Showing posts with label Bencana dan Penanggulangannya. Show all posts
Showing posts with label Bencana dan Penanggulangannya. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Religi, tradisi dan bencana

Belum lama hilang dari ingatan kita tentang dahsyatnya tsunami tahun 2004 yang lalu. Yang menewaskan ratusan ribu orang di beberapa negara dan setengah dari jumlah tersebut berasal dari Indonesia.

Kali ini saya tidak sedang berbicara tentang bencana alam serta penanggulangannya. Tetapi lebih kepada bagaimana kita memandang bencana tersebut. Mengapa pandangan ini penting? Karena pola pandang kita akan mempengaruhi reaksi kita terhadap bencana alam yang terjadi.

# Bencana merupakan hukuman Tuhan.
Karena bencana dianggap merupakan hukuman dari Tuhan maka serta merta penduduk yang tertimpa bencana diasumsikan telah berbuat dosa sehingga bencana tersebut merupakan peringatan bagi mereka untuk kembali ke jalan Tuhan. Sudut pandang ini kerap ditemui dari kelompok religious yg konservatif, misalnya saat terjadi badai Katrina di Amerika Rev Pat Robertson, Hal Lindsey dan Charles Colson mengkaitkan badai Katrina dengan berbagai isu seperti legalisasi aborsi, peneguhan Amerika untuk memenangkan perang terhadap teror dsb ( http://mediamatters.org/research/200509130004). Demikian juga dengan kejadian tsunami yang menimpa Indonesia beberapa waktu lalu, berbagai kalangan berasumsi bahwa bencana yg datang bertubi-tubi merupakan hukuman dari Tuhan.

# Bencana merupakan peristiwa alamiah
Dengan semakin majunya sains dan ilmu pengetahuan, beberapa bencana alam dan fenomenanya dapat dipantau dan diperkirakan. Di Amerika misalnya, FEMA (Federal Emergency Management Agency), salah satu lembaga pemerintah yang cepat tanggap dalam mengantisipasi bencana. Salah satu tugasnya memperkirakan resiko bencana serta taksiran biaya kerugian yang ditimbulkan bencana. Lembaga ini menganalisa informasi seputar bencana baik gempa bumi, banjir, badai dan sebagainya serta mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menimalkan dampak yang ditimbulkan. Antara lain menetapkan standar bangunan, mengusulkan ruang resapan air, dsb. FEMA juga bertanggung jawab dalam melakukan penanggulangan bencana.

# Bencana merupakan peristiwa alamiah yang bisa memicu bencana yang lebih besar akibat campur tangan manusia atau teknologi yang dihasilkan manusia.
Bencana gempa bumi yang terjadi di Jepang tahun lalu disertai dengan rusaknya fasilitas nuklir merupakan perpaduan antara bencana alam dan bencana yang ditimbulkan dari teknologi. Gempa dengan skala besar yang memicu tsunami dan menewaskan ribuan orang, di perparah lagi dengan krisis nuklir dan radiasi yang ditimbulkannya.

Pandangan terhadab bencana vs respons terhadap bencana.
Pandangan terhadap bencana berhubungan dengan bagaimana kita merespon bencana tersebut. Di Jepang misalnya, orang-orang dididik sedemikian rupa bahwa negara mereka terletak di daerah rawan gempa, sehingga mereka terlatih bagaimana menghadapi gempa, apa yg dilakukan ketika gempa maupun tsunami terjadi, tidak hanya itu mereka juga menerapkan standar bangunan yang aman dan secara teori mampu menahan gempa hingga dalam skala tertentu.

Di Amerika, begitu memasuki musim panas maka badai akan datang bertubi-tubi, sementara musim dingin membawa badai salju. Dari badai Katrina yang memporakporandakan New Orleans, badai Irene yang menutup jalur penerbangan di pantai Timur hingga badai Sandy baru-baru ini. Begitu siaganya mereka sehingga berita tentang badai tersebut selalu muncul di saluran televisi, baik ketika badai muncul di Karibia, hingga mencapai Florida serta terus naik menuju Virginia, dan New York. Berita ini disertai analisa dimana badai tersebut akan terhempas di daratan sehingga kekuatannya berkurang. Dan beberapa hari sebelumnya sudah diumumkan kalau jadwal penerbangan akan terganggu, dan maskapai penerbangan pun bersiap-siap mengatur ulang jadwal penumpang yang akan terbang.

