Merupakan hal yang biasa, ketika kembali ke tanah air, bertemu keluarga besar atau sekedar bertemu muka maupun bertemu virtual dengan teman-teman lama, pertanyaan,"kapan sih lu punya anak?" terlontar.
Tampaknya ada yang salah, kurang, tak sempurna jika kalau kemana-mana tidak diekori mahkluk mungil yang lucu, menggemaskan sekaligus pengganggu utama "beauty sleep" tersebut. Terutama dimata sekumpulan orang diatas.
Demikianlah, dalam beberapa hari ini ada beberapa kejadian yang memicu tulisan ini. Pertama, dari sahabat di kantor lama, kedua teman di organisasi masyarakat di kota tempat tinggal saat ini, keduanya belum dikarunia anak dan ketiga dari sahabat lama jaman SMA yang sangat getol menanyakan a) Berat Badan; dan b) Anak.
Maka setelah membahas ini-itu, tentang pekerjaan, kegiatan sehari-hari, kesehatan ortu akhirnya kembalilah ke si a) eh salah! b) dulu kali ini.
Q: "Trus lu kapan punya anak?"
A: "Yah, gw nunggu kapan yang Diatas ngasih aja kali ya?"
Q: "Trus lu apa udah nyoba perawatan? ke dokter ato apa gitu?"
A: "Gw so far masih enjoy ya childless status ini, jadi ya ga terlalu pusing juga, lu aja yg pusing kali?"
Q:"Trus nyokap lu bilang apa pas mudik kemarin?"
A: "Ga komentar apa-apa, yg penting kalian hepi aja sih kalo dia mah. Lagian ponakan gw dah banyak, dia mah ga pernah pusing soal ini."
Q: "Trus, suami lu ga pa pa?"
A: "Ya, gak sih...gw dah bahas sama suami gw, kesimpulan kita sih yang penting kita berdua hepi ajalah. Kalo dapat alhamdulillah, kalo engga ya tetap aja alhamdulillah banged!" (Dalem ati, kog nanya suami gw sih, emang ga punya anak cuman beban isteri ya, emang beban?")
A: (...masih blum puas) "kalo mertua lu gimana?"
Q: (asem!) Duh, gimana ya..mertua gw orang bule mak, mana mau mereka nyampurin hal-hal begitu, kita sangat independen loh!". (dalem ati, lagian ntar juga yg nanggung kita kog, kecuali mereka sponsorin rumah dengan kolam renang, 5 nannies, dan warisan jutaan $$$)--->mantu matre"
Setelah mikir..mikir..."bilang ga"...."bilang ga"...akhirnya memberanikan diri, lagian temen baik gw inih--->peace yak!
A: "Nurut gw ya bo'...pertanyaan seputar kapan lo kawin, kapan punya anak, berapa gaji lo? berapa harga rumah ma mobil lo, de-el-el...ga penting banged yak? Anggap deh, misal nanya anak tadi...
Bisa jadi ada tiga skenario...(sambil ngumpulin ide di kepala)...
a) Pasangan yg pengen banged punya anak, udah nyoba berbagai gaya ops! berbagai perawatan dan obat-obat (hingga IVF) ternyata gagal, dan mereka pengeeeeeeen banged. Pas lu tanya kaya gitu, lo bukannya bikin mereka tambah sedih yak?
b) Pasangan yang emang dari sono ga mau ribet ama anak. Trus pas lu tanyain gitu n ngejawab," lo kira karena kita ga ada anak, kita ga hepi? Maaf ya bo' kita hepi banged loh!
c) Kalo misal yg lu tanya kaya gw, yang pasrah kalo dikasih alhamdulillah, kalo engga gw hepi aja ini, trus napa lo rese sih?"
Q: Gubrak...guling-guling icon..bermunculan...
Demikianlah cuplikan pembicaraan tentang anak tersebut. Friends will be friends yak...tapi jangan lupa, please deh....pikir-pikir dulu sebelum bertanya ;)
Wednesday, March 26, 2014
Friday, March 7, 2014
Oleh-oleh dari Papua: terasing di tanah sendiri
Setelah kurang lebih tiga jam meninggalkan Makassar, pramugari mengumumkan pesawat akan segera mendarat di Sentani. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Papua. Bukan untuk liburan tetapi dalam rangka bekerja mengevaluasi proyek LSM internasional yang berkiprah disana.
