Awal bulan ini, mendapat begitu banyak berita yang membuat hati galau. Kondisi kesehatan si mama yang terus menurun, hasil pemeriksaan dokter yang membuat jantung berdetak lebih kencang: dioperasi dengan segala komplikasi yang ia miliki versus kondisi makin parah jika tak dioperasi, benar-benar ibarat makan buah simalakama. Dengan kondisinya yang dijangkiti berbagai penyakit beberapa tahun belakangan ini, adalah riskan melakukan operasi, ternyata tidak gampang memang, memilih diantara dua pilihan yang beresiko tinggi bagi hidupnya.
Baru kelar urusan berobat, terdengar diujung sana, berpulangnya si bibi, tak seorangpun dari kami berani memberitakan ini kepada mama, karena kuatir kondisi psikologisnya terpengaruh. Maka cukuplah kami sesama sepupu saling menyampaikan pesan, dan memastikan tak ada secuilpun dari berita itu yang sampai kepadanya.
Tak berapa lama, berita kehilangan lainnya, berpulangnya seorang teman SMA dan kakak kelas yang masih bisa dikatakan dalam usia yang cukup muda. Di mata saya keduanya ini adalah orang baik. Si kakak kelas, berjiwa sosial, giat dalam berdakwah. Saking giatnya waktu jaman kuliah dulu sebagian kami, adik binaannya takut jika ketahuan pacaran misalnya. Dan bagi adik yg bandel seperti saya (bandel: tak bisa mengiyakan begitu saja tanpa lewat proses berpikir) maka sudah bisa dipastikan "effort" beliau lebih keras lagi. Entah mengapa kebiasaan untuk tak mau ikut-ikutan instan ini tertanam kuat sejak dulu. Tetapi saya bersyukur, dengan sikap ini, mudah-mudahan apapun yang dilakukan selalu diusahakan dengan sebaik-baiknya, karena di dorong motivasi dari dalam dan untungnya, dengan menjadi diri sendiri tak perlu memasang topeng demi menyenangkan orang lain.
Ah, semoga si kakak mendapat tempat yang baik di sisiNYA, demikian juga teman SMA yg masih lajang ketika kembali. Kami tak terlalu dekat ketika SMA tetapi rutin berkomunikasi terkadang ketika mudik ataupun ketika bercanda di sosial media. Di tengah grup alumni yang mulai puritan, saya merasa mendapat teman ketika membaca komentar beliau. Ketika semuanya terbiasa menjadi homogen, maka pendapat yang berbeda akan dibahas, dihakimi oleh "self made" hakim-hakim itu. Meski tak ikut meramaikan percakapan disana, saya terhibur oleh caranya menanggapi cemoohan sekelompok "homogenous creatures" tadi. Yang terkadang lupa bahwa menjadi pribadi yang baik itu terlihat dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain atau kelompok lain. Sulit mendapat teman seperti ini yang selalu menjaga ucapannya dan tak pernah terdengar menyakiti. Semoga jalanmu lancar teman, menuju keabadian, semoga disanalah kau bertemu jodohmu.
Terus terang, kepergian ketiga orang ini membuat saya berpikir, apa yang kita tinggalkan ketika suatu saat kita pun pergi? Saya tak ingin membahas amalan disini, karena bagi saya amal itu cukuplah kita yang tahu dan saya yakin setiap orang sedikit banyak pasti berusaha memperbaiki amalannya.
Lalu saya teringat tentang menjadi orang baik, penolong, bermanfaat bagi sesama, setidaknya itu bisa menjadi legacy kita. Entahlah belakangan ini saya berpikir bahwa ketiganya itu lebih penting ditujukan bagi yang benar-benar membutuhkan: keluarga, orang terdekat, orang miskin, anak sekolah dari keluarga tak mampu, pengungsi, orang yang tertimpa musibah. Sulit membedakan memang antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang ingin "memanfaatkan". Golongan terakhir adalah mereka yang mampu sebenarnya tetapi ketika berhadapan dengan kita, tiba-tiba menjadi kurang mampu. Dan kita diharapkan memenuhi kebutuhannya, jika tidak maka bisa saja kita dituduh tidak berempati, kurang supportive dan lain-lain. Dan biasanya hubungan ini searah, yang satu mencurahkan yg lainnya menampung curahan tersebut.