Tahun 2011 lalu, gempa melanda Washington DC. Peristiwa yang sangat jarang terjadi, gempa berskala 5.8 skala Richter tersebut berpusat di Virginia, cukup mengejutkan banyak pihak. Tetapi yang lebih mencengangkan adalah bagaimana mereka merespon bencana tersebut. Kantor-kantor segera dikosongkan, para pekerja tumpah ke jalan, selanjutnya gedung dinilai kerusakan dan bahayanya, setelah tim penilai menyatakan gedung tersebut aman barulah orang-orang boleh kembali bekerja. Demikian juga dengan kereta bawah tanah, kereta yang biasanya berjalan cepat terasa sangat lamban karena meskipun telah dinilai aman, penilaian lanjutan terus dilakukan dengan hati-hati. Dan yang terpenting lagi tidak ada korban jiwa dari gempa tersebut.

Pandangan terhadap bencana sebagai fenomena alam tersebut membuat kedua negara lebih tanggap dalam menghadapi bencana. Bukan berarti bahwa dengan perencanaan yang matang, tidak akan ada korban, tetapi lebih banyak lagi yang bisa diselamatkan dengan analisa berkelanjutan dan perencanaan tersebut.






Monday, November 8, 2010

Tips-tips untuk mengelola kamp pengungsi dari shelter exercise Montgomery County.

Akhir pekan yang lalu, saya bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap untuk mengikuti "shelter exercise" atau latihan mengoperasikan tempat penampungan pengungsi yg diadakan palang merah county tempat saya tinggal.

Tepat pukul 9 pagi, koordinator penanggulangan bencana segera maju ke depan dan mulai menjelaskan apa yang akan kita lakukan pada hari tersebut. Kegiatan tersebut diikuti oleh beberapa peserta baik relawan dari palang merah, petugas kepolisian (sherif), petugas kesehatan dari Departemen Kesehatan maupun staf dari palang merah sendiri.

Senang sekali pagi itu, Starbucks telah menyediakan kopi hangat bagi mereka yg terlibat di acara tersebut. Tepat 15 menit setelah acara pembukaan, kami yang akan mengoperasikan tempat penampungan bergegas menuju sebuah taman rekreasi (community center) dimana shelter exercise tsb akan dilakukan.

Sebelumnya beberapa tim inti telah dibentuk dan beberapa orang mengajukan diri untuk menjadi koordinator tim (lead). Ada beberapa posisi yang diperlukan antara lain: Shelter Manager, yg bertugas sebagai penanggung jawab utama dari keseluruhan tempat penampungan. Ia dibantu oleh beberapa lead antara lain registrasi, logistik, penginapan (dorm) dan layanan kesehatan serta keamanan. Saya mendaftarkan diri menjadi bagian dari registrasi. Dengan tugas menjadi lini terdepan menyambut kedatangan pengungsi, memastikan data mereka terisi kedalam formulir yang telah disediakan, sehingga mereka masuk sepenuhnya kedalam shelter.

Lalu begitu kami sampai di lokasi, penjaga tempat rekreasi tsb menjelaskan ttg fasilitas apa saja yg terdapat di bangunan tsb. Selanjutnya Shelter manager dan lead berkumpul membicarakan lay out tempat pengungsian. Saya dan beberapa teman memasang meja dan kursi untuk memudahkan pendaftaran pengungsi nantinya.

Begitu meja selesai dipasang, dan peralatan logistik registrasi belum sampai, kami sudah mulai menerima para pengungsi, catatan-catatan yg telah diberikan sebelumnya belum dapat terpenuhi karena keterbatasan logistik tersebut.