Saya tak ingat persis kapan terakhir kali saya melihat lautan dibawah sana, sebagian besar dari waktu penerbangan ini saya habiskan untuk tidur, mengingat pagi-pagi sekali saya bergegas menuju bandara di Kuta untuk mengejar sambungan penerbangan dari Makassar setelah sehari sebelumnya mendarat dari Bima, Sumbawa. Yang jelas, sejak saya terbangun beberapa waktu yang lalu, di bawah sana hutan rimbun menutupi permukaan tanah, membentuk kanopi yang luas tak terputus.
Lalu pesawat sedikit demi sedikit menurunkan ketinggian dan danau Sentani terhampar di bawah sana, dan pesawat mendarat dengan mulus di bandara Sentani.
Sekilas, saya melihat ke sekeliling, kebanyakan penumpang yang bergegas mengambil bagasi berwajah Melayu dan hanya dua atau tiga orang berwajah Melanesia. Demikian juga ketika saya berjalan keluar mencari taksi menuju hotel, tak terlihat orang Papua asli menawarkan kendaraan. Sepanjang perjalanan saya berusaha menemukan wajah-wajah penduduk pribumi, tetapi sekali lagi yang terlihat adalah wajah-wajah para pendatang. Memasuki Abepura, kota terlihat lebih ramai, dengan ruko, restoran dan bahkan mall berjejer di sepanjang jalan. Dan satu, dua terlihat wajah-wajah asli menggelar dagangan berupa pinang, ubi-ubian dalam skala yang sangat kecil, yang di gelar di atas tanah di pinggir jalan.
Sangat jelas terlihat, bahwa roda perekonomian umumnya di kuasai oleh pendatang. Demikian juga ketika saya berkunjung ke beberapa sekolah di kota Jayapura, kebanyakan murid-murid berwajah pendatang dan beberapa terlihat berwajah campuran antara penduduk asli dan pendatang.
Dalam perjalanan saat berkendara, saya mengungkapkan keheranan ini kepada teman-teman seperjalanan dan saya mendapat informasi bahwa dengan status otonomi daerah sebenarnya Papua diuntungkan karena mendapat kucuran dana otonomi khusus. Jumlahnya puluhan triliun rupiah dalam satu dekade terkahir. Dengan dana yang begitu besar dan potensi sumber daya alam yang melimpah, dalam kunjungan singkat ini saya melihat sedikit sekali manfaatnya bagi penduduk asli.
Dengan dana yang berlimpah itu sudah sepatutnya banyak yang bisa dilakukan bagi penduduk asli sehingga mereka juga beroleh berkah dan tidak hanya menjadi penonton tetapi juga menjadi aktor perekonomian. Dalam pandangan saya, dengan status otonomi khusus maka tanggung jawab pembangunan sudah berada pada tampuk kepemimpinan lokal, yang notabene di emban putra-putri daerah sendiri. Rasanya kurang relevan menyalahkan pemerintah pusat dengan skema seperti ini. Porsi pemerintah pusat mungkin lebih ditekankan pada fungsi pengawasan kemana dan sejauh mana dana otsus tadi digunakan oleh pemerintah daerah.
Tetapi disisi lain, secara umum infrastruktur disini sudah sangat baik. Jalan-jalan sangat mulus, bahkan hingga ke gang-gang jalanan sudah di beton dan fasilitas air minum tersedia. Untuk ukuran kota yang sekecil ini, SUVs pun berseliweran dimana-mana. Namun siapa pemiliknya, entahlah :)
Keterasingan di tanah sendiri ini tampaknya juga imbas dari program transmigrasi di masa lampau dan juga migrasi yang terjadi karena terbukanya peluang ekonomi di tanah Papua. Berdasar penelitian Jonga dan Dale, 2011 (seperti yang di kutip harian Kompas), perbandingan penduduk asli dan pendatang saat ini 49:51 yang berubah dari angka 96:4 dengan pertumbuhan penduduk asli sebanyak 1.84% pertahun dan penduduk pendatang sebesar 10.82%. Maka tak terelakkan lagi dalam beberapa tahun ke depan, penduduk asli Papua akan semakin terasing di tanah mereka sendiri.
Wednesday, January 1, 2014
Catatan dari atas kereta (Brisbane Open 2014)
Hari pertama, tahun baru ini kami berkereta ke Yerongpilly menuju tennis court untuk menyaksikan pertandingan malam Brisbane Open. Tak disangka malam itu game pertama menghadirkan sang maestro tenis pujaan kami, Roger Federer dan di game kedua petenis tenar Victoria Azarenka dengan teriakan khasnya meramaikan arena.