Menjadi baik, mestinya ikhlas dalam memberi dan memberi bantuan, mestinya tidak menghitung seberapa banyak yang kita kontribusikan, gampang diucapkan tetapi sulit dilakukan. Sulit karena, tidak selamanya kita ada dalam kondisi pemberi sementara mereka yang terbiasa diberi terlanjur berharap, terlebih lagi jika mereka bukan dalam kondisi yang benar-benar membutuhkan pemberian tadi, tetapi hanya terbiasa menerima pemberian dan terus berharap akan situasi yang sama.
Lalu kemarin seorang teman mengirim pesan teduh: teruslah menebar kebaikan, semampu kita, seikhlas kita, karena kita tidak pernah tahu amal yg mana yang akan menjadi berkat kita kelak.
Showing posts with label Of nothing particular. Show all posts
Showing posts with label Of nothing particular. Show all posts
Tuesday, February 23, 2016
Monday, February 16, 2015
To love is to let go
"To love is to let go", demikian saya pernah membaca tulisan itu di tempat yang berbeda. Di dinding sebuah kafe, pada sebuah sticker yang menempel di meja belajar warisan sepupu saya. Sticker yang saya baca ketika berumur sepuluh tahun. Tentu saja dahi saya selalu mengernyit ketika tak sengaja mata saya tertumbuk pada tulisan itu. Ternyata perlu waktu belasan tahun bagi saya untuk paham maksudnya.
Sebagai seorang anak pada masa itu, tentu saja segala sesuatu yang memberi rasa aman adalah kepastian. Bahwa setiap pagi saya akan dibangunkan, lalu sarapan dan mandi kemudian berangkat ke sekolah. Pulang sekolah makan siang, mengerjakan pe-er, bermain, belajar, shalat lalu tidur. Dan orang tua serta saudara-saudara selalu menemani.
Lalu sedikit demi sedikit "kepastian" tadi mengalami gangguan. Pertama kepindahan kami ke kota tetangga di bagian utara pulau Sumatera membuat saya tercerabut dari teman bermain, sepupu, sawah, sungai dan kebun tempat bermain. Kedua, teman-teman yang saya temui di tempat baru dan telah mengalami ikatan erat pun berpisah seiring naiknya kami ke tingkatan selanjutnya. Lucunya, di setiap perpisahan, kami selalu terbawa perasaan dan berjanji akan menjadi orang yang sama bagi satu sama lain. Dan tentu saja puncaknya adalah ketika kehilangan orang-orang terkasih, yang kepergiannya menyisakan lubang pada jiwa dan tak ada yang bisa mengisinya kembali selain waktu, waktu bagi saya adalah obat terampuh untuk menerima situasi apapun.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin paham, bahwa yang paling penting adalah bagaimana menghargai setiap momen yang sedang berlangsung. Dari bangun tidur, menikmati tumis jamur diatas roti panggang, percakapan di sela-sela makan malam dengan suami, sesi-sesi memasak bersama teman-teman dan memuji-muji rasa racikan tangan sendiri (memang agak narsis), bersenda gurau diantara batagor dan kopi, menikmati jutaan bintang dilangit di atas tikar di padang rumput tempat berkemah, mendengar ponakan bercerita tentang konstelasi bintang diiringi desir angin malam, hingga bekerja dengan jam-jam yang panjang demi deadline yang harus dipenuhi (sigh). Dan sebisa mungkin berkontribusi untuk menciptakan momen tersebut.
Dan tentunya berusaha berpikir dan fokus ke hal-hal yang positif diantara berbagai masalah yang datang silih berganti. Sehingga ketika melihat ke belakang saya bisa merayakan kebahagiaan yang pernah saya alami saat itu. Dan tentu saja, karena adalah mustahil segala sesuatu akan sempurna, maka ketika berinteraksi sosial berusaha fokus terhadap "kebaikan-kebaikan" yang diterima dibanding sebaliknya.
