba di Banda. Jalan mulus sepanjang rute ini nampaknya mendukung kebut-kebutan pak supir.
Tiba di Banda, kami menyewa mobil yang mengantarkan kami ke pelabuhan, untuk 6 orang kami membayar dua ratus ribu rupiah. Orang sudah ramai di pelabuhan saat kami tiba, mengejar penyeberangan pagi dengan kapal cepat. Untunglah masih ada tiket yang tersedia, di ruang bagian atas kapal dengan pendingin seharga 105 ribu rupiah per kursi. Gelombang laut lumayan ramah pagi itu, tanpa terasa 45 menit penyebrangan ke Sabang berjalan mulus.
Sebelum berangkat kami mengontak beberapa penginapan, Iboih Inn dan Sumur Tiga sudah penuh hingga dua minggu ke depan, alternatif selanjutnya adalah Yulia's, penginapan di sebelah Iboih Inn ini posisinya paling akhir di teluk Iboih. Ketika tiba di Iboih, staf dari Iboih Inn menjemput kami dari tempat drop off. Dengan cekatan ia menaikkan barang ke atas boat dan dalam waktu lima menit, satu persatu memanjat ke pier Julia inn untuk check in.
Yulia's
Begitu naik ke pier Yulia's, saya memandang takjub ke bawah. Air laut yang jernih terhampar di depan mata, seakan mengundang untuk nyebur saat itu juga. Beberapa turis asing melompat ke dalam air dan mengambang diatas punggung mereka, membuat kami pun ingin bersegera berendam di air.
Cottages Yulia's berjejer di sepanjang bibir pantai diikuti dua baris bungalow di belakangnya, berjejer di perbukitan. Lumayanlah, kasur spring bed, AC, TV dan kamar mandi di dalam, balkoni yang luas dilengkapi hammock. Dengan pemandangan ini saya ga yakin TV tersebut akan bermanfaat dalam liburan ini.
Segera saja, dua keponakan saya, Igor dan Ogu meminta berenang, saya volunteeran menemani mereka, tak berapa lama, sudah ada tiga anak lelaki kecil, yang satu lagi adalah Ammar, putera bungsu pemilik penginapan. Ketiganya tak berhenti melompat, berenang, dan bercengkrama hingga matahari mulai beranjak dan air laut naik. Ketiganya menjadi tak terpisahkan, bermain hingga menjelang tidur dan pagi-pagi sekali Ammar sudah menunggu kedua temannya di balkoni, tak sabar ingin bermain bersama.
Sore itu kami menghabiskan waktu menikmati indahnya langit teluk Sabang saat matahari terbenam. Kegiatan yang nyaris tak terlewatkan selama kami disana selama beberapa hari ke depan, di temani sebuah buku, secangkir kopi dan donat kampung yang di beli di pantai Iboih.
Pantai Iboih
Sekilas kami melihat pantai ini ketika menaiki boat menuju Yulia's. Saya ingat ketika saya ke Iboih beberapa tahun lalu, perahu yang kami sewa untuk snorkeling trip mengantarkan kami ke pantai tersebut untuk makan siang. Pantai kecil berpasir putih, lengkap dengan pepohonan rindang. Persis seperti yang kami idamkan.
Tak sulit untuk menemukan ikan saat snorkelling di Iboih, lion star, nemo dan bermacam ikan dengan mudah di temui di depan Yulia's. Salah seorang tamu bahkan sempat berenang dengan penyu. Sedangkan di pantai iboih, segerombolan ikan dengan ukuran cukup besar bisa dijumpai dari jarak tiga hingga empat meter dari bibir pantai, dengan suara khas yang tercipta ketika mereka menggigit karang mencari makanan.
Entah mengapa, pantai luas memanjang seperti Kuta maupun Surfer Paradise tak menarik buat kami. Sehingga kami selalu memilih mengunjugi pantai-pantai kecil dengan pepohonan tempat berteduh dari teriknya matahari. Lebih afdol lagi kalau di tempat itu ada dijual kelapa muda segar, dijamin deh, berenang, tidur siang sambil membaca buku akan semakin asik!
Cafe Olala
Jika ada yang perlu ditingkatkan di Iboih, saya kira restoran dengan menu yang bervariasi terutama dengan bahan ikan dan seafood adalah jawabnya. Selama beberapa hari praktis kami hanya makan di Yulia's, terkadang di warung makan dekat pantai Iboih dengan menu masakan lokal dan makan malam di Cafe Olala. Menu di Yulia's cukup sederhana bagi lidah kami, kari ikan-nya bisa di rekomendasikan. Sementara di Olala, udang asam pedasnya lumayan enak, tetapi makanan datangnya agak lama mengingat banyaknya wisatawan yang pergi kesini. Kentang goreng baik di Yulia's maupun di Olala sama gurihnya. Seringkali ketika memesan menu, terkadang bahannya tidak tersedia. Saya berharap semoga suatu hari ada restoran khas seafood yang buka di Iboih.
Tak terasa, kami memasuki hari-hari terakhir di Sabang, keponakan dan teman barunya sudah tak terpisahkan, Ammar mengantar mereka yang kembali lebih awal ke pier, di atas boat dia duduk menyendiri, tampaknya tak percaya teman barunya akan segera pergi. Ketika Igo dan Ogu turun dari kapal, Ammar membuang muka, ah! kami pun terharu dibuatnya. Dia masih memilih menyendiri ketika mereka ingin mengucapkan selamat tinggal, saya tak bisa membayangkan berapa kali ia mengalami kejadian seperti ini, berteman dengan anak-anak yang berkunjung ke Yulia's dan bersedih ketika liburan mereka usai, mungkin itu juga yang membuat Ammar yang berusia empat tahun terlihat lebih matang dari usianya.