Tetapi kali ini saya tidak bercerita tentang pertandingan tersebut melainkan pengalaman di atas kereta seusai menonton tennis. Di tengah desakan ratusan penonton yang antri menunggu kereta, kami beruntung langsung naik dan mendapat tempat duduk. Tak berapa lama seorang nenek berpindah duduk ke dekat seorang perempuan paruh baya di depan kursi kami. Di belakangnya duduk seorang kakek, anak perempuan remaja dan di dekatnya berdiri anak perempuan remaja yg lebih muda.
Entah bagaimana, tiba-tiba percakapan kedua perempuan remaja ini menarik untuk di dengarkan. Diantara bunyi gerbong kereta, keduanya berdiskusi mengenai pilihan kuliah bagi remaja perempuan yang lebih muda, selanjutnya saya sebut si adik.
Si adik menjelaskan jurusan pilihannya di bangku kuliah dan berencana transfer ke jurusan lain di tahun kedua. Si kakak (remaja yg lebih tua) mencecar dengan berbagai pertanyaan, mengapa? apa tujuannya? apa kamu suka kota tersebut? mengapa harus disana dsb. Si adik menjelaskan dari sudut pandangnya dan terkadang terlihat sedikit bingung dengan wajah polosnya. Sementara dua perempuan yang duduk di depan kami mendengarkan dengan seksama. Hingga, si kakak akhirnya menyimpulkan isi pembicaraan mereka ke si adik. "Pada dasarnya kamu sebaiknya memilih kuliah di jurusan A,B, dan C di kota X."ujarnya. Si adik terlihat kelabakan tetapi tetap mengatakan ia hanya ingin mengambil jurusan B di kota pilihannya. Tetapi si kakak tidak mau menerima, ia membeberkan pandangannya mengapa pilihan yang ia berikan adalah yang terbaik.
Si adik yang kelihatan lebih muda tampak manggut-manggut dan ragu, hingga akhirnya si nenek menarik si adik ke arahnya dan memintanya mendekat. Lalu dengan tenangnya si nenek berkata,"Kamu tahu, dalam hidup ini, pilihan harus kamu ambil sendiri. Dengan mengambil pilihan sendiri, maka jika kamu sukses, kesuksesan itu karena kamu mengusahakannya dan jika kamu gagal tak ada orang lain yg bisa kamu salahkan. Tak ada seorangpun yang boleh memutuskan apa yang terbaik untukmu dan jangan takut gagal. Hanya dengan begitu kamu akan belajar dalam hidupmu. Jadi jangan ragu dan pilih apa yang kamu inginkan dan belajar dari keputusan yang kamu ambil." dia tersenyum sambil memeluk si adik yang pada akhirnya tersenyum.
Ah! Betapa leganya saya mendengar ucapan si nenek, terus terang saat yg sama saya juga berusaha memberi masukan pada ponakan tercinta yang akan kuliah tahun depan. Nenek yang bijak itu benar, seringkali kita yang merasa berpengalaman dalam hidup menasehati mereka yang baru akan mulai untuk tidak melakukan ini dan itu dan menghindari kesalahan yang mungkin pernah kita buat, padahal dalam hidup ini berani bertindak dan berani menanggung resikonya adalah pelajaran utama. Mengambil keputusan sendiri dan bukan karena ikut-ikutan justru membuat kita lebih dewasa dalam menjalani tantangan demi tantangan.
Ketika akan turun ingin rasanya saya mengatakan "well done pada si nenek dan betapa spesialnya keluarga itu memiliki seorang nenek yang bijaksana". Tapi tentu saja saya tidak mau terlihat menguping pembicaraan mereka, maka ketika melangkah keluar saya menundukkan kepala sedikit ketika kami sekilas bertatapan, tanda menaruh rasa hormat pada perempuan itu.
Tetapi kali ini saya tidak bercerita tentang pertandingan tersebut melainkan pengalaman di atas kereta seusai menonton tennis. Di tengah desakan ratusan penonton yang antri menunggu kereta, kami beruntung langsung naik dan mendapat tempat duduk. Tak berapa lama seorang nenek berpindah duduk ke dekat seorang perempuan paruh baya di depan kursi kami. Di belakangnya duduk seorang kakek, anak perempuan remaja dan di dekatnya berdiri anak perempuan remaja yg lebih muda.
