Showing posts with label Medan. Show all posts
Showing posts with label Medan. Show all posts

Tuesday, September 3, 2013

Pulang ke kotaku_2: Tata kota yang absen di Medan

Medan kota tempat tumbuh dan bersekolah mengalami banyak sekali perubahan belakangan ini. Perubahan yang dalam pandangan pribadi saya cenderung memprihatinkan.

Tetapi supaya "fair" dalam kunjungan singkat edisi mudik kemarin patut diapresiasi keberhasilan kota Medan mengurangi sampah di jalanan yang dulu begitu mengganggu dan saat ini sudut-sudut kota terlihat bebas sampah, juga pembangunan jalan seperti ringroad yang mengurang waktu tempuh cukup signifikan dalam berkendara.

Sementara masih banyak hal yang membutuhkan perhatian khusus, antara lain:

Lalu lintas semrawut
Tapi disisi lain, situasi lalu lintas semakin buruk, jalanan yang semrawut, pelanggaran lampu lalu lintas yang semakin luas, dan tidak tertibnya pengendara kendaraan bermotor, membuat kegiatan menyetir di Medan seperti pergi ke medan perang, tidak ada yang mau mengalah di perempatan jalan dan meskipun lampu hijau bukan berarti kendaraan bisa langsung bergerak. Terus terang menyetir di Medan tampaknya hanya bagi mereka yang punya nyali, yang mampu melalui perempatan dengan mencari celah dan menyorongkan mobil mengalahkan pengendara lainnya.

Ruko berdesakan
Pembangunan ruko yang semakin merajalela juga tampaknya mulai merusak keindahan kota. Nyaris semua sudut kota Medan dipenuhi ruko, tidak ada lagi halaman dan pepohonan, dan parahnya ruko ini dibangun hingga mendekati ruas jalan, atau berbatasan langsung ke trotoar. Kondisi ini membuat kota Medan terlihat semakin padat dan sumpek.

Papan reklame
Papan reklame tampaknya adalah ciri khas kota Medan lainnya, jika di kota-kota lain reklame masih dalam batas-batas yang pantas maka di Medan, begitu ada ruang kosong, maka sudah pasti akan segera diisi oleh papan reklame, yang memprihatinkan reklame-reklame ini terlihat sangat berantakan karena dari sisi ukuran dan posisi saling timpang tindih.

Trotoar tidak berfungsi
Trotoar seperti di Kesawan telah berubah menjadi lahan parkir (terutama sepeda motor) sehingga pejalan kaki mau tidak mau harus turun ke jalan yang dipadati kendaraan, sementara di kawasan seputar Mesjid Raya dan Yuki Simpang Raya, trotoar telah menjadi lahan berdirinya kafe-kafe tenda yang menjual berbagai makanan.

Minimnya taman
Dua puluh tahun yang lalu, tidak terlalu sulit bagi orang tua mengajak anak mereka jalan-jalan. Situasi yang sama yang saya jumpai saat ini ketika pergi ke negara-negara maju dimana taman-taman tersedia di sekitar perumahan dan anak-anak dengan mudah dapat bermain disana. Dulu cukup pergi ke Taman Sri Deli yang di depan Mesjid Raya, maka anak-anak dengan gembira akan memilih sendiri permainan mereka, baik ayunan, pelosotan maupun panjat-memanjat berbagai struktur yang disediakan disana. Dan tentunya kesempatan bertemu dan membangun pertemanan dengan anak-anak lain yang bermain disana. Tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk pergi ke Mall. Cukup membawa tikar dan makanan seadanya atau membeli balon, rujak dan es krim. Namun "kemajuan" dua puluh tahun yang lalu tersebut tampaknya ditinggalkan oleh Kota Medan, dengan minimnya taman tentu tidak mudah bagi orang tua membawa anak mereka jalan-jalan dengan biaya murah.

Disela-sela waktu mudik yang sempit saya menyempatkan diri mengajak ponakan ke kolam renang di daerah Griya. Setelah masuk di dalamnya saya bisa menghitung berapa orang pribumi yang berenang disana dan kebanyakan adalah warga keturunan. Pandangan yang kontras misalnya dengan kolam renang umum dan taman di kota yang saya tinggali saat ini, dimana semua bisa berenang dengan gratis di kolam renang buatan menyerupai pantai yang dibangun di tengah kota. Kolam renang tersebut dikunjungi oleh siapa saja dengan berbagai warna kulit. Meski kolam renang berbayar tetap tersedia di beberapa "suburb", tetapi ada pilihan rekreasi yang murah, tersedia buat semua warga dan mudah dijangkau.

Sementara di kota asal saya pilihannya tentu pergi ke mall, ke kolam renang maupun ajang rekreasi seperti Mikki Holiday yang lumayan jauh serta  harus mengeluarkan biaya.

Lalu pilihan apa yang tersedia bagi mereka yang tidak mampu menjangkau tempat-tempat mahal tersebut, atau pilihan apa yang tersedia bagi mereka yang sekedar ingin melepas penat, duduk di taman kota dan menjernihkan pikiran sebelum tenggelam kembali dalam kesibukan sehari-hari?

Wednesday, August 28, 2013

Pulang ke kotaku_1: Mendarat di KNIA

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu." Demikian lirik lagu Jogjakarta dari grup Kla Project. Lagu yang selalu membuat kerinduan akan kampung halaman meskipun bukan berarti kembali ke kota Jogja.