Begitulah, dengan kesadaran akan hal positip itu juga saya juga mulai berhenti memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang dalam pengalaman sebelumnya sering berimbas sebaliknya, sehingga tak lagi mau untuk"keep things together for the sake of whatever" dan tak lagi berusaha mentolerir hal-hal yang terjadi selama ini yang saya pilih untuk "to look at the other way" dengan berbagai pertimbangan yang menyesakkan dada.
Saya paham bahwa apapun dalam hidup ini bisa berubah setiap saat, perubahan adalah kepastian karena situasi yang berubah dan adaptasi harus terjadi. Sama halnya dengan rambut hitam legam saya yang mulai berangsur-angsur di selingi helai-helai keperakan.
So, to live is to "expect less and to let go", akhirnya saya paham apa maksud sticker yang selalu saya baca belasan tahun silam. Tak banyak berharap, berusaha mandiri semaksimal mungkin, memaafkan berbagai hal yang tak berkenan, berharap tak terperosok ke dalam kesalahan yang sama serta terus melangkah ke depan.
Sebagai seorang anak pada masa itu, tentu saja segala sesuatu yang memberi rasa aman adalah kepastian. Bahwa setiap pagi saya akan dibangunkan, lalu sarapan dan mandi kemudian berangkat ke sekolah. Pulang sekolah makan siang, mengerjakan pe-er, bermain, belajar, shalat lalu tidur. Dan orang tua serta saudara-saudara selalu menemani.
Lalu sedikit demi sedikit "kepastian" tadi mengalami gangguan. Pertama kepindahan kami ke kota tetangga di bagian utara pulau Sumatera membuat saya tercerabut dari teman bermain, sepupu, sawah, sungai dan kebun tempat bermain. Kedua, teman-teman yang saya temui di tempat baru dan telah mengalami ikatan erat pun berpisah seiring naiknya kami ke tingkatan selanjutnya. Lucunya, di setiap perpisahan, kami selalu terbawa perasaan dan berjanji akan menjadi orang yang sama bagi satu sama lain. Dan tentu saja puncaknya adalah ketika kehilangan orang-orang terkasih, yang kepergiannya menyisakan lubang pada jiwa dan tak ada yang bisa mengisinya kembali selain waktu, waktu bagi saya adalah obat terampuh untuk menerima situasi apapun.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin paham, bahwa yang paling penting adalah bagaimana menghargai setiap momen yang sedang berlangsung. Dari bangun tidur, menikmati tumis jamur diatas roti panggang, percakapan di sela-sela makan malam dengan suami, sesi-sesi memasak bersama teman-teman dan memuji-muji rasa racikan tangan sendiri (memang agak narsis), bersenda gurau diantara batagor dan kopi, menikmati jutaan bintang dilangit di atas tikar di padang rumput tempat berkemah, mendengar ponakan bercerita tentang konstelasi bintang diiringi desir angin malam, hingga bekerja dengan jam-jam yang panjang demi deadline yang harus dipenuhi (sigh). Dan sebisa mungkin berkontribusi untuk menciptakan momen tersebut.
Dan tentunya berusaha berpikir dan fokus ke hal-hal yang positif diantara berbagai masalah yang datang silih berganti. Sehingga ketika melihat ke belakang saya bisa merayakan kebahagiaan yang pernah saya alami saat itu. Dan tentu saja, karena adalah mustahil segala sesuatu akan sempurna, maka ketika berinteraksi sosial berusaha fokus terhadap "kebaikan-kebaikan" yang diterima dibanding sebaliknya.
Begitulah, dengan kesadaran akan hal positip itu juga saya juga mulai berhenti memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang dalam pengalaman sebelumnya sering berimbas sebaliknya, sehingga tak lagi mau untuk"keep things together for the sake of whatever" dan tak lagi berusaha mentolerir hal-hal yang terjadi selama ini yang saya pilih untuk "to look at the other way" dengan berbagai pertimbangan yang menyesakkan dada.