Entah bagaimana, tiba-tiba percakapan kedua perempuan remaja ini menarik untuk di dengarkan. Diantara bunyi gerbong kereta, keduanya berdiskusi mengenai pilihan kuliah bagi remaja perempuan yang lebih muda, selanjutnya saya sebut si adik.
Si adik menjelaskan jurusan pilihannya di bangku kuliah dan berencana transfer ke jurusan lain di tahun kedua. Si kakak (remaja yg lebih tua) mencecar dengan berbagai pertanyaan, mengapa? apa tujuannya? apa kamu suka kota tersebut? mengapa harus disana dsb. Si adik menjelaskan dari sudut pandangnya dan terkadang terlihat sedikit bingung dengan wajah polosnya. Sementara dua perempuan yang duduk di depan kami mendengarkan dengan seksama. Hingga, si kakak akhirnya menyimpulkan isi pembicaraan mereka ke si adik. "Pada dasarnya kamu sebaiknya memilih kuliah di jurusan A,B, dan C di kota X."ujarnya. Si adik terlihat kelabakan tetapi tetap mengatakan ia hanya ingin mengambil jurusan B di kota pilihannya. Tetapi si kakak tidak mau menerima, ia membeberkan pandangannya mengapa pilihan yang ia berikan adalah yang terbaik.
Si adik yang kelihatan lebih muda tampak manggut-manggut dan ragu, hingga akhirnya si nenek menarik si adik ke arahnya dan memintanya mendekat. Lalu dengan tenangnya si nenek berkata,"Kamu tahu, dalam hidup ini, pilihan harus kamu ambil sendiri. Dengan mengambil pilihan sendiri, maka jika kamu sukses, kesuksesan itu karena kamu mengusahakannya dan jika kamu gagal tak ada orang lain yg bisa kamu salahkan. Tak ada seorangpun yang boleh memutuskan apa yang terbaik untukmu dan jangan takut gagal. Hanya dengan begitu kamu akan belajar dalam hidupmu. Jadi jangan ragu dan pilih apa yang kamu inginkan dan belajar dari keputusan yang kamu ambil." dia tersenyum sambil memeluk si adik yang pada akhirnya tersenyum.
Ah! Betapa leganya saya mendengar ucapan si nenek, terus terang saat yg sama saya juga berusaha memberi masukan pada ponakan tercinta yang akan kuliah tahun depan. Nenek yang bijak itu benar, seringkali kita yang merasa berpengalaman dalam hidup menasehati mereka yang baru akan mulai untuk tidak melakukan ini dan itu dan menghindari kesalahan yang mungkin pernah kita buat, padahal dalam hidup ini berani bertindak dan berani menanggung resikonya adalah pelajaran utama. Mengambil keputusan sendiri dan bukan karena ikut-ikutan justru membuat kita lebih dewasa dalam menjalani tantangan demi tantangan.
Ketika akan turun ingin rasanya saya mengatakan "well done pada si nenek dan betapa spesialnya keluarga itu memiliki seorang nenek yang bijaksana". Tapi tentu saja saya tidak mau terlihat menguping pembicaraan mereka, maka ketika melangkah keluar saya menundukkan kepala sedikit ketika kami sekilas bertatapan, tanda menaruh rasa hormat pada perempuan itu.
Wednesday, November 20, 2013
"Boiling Hot" Hubungan Australia-Indonesia
Hubungan Australia-Indonesia sedikit memanas dalam beberapa hari terakhir. Kejadian ini dipicu oleh bocornya informasi intelijen Australia yang menyadap telepon beberapa tokoh penting Indonesia. Informasi ini pada awalnya diberitakan oleh harian the Guardian dan ABC news.
Di Australia sendiri ada pro dan kontra mengenai tindakan yang harus diambil perdana menteri Abbott terkait masalah ini. Sementara Indonesia meminta penjelasan Australia mengenai aksi ini seperti yang disampaikan oleh Menlu Marty Natalegawa maupun dari akun Twitter presiden SBY. Tetapi PM Abbott masih belum bergeming, jika sebelumnya ia mengatakan sadap-menyadap adalah hal biasa yang dilakukan antar negara, pada prescon (19/11) ia mengatakan penyesalan yang mendalam atas rasa malu yang diderita presiden SBY akibat pemberitaan di media mengenai aksi tersebut.