Segera saja dengan kertas seadanya kami membuat registrasi darurat dan melayani pengungsi yg datang dengan berbagai prilaku yg menunjukkan berbagai gejala stress. Sungguh, hari itu terasa seperti bencana sungguhan, akting yg di mainkan oleh masyarakat dan mahasiswa yg berperan sebagai pengungsi terasa nyata sekali. Ada yang datang dengan anak yang sakit, ada yg datang dengan keluhan persediaan oksigennya menipis, ada yg kehilangan anaknya di dekat meja registrasi, seorang wanita dari Sudan yang menyelamatkan dirinya sendiri dan tak sempat membawa ibunya yg berusia lanjut dan meminta kami menolong ibunya dan parahnya adalah dia tak bisa berbahasa Inggris. Serta sepasang mantan suami isteri yang terus cekcok perihal perceraian dan rebutan anak dan tak ingin di tempatkan dalam ruangan yang sama, seorang anak muda dengan masalah mental dimana standard hidupnya telah digariskan oleh bibinya yg telah menjadi korban, dan ia hanya mau makan semua yg organik, tidak mau bersentuhan dengan orang lain karena tidak higienis dan mengulang-ulang perkataannya serta seorang wanita yang datang dengan kursi roda. Dan kondisi tersebut di perparah dengan kebutuhan mereka yang harus segera dipenuhi: makanan, minuman, obat-obatan , dan selimut untuk menahan dingin.

Latihan yang berlangsung selama dua jam tersebut benar-benar menyita seluruh perhatian saya di meja registrasi. Dari pengamatan saya dan dari evaluasi kegiatan tersebut di akhir shift setelah makan siang disponsori Chipotle saya membuat poin-poin penting berikut ini:

1. Be Creative

Dari uraian teman-teman yg pernah terjun langsung, saya belajar bahwa sebaik apapun latihan yg kita lakukan, pada saat bencana sebenarnya terjadi, kita harus semaksimal mungkin bermain dengan kreativitas kita. Misalnya saat tanda-tanda yg biasanya telah tersedia dalam bentuk poster tak tersedia, gunakan apa saja yg ada untuk menggantikannya.

2. Koordinasi

Pastikan jalur komunikasi yang jelas antara shelter manager ke lead hingga ke relawan yg bertugas. Koordinasi disini bukan berarti manager tak bs berhubungan dengan relawan secara langsung tetapi rantai komunikasinya jelas dan relawan dapat saja berhubungan dengan tim lainnya dengan sepengetahuan leadnya masing-masing. Sehingga ini bukan tentang rantai bawahan maupun atasan tetapi bagaimana lingkaran informasi dikumpulkan dan dipergunakan.

3. Kerjasama lintas sektoral saat penanganan bencana

Yang paling menarik yg saya temui di county saya adalah bagaimana koordinasi yg terjadi begitu rapi dan terintegrasi. Dalam satu shelter atau penampungan, masing-masing pihak terintegrasi dalam satu shelter, pihak county mengirimkan sherif untuk kemananan, departemen kesehatan mengirimkan tenaga medis dan peralatan medis untuk membantu didalam tempat pengungsian.

Dan tak hanya itu, bahkan vendor-vendor yang menyediakan logistik untuk bencana memberikan diskon resmi (rate tertentu) untuk bahan-bahan yg dibeli atas nama palang merah. Dengan begini banyak uang yg bisa di simpan dan dipakai untuk kebutuhan pengungsi. Dengan diskon rate yg resmi ini juga menghindari terjadinya penyalahgunaan uang pada saat membeli kebutuhan saat bencana. Lagipula, pembelanjaan yg dilakukan palang merah juga bebas dari pajak. Begitu banyak kemudahan yg diberikan untuk melancarkan upaya tanggap bencana.

Impresi saya pemerintah menaungi lembaga sosial seperti palang merah untuk membantu mereka memberikan layanan tanggap darurat dan mensupport keberadaan mereka. Setiap ada bencana palang merah di beri alert untuk siap-siap membuka tempat pengungsian. Bisa jadi kerjasama seperti ini diikat melalui MoU yg jelas, sehingga respon yg diberikan bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Rantai pertolongan medis

Pastikan pada saat registrasi, pengungsi ditanyakan apabila mereka memiliki kebutuhan khusus, misalnya yg terkait dengan kesehatan mereka, dan sebaiknya pos pelayanan kesehatan berada berdekatan dengan registrasi sehingga mereka yg butuh pertolongan dapat ditangani dengan segera. Tetapkan juga jalur referal bagi pasien tersebut terutama bagi penyakit-penyakit yg tak dapat ditangani di tempat.

4. Logistik

Siapkan barang-barang kebutuhan logistik untuk mengantisipasi bencana. Dari tempat tidur lipat, selimut, makanan dan minuman, higiene kits dan lain-lain. Buat rencana pergantiannya dan apabila diperlukan buat kerjasama dengan vendor sehingga barang2x tsb bisa di kembalikan untuk dijual sebelum masa kadaluarasa dan barang baru gantinya diberikan.