Saya paham bahwa apapun dalam hidup ini bisa berubah setiap saat, perubahan adalah kepastian karena situasi yang berubah dan adaptasi harus terjadi. Sama halnya dengan rambut hitam legam saya yang mulai berangsur-angsur di selingi helai-helai keperakan.
So, to live is to "expect less and to let go", akhirnya saya paham apa maksud sticker yang selalu saya baca belasan tahun silam. Tak banyak berharap, berusaha mandiri semaksimal mungkin, memaafkan berbagai hal yang tak berkenan, berharap tak terperosok ke dalam kesalahan yang sama serta terus melangkah ke depan.
Tuesday, September 30, 2014
Defining Success by John Wooden
Sukses bisa berbeda makna bagi banyak orang. Bagi sebagian mungkin mendefinisikannya seperti yang tertera dalam kamus Merriem Webster yakni terkumpulnya kekayaan, di hormati serta menjadi terkenal. Bagi sebagian lain sukses bisa berarti tercapainya impian atau cita-cita, berhasil mengalahkan siapa yg ingin dikalahkan dalam kompetisi hidup. Sukses bagi sebagian orang bisa juga berarti bekerja dari jam 8-5 setiap hari di perusahaan terfavorit, bagi sebagian lainnya pensiun muda dan berkeliling dunia, serta berbagai definisi lainnya.
Sehingga tak jarang banyak yang berfoto di depan mobil, rumah, yacht, dsb yg baru dibeli, menunjukkan kemampuan orang untuk mengumpulkan kekayaan sehingga orang tersebut di sebut sudah sukses. Tentu saja sah-sah saja mendefinisikan sukses sesuai aspirasi masing-masing orang.
Baru baru ini saya secara tak sengaja memutar TED Talks dengan nara sumber John Wooden. Pemain sekaligus pelatih basket UCLA yang legendaris karena dibawah besutannya UCLA memenangkan NCAA berkali-kali .
Dan saya terpukau oleh definisinya tentang sukses. Ia terinspirasi dari ayahandanya yang mengatakan kepadanya bahwa seseorang tidak perlu mencoba manjadi lebih baik dari orang lain, tetapi selalu belajar dari orang lain, dan jangan berhenti untuk mencoba melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.
Wooden mendefinisikan sukses sebagai "ketenangan pikiran yang didapat karena seseorang paham bahwa ia telah melakukan atau mengusahakan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Jika seseorang melakukan yang terbaik dari kemampuannya, untuk mencoba memperbaiki situasi dimana ia berada, itu adalah sukses. Dan tak seorangpun bisa menghakimi (hasil)nya.
Wooden menambahkan hal ini mirip dengan karakter dan reputasi. Reputasi adalah apa anggapan orang lain terhadap seseorang sementara karakter adalah siapa orang itu sesungguhnya. Dan karakter lebih bernilai dari reputasi.
Terus terang, definisi ini sangat menarik, dengan analogi sukses sebagai karakter dan bukanlah reputasi, makna sukses terasa lebih jujur, karena ia dinilai dari dalam dan tidak semata-mata berdasarkan penilaian dari luar, sehingga seseorang tersebut tidak butuh pengakuan dari lingkungan sekitarnya tetapi ia akan termotivasi terus untuk melakukan yang terbaik, ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan.
Can't agree more with you Sir, thanks for your wisdom.
Sehingga tak jarang banyak yang berfoto di depan mobil, rumah, yacht, dsb yg baru dibeli, menunjukkan kemampuan orang untuk mengumpulkan kekayaan sehingga orang tersebut di sebut sudah sukses. Tentu saja sah-sah saja mendefinisikan sukses sesuai aspirasi masing-masing orang.
Baru baru ini saya secara tak sengaja memutar TED Talks dengan nara sumber John Wooden. Pemain sekaligus pelatih basket UCLA yang legendaris karena dibawah besutannya UCLA memenangkan NCAA berkali-kali .