Sementara di parlemen Australia sendiri, pemimpin oposisi Bill Shorten menyarankan agar perdana menteri meniru langkah yang diambil presiden Obama terhadap kanselir Jerman, Angela Merkel dan berjanji Amerika akan menghentikan kegiatan tersebut. Hal senada disampaikan mantan menlu Australia, Bob Carr, agar pemerintah Australia meminta maaf.
Pernyataan PM Abbott yang kurang sensitif ini bukan baru sekali ini saja terdengar. Pada masa pre-pemilu Agustus-September 2013, ia menggemborkan "buy boat policy" yang ditujukan untuk membeli kapal-kapal sejenis yang biasa digunakan untuk membawa imigran ke Australia untuk dihancurkan serta "turning boat policy" seperti yang diterapkan Australia pada era kepemimpinan PM Howard satu dekade yang lalu. Pesan-pesan yang tampaknya sangat signifikan bagi audiens dalam negeri untuk memenangkan pemilu.
Belum jelas, langkah yang akan diambil PM Abbott, tampaknya ia masih menunggu surat protes resmi yang akan dikirim Presiden SBY dan mengindikasikan bahwa ia akan menanggapi surat tersebut dengan sopan dan sepenuh hati.
Di Australia sendiri ada pro dan kontra mengenai tindakan yang harus diambil perdana menteri Abbott terkait masalah ini. Sementara Indonesia meminta penjelasan Australia mengenai aksi ini seperti yang disampaikan oleh Menlu Marty Natalegawa maupun dari akun Twitter presiden SBY. Tetapi PM Abbott masih belum bergeming, jika sebelumnya ia mengatakan sadap-menyadap adalah hal biasa yang dilakukan antar negara, pada prescon (19/11) ia mengatakan penyesalan yang mendalam atas rasa malu yang diderita presiden SBY akibat pemberitaan di media mengenai aksi tersebut.
Sementara di parlemen Australia sendiri, pemimpin oposisi Bill Shorten menyarankan agar perdana menteri meniru langkah yang diambil presiden Obama terhadap kanselir Jerman, Angela Merkel dan berjanji Amerika akan menghentikan kegiatan tersebut. Hal senada disampaikan mantan menlu Australia, Bob Carr, agar pemerintah Australia meminta maaf.
Pernyataan PM Abbott yang kurang sensitif ini bukan baru sekali ini saja terdengar. Pada masa pre-pemilu Agustus-September 2013, ia menggemborkan "buy boat policy" yang ditujukan untuk membeli kapal-kapal sejenis yang biasa digunakan untuk membawa imigran ke Australia untuk dihancurkan serta "turning boat policy" seperti yang diterapkan Australia pada era kepemimpinan PM Howard satu dekade yang lalu. Pesan-pesan yang tampaknya sangat signifikan bagi audiens dalam negeri untuk memenangkan pemilu.
Belum jelas, langkah yang akan diambil PM Abbott, tampaknya ia masih menunggu surat protes resmi yang akan dikirim Presiden SBY dan mengindikasikan bahwa ia akan menanggapi surat tersebut dengan sopan dan sepenuh hati.
Monday, November 4, 2013
Numpang nginap ketika bepergian
Sejak tinggal di luar dalam beberapa tahun terakhir, saya kerap dihubungi orang-orang yang ingin numpang nginap. Terus terang, bagi saya pribadi, numpang nginap ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Bahkan untuk menginap di rumah kakak sendiri pun saya akan mikir-mikir dulu, berapa lama akan disana, dan kalau bisa seminimal mungkin sehingga tidak merepotkan. Demikianlah, dulu ketika baru merantau ke Jakarta, begitu saya dapat pekerjaan maka segera berpindah ke kos-kosan.
Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini, biasanya dalam kurun waktu seminggu, saya akan membagi hari dimana saya menginap di tempat penginapan dan beberapa hari di tempat beliau yang lebih karena ingin menghabiskan waktu bersama ponakan tercinta. Entah kenapa, saya juga tidak paham mengapa kegiatan numpang nginap ini semakin berkurang intensitasnya.
Padahal belasan tahun lalu, ketika kembali dari program pertukaran pemuda, saya dan anak-anak lain sekontingen dengan senang hati merepotkan orang tua teman kami dengan tinggal di tempatnya bahkan hingga seminggu lebih, dan bukan hanya satu anak tetapi sekitar selusin :) Dan sebelum mendapat kamar sendiri di tempat kos, sahabat saya menawarkan berbagi kamar dengannya cukup lama hingga saya mendapat kamar sendiri.