5. Berdayakan pengungsi.

Ini dulu sering dibahas pada saat latihan psikososial, ternyata dalam simulasi ini hal ini terlupakan sama sekali. Ya, pengungsi tak sepenuhnya tak berdaya terutama saat mereka telah mencapai daerah/ shelter yang aman. Kerap, waktu yg dihabiskan di tempat pengungsian lebih dari 2-3 hari, dan pengungsi tidak memiliki kegiatan yg berarti yang kadang membuat mereka merasa lebih tertekan atau mengalami depresi.
Apabila kondisi kesehatan mereka memungkinkan, pengungsi bisa dilibatkan dalam berbagai kegiatan di dalam kamp. Dari membantu petugas registrasi, menjadi petugas admin di register layanan kesehatan, membagi-bagikan logistik, bersih-bersih kamp pengungsian, menjadi tenaga penjaga bayi/balita serta pengajar di tempat pengungsian. Kegiatan-kegiatan ini dijamin membuat waktu mereka tersita untuk kegiatan yg lebih berarti.


6. Identifikasi tempat-tempat yg bisa dijadikan sebagai tempat pengungsian.

Disini tata ruang sangat penting sekali. Fasilitas yg dibangun di perkotaan disini biasanya dilengkapi dengan taman dan community center berupa taman terbuka yg di lengkapi dengan berbagai fasilitas olahraga dan rekreasi. Selain tempet-tempat seperti ini, stadion olahraga, sekolah-sekolah dan tempat peribadatan bisa juga dijadikan sebagai tempat penampungan pengungsi. Pihak-pihak yg terlibat dalam penanggulangan bencana membuat rencana terintegrasi, menandatangani kerjasama untuk pemakaian fasilitas-fasilitas yg ada selama bencana serta membuat semacam pemetaan ttg lokasi, daya tampung, fasilitas yg dimiliki dan contact person yg dihubungi pada saat fasilitas tersebut akan digunakan. Dengan kerjasama yg terjalin jauh hari sebelum bencana, maka memudahkan jalannya koordinasi pada saat fasilitas tsb benar-benar diperlukan.

6. Be sensible, taati peraturan dan pakailah common sense.

Seringkali dalam situasi darurat, terjadi drama-drama maupun ledakan emosi yg wajar saja terjadi. bagi petugas/ relawan yg membantu maupun bagi pengungsi sebaiknya sama-sama paham bahwa untuk melancarkan upaya pemberian bantuan, kedua pihak harus saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Disini penting sekali menyadari bahwa masing-masing orang harus juga menolong dirinya sendiri dan pemberi bantuan untuk memuluskan pelayanan yg diterima/ diberikan.

Terus terang, sutradara latihan ini bagus sekali membuat skenarionya, mulai dari tim yg sampai sebelum logistik ada ditempat, petugas sekuriti yg tak kelihatan batang hidungnya, berbagai macam tanda/ banner yg tak kelihatan bahkan untuk mendaftarkan pengungsipun formnya tak tersedia. Ditambah lagi akting pengungsi yg kelas wahid. Mengikuti kegiatan ini memberi pengalaman yg berharga dari kegiatan tanggap darurat bencana yg dulu saya lakukan di tanah air.

Friday, September 24, 2010

Sumbangan dan Bencana

Gempa bumi yang yang menimpa Haiti hari selasa lalu sedikit banyaknya mengingatkan saya akan kejadian Tsunami tahun 2004 yang lalu. Satu ruangan di lantai dasar gedung PMI Pusat yang juga merupakan markas dari Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) yang sebelumnya merupakan ruangan training disulap menjadi Posko Bencana Tsunami.

Segera saja ruangan tersebut dan meja kursi yg ada di dalamnya diatur dan dibagi-bagi berdasarkan kebutuhan saat itu. Satu bagian besar diisi dengan meja panjang bundar yang berfungsi sebagai tempat rapat harian membahas response yang telah disalurkan sekaligus mendiskusikan response selanjutnya, tantangan yg dihadapi di lapangan serta update berita dari Divisi terkait seperti Divisi Penanggulangan Bencana, Divisi Relawan, Divisi PSK (maaf ini bukan tempat jualan syahwat, tetapi singkatan dari Pelayanan Sosial dan Kesehatan), Divisi Komunikasi, dll.