Banda Aceh
Kami melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, dengan berat hati tentunya, jernihnya taman air laut Sabang, hammock di Yulia's serta angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang di pantai Iboih membuat kami merasa betah berlama-lama disana. Teman kami, kak Sari seorang dosen di IAIN Banda Aceh membantu mencarikan mobil sewa yang akan mengantar kami berkeliling di Banda Aceh. Tujuan pertama adalah Mesjid Raya, di mesjid yang luas dan bersih ini kami melaksanakan shalat Zuhur dan bercerita tentang Aceh pasca tsunami. Terus terang dulu saya bolak balik ke Banda Aceh ketika bekerja di lembaga internasional humanitarian, tetapi kesibukan saat itu membuat saya tak bisa menapakkan kaki disini, demikian juga ketika sudah sampai di gerbang mesjid beberapa tahun lalu, kami tak diijinkan masuk karena hanya memakai kulot panjang dan tidak mengenakan rok. Demikianlah, jauh-jauh hari saya menyiapkan rok dan memasukkan ke dalam koper, agar bisa mengunjungi masjid Baiturrahman ini.
Museum Tsunami
Kami menyempatkan diri mengunjungi museum tsunami. Dengan lorong gelapnya diperciki air sempat membuat hati ini agak ciut ketika masuk. Terbayang kembali liputan TV di tanah air ketika tsunami melanda, di salah satu sisi terdapat ruangan gelap dengan corong di langit-langitnya bermuarakan kepada tulisan Allah. Nama-nama korban tertulis rapi di dinding ruangan tersebut, begitu syahdunya tempat ini, seketika air mata meleleh mengingat saat-saat mereka bertarung dengan maut dan doa terpanjatkan semoga mereka mendapat tempat kembali yang lebih baik di sisiNYA. Kami juga menelusiri lantai atas yang berisi pengetahuan penting tentang terjadinya gempa dan tsunami serta catatan mengenai lembaga-lembaga humanitarian yang berkiprah di Aceh pasca tsunami. Seketika saya melihat lambang palang merah dan bulan sabit merah di salah satu sudutnya, mengingatkan saya kembali ke situasi di awal tsunami, dimana kami bekerja dalam jam panjang membuat perencanaan, membahasnya dalam rapat, menyiapkan relawan dan bala bantuan, hingga beberapa tahun sesudahnya ketika merampungkan masa-masa pemulihan.
Rumah Makan Aceh Rayeuk "Hasan III"
Kak Sari membawa kami ke rumah makan Aceh Rayeuk, segera saja berbagai menu sedap terhidang dalam piring-piring kecil, bebek goreng, ayam tangkap, kuah Pliek U, Ungkot Kemamah, Lobster dan berbagai macam sambal memenuhi meja panjang. Sungguh sedap sekali!
Pantai Lampuuk
Selepas makan, pak supir mengarahkan mobil ke arah pantai Lampuuk, pantai indah berpasir putih dengan gugusan karang di tepinya. Segera saja kami bertiga mengambil posisi nyaman, berbaring di pantai pasir putih tersebut. Sedikit saya menyesali, mengapa dulu terlalu sok serius bekerja sehingga perjalanan tiap minggu ke Banda Aceh dihabiskan di kantor dan penginapan saja. Alangkah beruntungnya warga Banda Aceh memiliki pantai seindah ini! Pada perjalanan pulang kami melewati perkampungan dengan ukuran dan lambang rumah yang seragam, tampaknya bantuan dari pemerintah Turki. Saya bertanya-tanya apakah setiap donor melakukan hal yang sama? meninggalkan logo masing-masing di rumah yang mereka bangun? Menurut kak Sari, dulunya jalanan di perkampungan ini juga memakai nama-nama Turki, namun beberapa tahun kemudian warga mengembalikannya ke nama-nama lokal.
Warung Kopi
Tidak klop singgah ke Banda Aceh tanpa singgah di kedai kopi. Jika pada pagi hari kami sarapan di kedai Solong maka sore harinya sebelum bertolak ke Medan kak Sari membawa kami ke kafe Sada di Lampriet, menunya beragam dari Espresso, Capuccino, Ice Coffee, hingga yang divariasikan dengan cincau. Sungguh nikmat sekali rasa kopinya, kopi gayo lokal di roast dengan sempurna, ditemani dengan camilan pisang goreng, menutup sore itu. Saya membeli dua kantung bubuk kopi untuk di bawa sebagai oleh-oleh. Entahlah setelah menyeruput kopi sada, saya tak tertarik dengan warkop lainnya. Semoga kafe Sada bisa mempertahankan mutu kopinya ke depan. Dan tentunya terima kasih buat kak Sari yang sudah meluangkan waktunya menemani kami.
Demikianlah oleh oleh cerita dari Sabang dan Aceh, kami berharap bisa kembali lagi kesana pada lain kesempatan.
Investasi:
Penginapan di Sabang: Iboih Inn, Yulia's (300 ribu-500 ribu)
Makanan : kurleb 35 ribu per porsi di penginapan; lebih murah di warung lokal
Transport: 75 ribu per orang dari Balohan ke Iboih; 105 ribu per orang kapal cepat Banda Aceh-Balohan, 250.000-500.000 (bus/ pesawat dari Medan), 500 ribu sewa mobil di Banda Aceh
Saturday, July 4, 2015
Reason
Quote by: Adam Lidsay Gordon
There comes a point in your life when you realize:
Who matters,
Who never did,
Who won't anymore,
And who always will.
So don't worry about people from your past, there's a reason why they didn't make it to your future
There comes a point in your life when you realize:
Who matters,
Who never did,
Who won't anymore,
And who always will.
So don't worry about people from your past, there's a reason why they didn't make it to your future
Subscribe to:
Posts (Atom)