Pulang kali ini adalah pulang ke Medan, kota yg terletak mendekati ujung utara pulau Sumatera. Beberapa hari sebelum hari keberangkatan sekilas terbayang kembali kota yg penuh kenangan, kota yang sesak, cuek, sibuk, sedikit bising namun memiliki makanan yang enak dan di tambah lagi dengan bandara barunya Kuala Namu Internasional Airport (KNIA), konon yang termodern dan satu-satunya di Indonesia yang dilengkapi kereta api dari dan ke pusat kota.

Sekilas ada kebanggaan tersendiri ketika pesawat akan mendarat di KNIA, dari jauh kelihatan runway yang panjang dan terang benderang dan ketika pesawat sudah "touch down" di bagian kiri terlihat bangunan bandara dengan atap seperti siput yang megah tak kalah dari KLIA maupun Svarnabhumi-nya Bangkok. Ah, saya tersenyum dalam hati, kali ini saya tidak lagi mendarat di Polonia yang nyaris seperti stasiun kereta api tetapi di airport baru dan modern, kebanggaan warga Medan.

Dari garbarata, saya berjalan menuju pos imigrasi untuk kedatangan luar negeri. Saya tersenyum sendiri membayangkan, ahhh...inilah saatnya saya menjadi tuan di negeri sendiri, mengingat pengalaman mengikuti antrian panjang di berbagai bandara (JFK New York adalah antrian terlama dalam catatan saya) maupun negara lainnya bagi pemegang paspor asing. Ya, dalam bayangan saya, sebagai pemegang paspor domestik maka proses di imigrasi akan berjalan lancar dengan antrian minimal seperti halnya ketika mendarat di Ngurah Rai, dimana turis-turis pada antri sementara pemegang paspor domestik melenggang mulus melewati pos imigrasi.

Tetapi tak lama, saya paham bahwa hanya ada tiga pos imigrasi yang berfungsi untuk pemegang paspor domestik sementara untuk paspor asing ada sekitar dua pos, satu untuk mengurus visa dan di sampingnya untuk cek paspor. Dengan tiga pos tersebut, proses antri berlangsung sangat lama.

Saya heran, karena sebenarnya banyak pos yang bisa dibuka sehingga antrian semakin cepat, tetapi yang mengherankan banyak petugas berseliweran dan terkadang mereka mendatangi orang-orang (saya asumsikan TKI) dan berbicara dengan mereka kadang berbisik, kadang disertai raut wajah tegas tetapi yang bertugas memberi stempel pada passport hanya tiga orang tersebut. Tak jarang, mereka mengajukan banyak sekali pertanyaan pada pemegang passport yang dilayani yang tentunya semakin menambah lamanya waktu mengantri.

Ketika tiba giliran saya, saya tak tahan untuk bertanya mengapa tidak dibuka banyak pos mengingat antrian yang cukup panjang, dan dengan ringkas petugas menjawab," Sebenarnya bandara ini belum siap untuk difungsikan jumlah SDM kita belum cukup, lalu saya melihat ke sekeliling, dua hingga tiga orang petugas berada di dekat jalur antrian dan berbicara pada mereka yang saya asumsikan TKI tadi, entah apa yang mereka bicarakan. Dan beberapa lainnya berdiri di sana-sini.

Demikianlah, angan-angan saya untuk didahulukan sebagai pemegang paspor domestik tinggal angan-angan belaka, kenyataannya suami hanya melewati proses pembelian visa dan cek paspor dalam waktu kurang dari 10 menit. Jumlah WNA yang tak terlalu banyak dan pos yang cukup tampaknya memudahkan mereka melewati pos tersebut. Ya, mungkin nanti....nanti...kita akan jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Keluar dari ruang pengambilan bagasi juga cukup membingungkan, di pelataran luar tidak langsung terlihat batas jalan maupun parkir. Begitu banyak orang-orang berseliweran malam itu. Ada yang terlihat seperti orang yang bepergian dengan tas, jaket maupun sisa-sisa tiket yang masih dipegang, tetapi mayoritas tampaknya adalah penduduk sekitar Kuala Namu yang berpiknik di pelataran bandara, ibu-ibu memakai sarung dan terompah, sambil memangku anak, ada juga yang duduk-duduk di lantai berkelompok sambil mengunyah camilan dan minum.

Fenomena yang sama pernah saya baca disalah satu harian nasional ketika bandara Lombok Praya baru dibuka, mungkin tidak etis mengusir mereka, setidaknya mereka juga pantas merayakan kehadiran bangunan megah ditengah-tengah mereka namun disisi lain, bandara bukanlah tempat piknik. Mungkin jika belum ada, perlu dibangun anjungan pengantar di salah satu sisi bandara, sehingga bagi mereka yang datang untuk melihat turun-naiknya pesawat bisa mengamati dari sana dan tidak mengganggu ketentraman mereka yang memang kesana untuk bepergian.

Pengalaman kedatangan tersebut sangat kontras dengan keberangkatan di siang hari. Pelataran bandara tidak terlalu ramai, sehingga keseluruhan bangunan dapat dengan mudah dilihat, proses check in yang lancar dengan counter check in yang modern serta ruang tunggu yang mudah dijangkau bersih dan minimalis, ah semoga saja, KNIA akan lebih baik ke depan.