Di tempat ini pula, PMI menerima sumbangan yang berdatangan silih berganti baik dari individu, kumpulan warga maupun perusahaan-perusahaan besar yang sangat tanggap terhadap kebutuhan masyarakat tertimpa bencana.

Terus terang, itulah pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan penanggulangan bencana dan langsung di"pinjamkan" ke PMI untuk membantu POSKO bersama dengan staff PMI dan ICRC, kita mengerjakan apa saja yg bisa dikerjakan pada saat itu karena job desk juga kayanya belum sempat dibuat :)

Salah satu tugas yg kita lakukan saat itu adalah menerima telepon dari berbagai sumber, dari korporat yang akan datang dan menyumbang dan membuat janji bertemu dengan Ketua PMI saat itu; Bp. Mar'ie Muhammad dan pengurus PMI lainnya, dari warga negara Indonesia di luar negeri yang ingin mengupdate perkembangan berita ttg tanah kelahirannya, karena selama beberapa hari pertama akses ke daerah bencana sulit sekali sehingga mereka langsung menelepon PMI, dari Warga Negara Indonesia di luar negeri yang menangis terisak-isak, mengkhawatirkan anggota keluarga tercinta seraya mencatatkan informasi keluarga mereka yg diduga hilang dan ingin mencari tahu lewat sarana Restoring Family Links PMI dimana keluarga-keluarga yg terpisah dipertemukan kembali. Membantu membuat rencana distribusi, menghubungi penerbangan yang menawarkan angkutan gratis bagi relawan ataupun perusahaan ekspedisi yang menawarkan angkutan gratis bagi bahan-bahan kebutuhan masyarakat tertimpa bencana selama waktu terbatas (beberapa hari pertama).

Dan yang tak kalah penting adalah menjawab panggilan telepon lokal yang menanyakan apa yg diperlukan oleh pengungsi. Tentu saja berita-berita yang baru kami dapatkan dari asesmen langsung di lapangan termasuk kompilasi berita dari berbagai sumber kami sampaikan kepada penelepon tersebut. Mulai dari kebutuhan tenda, makanan, peralatan kebersihan (hygiene kits), obat-obatan dan segala macam termasuk alat-alat memasak sederhana bagi pengungsi. Tak lupa kami memberi informasi tentang tata cara menyumbang dan salah satunya adalah lewat rekening PMI yg terdapat pada beberapa bank nasional.

Namun tak urung, banyak juga diantara orang-orang yang baik hati ini (buktinya hatinya tergerak untuk memberi bantuan) memilih datang ke kantor PMI menyerahkan alat-alat yg kami sebutkan tadi. Sehingga gudang belakang dipenuhi oleh gulungan-gulungan pakaian bekas, serta sumbangan peralatan masak dll.

Tak jarang, relawan PMI akhirnya ditempatkan di gudang tersebut, bekerja berhari-hari menyortir pakaian-pakaian dan sumbangan lainnya memilih-milih mana yang masih pantas dan mana yg sudah tak pantas lagi dipakai.

Terus terang, dengan bekerja langsung merespons bencana, pengamatan akan sumbang menyumbang ini membuka wawasan saya. Dulu saya pikir saya akan membeli sendiri apa yg dibutuhkan dan tinggal mengantarkannya kepada lembaga yg mengumpulkan dan mendistribusikan seperti PMI. Tetapi setelah kejadian tsunami saya sadar niat mulia tersebut ternyata bisa jadi sangat merepotkan lembaga yang saya beri sumbangan material seperti itu.

Dari sumbangan pakaian bekas saja misalnya tidak hanya ia mengambil ruang yg cukup besar di gudang PMI tetapi juga butuh waktu yg banyak dan tenaga untuk mensortirnya serta biaya yg besar untuk mengirimkannya ke lokasi bencana. Kalau kecendrungan penyumbang adalah menyumbangkan bahan material seperti ini bisa jadi lembaga kemanusiaan akan kewalahan mengatasi biaya distribusinya. Ternyata setelah sampai di NAD pun pakaian-pakaian bekas ini kadang berserakan dijalanan, mungkin tidak diminati, mungkin tidak layak pakai ataupun sebab-sebab lainnya.