Dan saya terpukau oleh definisinya tentang sukses. Ia terinspirasi dari ayahandanya yang mengatakan kepadanya bahwa seseorang tidak perlu mencoba manjadi lebih baik dari orang lain, tetapi selalu belajar dari orang lain, dan jangan berhenti untuk mencoba melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.
Wooden mendefinisikan sukses sebagai "ketenangan pikiran yang didapat karena seseorang paham bahwa ia telah melakukan atau mengusahakan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Jika seseorang melakukan yang terbaik dari kemampuannya, untuk mencoba memperbaiki situasi dimana ia berada, itu adalah sukses. Dan tak seorangpun bisa menghakimi (hasil)nya.
Wooden menambahkan hal ini mirip dengan karakter dan reputasi. Reputasi adalah apa anggapan orang lain terhadap seseorang sementara karakter adalah siapa orang itu sesungguhnya. Dan karakter lebih bernilai dari reputasi.
Terus terang, definisi ini sangat menarik, dengan analogi sukses sebagai karakter dan bukanlah reputasi, makna sukses terasa lebih jujur, karena ia dinilai dari dalam dan tidak semata-mata berdasarkan penilaian dari luar, sehingga seseorang tersebut tidak butuh pengakuan dari lingkungan sekitarnya tetapi ia akan termotivasi terus untuk melakukan yang terbaik, ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan.
Can't agree more with you Sir, thanks for your wisdom.
Tuesday, August 5, 2014
Grandma in bule shirt and yellow vest
Demikianlah, dalam beberapa bulan ini saya bertemu dengannya dua kali sebulan. Seorang perempuan lanjut usia, dengan rambut pirang yang di sasak sehingga mengembang sempurna, mirip rambutnya alm Madam Thatcher, kacamata oversized, lipstik merah menyala. Ia berbicara dengan aksen Inggris yang kental.
"Mind you my dear, can I have a look at that yellow shirt?" ujarnya sembari menunjuk atasan kuning yg dipajang di etalase yg menggantung di dinding toko amal tempat saya bekerja sukarela. "You know, I always love yellow color", perempuan itu tersenyum. Hari itu dia juga membeli dalaman tanpa lengan berwarna putih dengan sedikit rumbai diujungnya.
Sejak hari yang menjadi penanda perjumpaan kami yang pertama, ia selalu kembali ke toko nyaris pada saat yang sama, dua jam sebelum toko di tutup dan selalu dengan kalimat pembuka yang sama. Ia akan membeli satu atau dua potong pakaian, mengamati jahitannya dengan hati-hati, menaruh sisi-sisinya ke kiri dan kanan bahunya, lalu tersenyum seraya berkata, "saya menyukai yang ini", sambil tersenyum dan bersiap membayar.
Dalam hemat saya lewat perjumpaan dengannya 6 bulan terakhir setidaknya ada empat belas potong pakaian baru yang ia miliki, namun yang membuat saya heran, ia selalu datang dengan pakaian yang sama. Blouse biru dan vest kuning, tak sekalipun ia terlihat memakai pakaian lainnya yang rutin, ia beli di toko amal ini.
Di atas bus, dalam perjalanan pulang entah kenapa saya terpikir olehnya. Terlepas dari apa yang dilakukan si Grandma, yang jelas ia mengingatkan akan kebiasaan diri sendiri, membeli sesuatu karena merasa dengan menambah koleksi maka jika diperlukan akan tersedia, tetapi sebenarnya dari setumpukan pakaian tersebut hanya tiga hingga lima potong yang benar-benar dipakai setiap saat, mungkin karena mereka yang paling nyaman di pakai, dan semakin bulukan warna dan modelnya semakin nyaman di kenakan.
Mungkin begitu juga kita memandang hidup, bahwa kita perlu ini untuk itu, perlu itu agar begini, bisa jadi dari ini dan itu yang kita (dan ingin di) kumpulkan, hanya sedikit saja yang kita butuhkan.
"Mind you my dear, can I have a look at that yellow shirt?" ujarnya sembari menunjuk atasan kuning yg dipajang di etalase yg menggantung di dinding toko amal tempat saya bekerja sukarela. "You know, I always love yellow color", perempuan itu tersenyum. Hari itu dia juga membeli dalaman tanpa lengan berwarna putih dengan sedikit rumbai diujungnya.
Sejak hari yang menjadi penanda perjumpaan kami yang pertama, ia selalu kembali ke toko nyaris pada saat yang sama, dua jam sebelum toko di tutup dan selalu dengan kalimat pembuka yang sama. Ia akan membeli satu atau dua potong pakaian, mengamati jahitannya dengan hati-hati, menaruh sisi-sisinya ke kiri dan kanan bahunya, lalu tersenyum seraya berkata, "saya menyukai yang ini", sambil tersenyum dan bersiap membayar.
Dalam hemat saya lewat perjumpaan dengannya 6 bulan terakhir setidaknya ada empat belas potong pakaian baru yang ia miliki, namun yang membuat saya heran, ia selalu datang dengan pakaian yang sama. Blouse biru dan vest kuning, tak sekalipun ia terlihat memakai pakaian lainnya yang rutin, ia beli di toko amal ini.
Di atas bus, dalam perjalanan pulang entah kenapa saya terpikir olehnya. Terlepas dari apa yang dilakukan si Grandma, yang jelas ia mengingatkan akan kebiasaan diri sendiri, membeli sesuatu karena merasa dengan menambah koleksi maka jika diperlukan akan tersedia, tetapi sebenarnya dari setumpukan pakaian tersebut hanya tiga hingga lima potong yang benar-benar dipakai setiap saat, mungkin karena mereka yang paling nyaman di pakai, dan semakin bulukan warna dan modelnya semakin nyaman di kenakan.
Mungkin begitu juga kita memandang hidup, bahwa kita perlu ini untuk itu, perlu itu agar begini, bisa jadi dari ini dan itu yang kita (dan ingin di) kumpulkan, hanya sedikit saja yang kita butuhkan.
Saturday, April 5, 2014
Percakapan suami isteri (quotes)
Berikut ini adalah kompilasi "quotes" ringan sehari-hari, yang sayang terbuang tapi juga ga penting.
`the song writer partner`
isteri (w) yang termangu-mangu dengan perceraian Ms Paltrow dan pentolan Cold Play akhirnya muter lagu grup tersebut berhari-hari berbicara dengan sang suami (h)
w: "isn't it great if your spouse can create a song and makes you the source of inspiration like that?"
h: "what do you think?" (sambil pasang mimik itulah yg dia lakukan selama ini-ok mr boogey dance, I got it! I mean a real song! Not Uh-a-Uh-a Cantuna!)
'the success story`
isteri yang lompat-lompat kegirangan setelah bidding project berhasil sambil gowel-gowel nyanyi "everything you can do I can do it better, you will wish you wanna have a job like mine".
w: "I think you envy my work" (sedikit narsis)
h: "well, I can resign from mine now and just be your ticketing agent".
w: "don't you think you should scale up instead?"
h: "what do you mean?", "isn't you need to climb down after reaching the top?"
w: (...manggut-manggut sambil nahan ketawa)
`the song writer partner`
isteri (w) yang termangu-mangu dengan perceraian Ms Paltrow dan pentolan Cold Play akhirnya muter lagu grup tersebut berhari-hari berbicara dengan sang suami (h)
w: "isn't it great if your spouse can create a song and makes you the source of inspiration like that?"
h: "what do you think?" (sambil pasang mimik itulah yg dia lakukan selama ini-ok mr boogey dance, I got it! I mean a real song! Not Uh-a-Uh-a Cantuna!)