Terus terang setelah itu, saya memilih menyumbangkan uang daripada menyumbangkan materi secara langsung, dengan jumlah yg saya sanggupi, katanya besar kecil tak masalah asal tulus dalam memberinya. Bukan saja uang lebih fleksibel dalam merespons kebutuhan pengungsi yang cenderung berubah dari satu saat ke saat lain dalam kurun waktu yg cepat, misalnya pada awalnya kebutuhan akan dapur umum, tenda dan obat-obatan pertolongan pertama akan berganti kepada kebutuhan akan hygiene, alat masak bagi keluarga yg telah mendapat tenda sendiri, kebutuhan psikososial misalnya alat edukasi dan bermain bagi anak-anak, kebutuhan obat-obatan flu, diare, dll tetapi juga bantuan uang tersebut mendukung kegiatan operasional dari lembaga yang kita bantu. Relawan yg diterjunkan butuh makanan sederhana dari dapur umum, bahan bantuan yg dikirim butuh biaya sewa dari ekspedisi yang kita gunakan (walau tak jarang pada beberapa hari pertama di beri fasilitas gratis), serta kebutuhan-kebutuhan operasional lainnya guna memastikan bahwa orang-orang yg tertimpa bencana mendapat bantuan sesuai yg mereka butuhkan dimanapun mereka berada, termasuk di daerah-daerah yg sulit diakses. Bayangkan, dengan sumbangan uang, pekerjaan sortir menyortir, dan mengepak barang ini dengan sendirinya akan berkurang drastis karena lembaga tersebut biasanya telah memiliki vendor sendiri yang langsung menyiapkan paketnya bahkan tak jarang ekspedisi langsung dari lokasi terdekat.

Lalu ternyata media untuk menyumbang juga tak banyak yg tersedia, selain harus mentransfer lewat bank misalnya untuk PMI biasanya Hero Supermarket bekerja sama menggalang dana dari pembeli. Tetapi kan tidak semuanya punya rekening di bank ataupun punya waktu ke Bank untuk mentransfer sepuluh atau dua puluh ribu misalnya. Bisa jadi ini salah satu alasan mengapa penyumbang memilih membelanjakan uangnya berdasarkan kebutuhan masyarakat di tempat bencana dan mengantarkan sendiri ke lembaga yg aktif merespon bencana.

Setelah gempa di Haiti barusan, saya mengamati di supermarket dekat saya tinggal terpasang tanda apabila kita ingin menambahkan $1, $5, $20 dari belanjaan yg akan kita bayar untuk Haiti. Dan uangnya langsung di potong dari kartu debet. Demikian juga jaringan telepon selular kita menawarkan bantuan serupa dengan variasi jumlah yang terjangkau bagi mereka yang akan menyumbang. Dengan begini untuk menyumbang saya tak perlu repot-repot ke bank misalnya tinggal mengirim SMS ataupun membayar di kasir pada saat saya berbelanja groceries.

Uniknya lagi SMS ini tidak hanya terfokus kepada satu lembaga saja, tergantung kode yang kita SMS, donasi kita akan dialihkan ke lembaga yg kita mau. Dengan cara ini, Palang Merah Amerika misalnya mengumpulkan $800.000 pada hari pertama. Lembaga lain yg digagasi oleh artis asal Haiti mengumpulkan $400.000 juga pada hari pertama. Ini mengingatkan saya akan kasus Prita, ternyata dengan koin-koin saja bisa terkumpul ratusan juta rupian. Berarti semangat untuk membantu mereka yg tertimpa kesulitan masih tumbuh subur di jiwa kita.

Sepertinya, kita harus mulai kreatif dalam mencari mekanisme menyumbang yang mudah dan terjangkau bagi semua lapisan. Dan uniknya lagi disini apabila kita menyumbang online misalnya kita mendapat code yg bisa digunakan untuk mengurangi pajak.

Isu lain yg terkadang menjadi pertanyaan penyumbang (dalam bentuk uang) adalah transparansi lembaga kemanusiaan tersebut, bagi anda yang ragu akan hal ini, cukup kunjungi websitenya ataupun materi-materi lainnya yg biasanya mereka sediakan, dan lihat apakah mereka memiliki mekanisme audit internal dan eksternal sehingga kita tak perlu kuatir kalau sumbangan kita tak sampai kepada mereka yg membutuhkan.

(Tulisan ini adalah pengamatan pribadi saya dan bukan pesan sponsor dari lembaga-lembaga yg saya sebutkan diatas)