'the success story`
isteri yang lompat-lompat kegirangan setelah bidding project berhasil sambil gowel-gowel nyanyi "everything you can do I can do it better, you will wish you wanna have a job like mine".
w: "I think you envy my work" (sedikit narsis)
h: "well, I can resign from mine now and just be your ticketing agent".
w: "don't you think you should scale up instead?"
h: "what do you mean?", "isn't you need to climb down after reaching the top?"
w: (...manggut-manggut sambil nahan ketawa)
Wednesday, March 26, 2014
Kapan punya anak (?)
Merupakan hal yang biasa, ketika kembali ke tanah air, bertemu keluarga besar atau sekedar bertemu muka maupun bertemu virtual dengan teman-teman lama, pertanyaan,"kapan sih lu punya anak?" terlontar.
Tampaknya ada yang salah, kurang, tak sempurna jika kalau kemana-mana tidak diekori mahkluk mungil yang lucu, menggemaskan sekaligus pengganggu utama "beauty sleep" tersebut. Terutama dimata sekumpulan orang diatas.
Demikianlah, dalam beberapa hari ini ada beberapa kejadian yang memicu tulisan ini. Pertama, dari sahabat di kantor lama, kedua teman di organisasi masyarakat di kota tempat tinggal saat ini, keduanya belum dikarunia anak dan ketiga dari sahabat lama jaman SMA yang sangat getol menanyakan a) Berat Badan; dan b) Anak.
Maka setelah membahas ini-itu, tentang pekerjaan, kegiatan sehari-hari, kesehatan ortu akhirnya kembalilah ke si a) eh salah! b) dulu kali ini.
Q: "Trus lu kapan punya anak?"
A: "Yah, gw nunggu kapan yang Diatas ngasih aja kali ya?"
Q: "Trus lu apa udah nyoba perawatan? ke dokter ato apa gitu?"
A: "Gw so far masih enjoy ya childless status ini, jadi ya ga terlalu pusing juga, lu aja yg pusing kali?"
Q:"Trus nyokap lu bilang apa pas mudik kemarin?"
A: "Ga komentar apa-apa, yg penting kalian hepi aja sih kalo dia mah. Lagian ponakan gw dah banyak, dia mah ga pernah pusing soal ini."
Q: "Trus, suami lu ga pa pa?"
A: "Ya, gak sih...gw dah bahas sama suami gw, kesimpulan kita sih yang penting kita berdua hepi ajalah. Kalo dapat alhamdulillah, kalo engga ya tetap aja alhamdulillah banged!" (Dalem ati, kog nanya suami gw sih, emang ga punya anak cuman beban isteri ya, emang beban?")
A: (...masih blum puas) "kalo mertua lu gimana?"
Q: (asem!) Duh, gimana ya..mertua gw orang bule mak, mana mau mereka nyampurin hal-hal begitu, kita sangat independen loh!". (dalem ati, lagian ntar juga yg nanggung kita kog, kecuali mereka sponsorin rumah dengan kolam renang, 5 nannies, dan warisan jutaan $$$)--->mantu matre"
Setelah mikir..mikir..."bilang ga"...."bilang ga"...akhirnya memberanikan diri, lagian temen baik gw inih--->peace yak!
A: "Nurut gw ya bo'...pertanyaan seputar kapan lo kawin, kapan punya anak, berapa gaji lo? berapa harga rumah ma mobil lo, de-el-el...ga penting banged yak? Anggap deh, misal nanya anak tadi...
Bisa jadi ada tiga skenario...(sambil ngumpulin ide di kepala)...
a) Pasangan yg pengen banged punya anak, udah nyoba berbagai gaya ops! berbagai perawatan dan obat-obat (hingga IVF) ternyata gagal, dan mereka pengeeeeeeen banged. Pas lu tanya kaya gitu, lo bukannya bikin mereka tambah sedih yak?
b) Pasangan yang emang dari sono ga mau ribet ama anak. Trus pas lu tanyain gitu n ngejawab," lo kira karena kita ga ada anak, kita ga hepi? Maaf ya bo' kita hepi banged loh!
c) Kalo misal yg lu tanya kaya gw, yang pasrah kalo dikasih alhamdulillah, kalo engga gw hepi aja ini, trus napa lo rese sih?"
Q: Gubrak...guling-guling icon..bermunculan...
Demikianlah cuplikan pembicaraan tentang anak tersebut. Friends will be friends yak...tapi jangan lupa, please deh....pikir-pikir dulu sebelum bertanya ;)
Tampaknya ada yang salah, kurang, tak sempurna jika kalau kemana-mana tidak diekori mahkluk mungil yang lucu, menggemaskan sekaligus pengganggu utama "beauty sleep" tersebut. Terutama dimata sekumpulan orang diatas.
Demikianlah, dalam beberapa hari ini ada beberapa kejadian yang memicu tulisan ini. Pertama, dari sahabat di kantor lama, kedua teman di organisasi masyarakat di kota tempat tinggal saat ini, keduanya belum dikarunia anak dan ketiga dari sahabat lama jaman SMA yang sangat getol menanyakan a) Berat Badan; dan b) Anak.
Maka setelah membahas ini-itu, tentang pekerjaan, kegiatan sehari-hari, kesehatan ortu akhirnya kembalilah ke si a) eh salah! b) dulu kali ini.
Q: "Trus lu kapan punya anak?"
A: "Yah, gw nunggu kapan yang Diatas ngasih aja kali ya?"
Q: "Trus lu apa udah nyoba perawatan? ke dokter ato apa gitu?"
A: "Gw so far masih enjoy ya childless status ini, jadi ya ga terlalu pusing juga, lu aja yg pusing kali?"
Q:"Trus nyokap lu bilang apa pas mudik kemarin?"
A: "Ga komentar apa-apa, yg penting kalian hepi aja sih kalo dia mah. Lagian ponakan gw dah banyak, dia mah ga pernah pusing soal ini."
Q: "Trus, suami lu ga pa pa?"
A: "Ya, gak sih...gw dah bahas sama suami gw, kesimpulan kita sih yang penting kita berdua hepi ajalah. Kalo dapat alhamdulillah, kalo engga ya tetap aja alhamdulillah banged!" (Dalem ati, kog nanya suami gw sih, emang ga punya anak cuman beban isteri ya, emang beban?")
A: (...masih blum puas) "kalo mertua lu gimana?"
Q: (asem!) Duh, gimana ya..mertua gw orang bule mak, mana mau mereka nyampurin hal-hal begitu, kita sangat independen loh!". (dalem ati, lagian ntar juga yg nanggung kita kog, kecuali mereka sponsorin rumah dengan kolam renang, 5 nannies, dan warisan jutaan $$$)--->mantu matre"
Setelah mikir..mikir..."bilang ga"...."bilang ga"...akhirnya memberanikan diri, lagian temen baik gw inih--->peace yak!
A: "Nurut gw ya bo'...pertanyaan seputar kapan lo kawin, kapan punya anak, berapa gaji lo? berapa harga rumah ma mobil lo, de-el-el...ga penting banged yak? Anggap deh, misal nanya anak tadi...
Bisa jadi ada tiga skenario...(sambil ngumpulin ide di kepala)...
a) Pasangan yg pengen banged punya anak, udah nyoba berbagai gaya ops! berbagai perawatan dan obat-obat (hingga IVF) ternyata gagal, dan mereka pengeeeeeeen banged. Pas lu tanya kaya gitu, lo bukannya bikin mereka tambah sedih yak?
b) Pasangan yang emang dari sono ga mau ribet ama anak. Trus pas lu tanyain gitu n ngejawab," lo kira karena kita ga ada anak, kita ga hepi? Maaf ya bo' kita hepi banged loh!
c) Kalo misal yg lu tanya kaya gw, yang pasrah kalo dikasih alhamdulillah, kalo engga gw hepi aja ini, trus napa lo rese sih?"
Q: Gubrak...guling-guling icon..bermunculan...
Demikianlah cuplikan pembicaraan tentang anak tersebut. Friends will be friends yak...tapi jangan lupa, please deh....pikir-pikir dulu sebelum bertanya ;)
Subscribe to:
Posts (Atom)