Dan, ketika teman-teman dari negara lain berkunjung ke kota saya, dengan senang hati saya menampung mereka dan mengantar berkeliling kota bahkan ke daerah wisata berdekatan. Dan bahkan tempat kos saya dulu nyaris seperti wisma, teman-teman saya menginap disana bahkan ketika saya sedang bepergian.
Belakangan saya sadar, bahwa saya sedikit "teritorial" dalam artian, saya tak keberatan menampung teman-teman yang ingin numpang nginap di tempat saya, tetapi saya sangat sungkan untuk menumpang nginap di tempat mereka. Bahkan dalam sebuah perjalanan terkait kerjaan, saya enggan menginap di rumah kakak tertua saya.
Entah mengapa, rasa sungkan itu begitu besar, apalagi kalau saya sama sekali tidak dekat dengan orang yg ingin diminta tumpangan. Terakhir, ketika berjalan ke Brussel bersama dua teman lainnya, seorang yg dekat dengan kami menyarankan untuk menginap di kenalannya, sesuatu yg saya sangat sungkan untuk melakukan. Tetapi karena berbagai pertimbangan, saya dengan berat hati berjanji untuk mempertimbangkannya. Berat bagi saya menumpang nginap di Indonesia dan terasa lebih berat lagi ketika di luar negeri. Bukan apa-apa, apartemen kebanyakan berukuran kecil dan terkadang benar-benar pas buat penghuni rumah. Sehingga saya yang agak "teritorial" merasa kurang nyaman ketika tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi sendiri maupun si tuan rumah.
Kedua, suasana "awkward" karena tidak pernah dekat atau merepotkan orang yg saya tidak kenal dekat terasa berat dilakukan, meski berjanji tak merepotkan, tetap saja sebagai tuan rumah mereka akan mempersiapkan segala sesuatu, yang menurut saya akan membuat repot si tuan rumah. Maka, sebelum berangkat ke Brussel saya mengirim email kepada calon tuan rumah dan menanyakan apakah beliau tidak keberatan menampung saya dan teman-teman? Walhasil, email saya tidak berbalas. Dan saya merasa itu wajar, boleh jadi beliau menampung kami karena segan dengan kenalannya yang menghubungkan kami. Sehingga saya memutuskan untuk mencari penginapan sendiri tentunya dengan harga terjangkau, nah ketika seorang mantan kolega saya memaksa untuk tinggal dengannya, meski sudah banyak alasan saya utarakan, akhirnya saya menyerah. Salah satu pertimbangan saya adalah karena kami sangat dekat, dan nyaris meluangkan waktu untuk ngobrol setiap hari ketika sama-sama bekerja. Maka sebelum berangkat dari kota tempat saya kuliah, saya menyiapkan rendang ayam, roti dan buah sebagai bekal yg bisa dinikmati bersama, sehingga teman saya tidak repot karenanya :). Dan terlebih lagi saya menumpang kereta terakhir yang sampainya malam dan pagi-pagi sekali saya sudah harus ke bandara menuju kota berikutnya.
Syukurlah teman-teman yang menginap di kosan saya dulu pada mandiri, terlebih ada warung padang dan warteg berdekatan sehingga urusan logistik jadi gampang.
Belakangan, ketika tinggal di luar negeri saya kerap mendapat permintaan menumpang nginap termasuk dari orang-orang yang saya sama sekali tidak kenal, atau kenal tetapi tidak dekat. Untuk permintaan semacam ini saya biasanya melakukan banyak pertimbangan. Semakin lama, saya berusaha membuat kriteria ketika mengiyakan mereka yg ingin numpang nginap antara lain:
1. Saya memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi termasuk privasi mereka.
2.Saya mengenal mereka dalam level "personal", mereka yang pernah berbagi ruang dengan saya pada masa sebelumnya, termasuk sahabat dekat, teman-teman yg dulu sering berdiskusi di cubicle saya, yang pernah bepergian bareng (baik personal maupun keperluan pekerjaan) sehingga kami menjadi dekat.
3. Untuk sahabat-sahabat yang sangat dekat, sudah pasti tempat selalu tersedia, meski hanya tidur di sofa, misalnya.
4. Orang-orang yang jika saya tanya diri sendiri apakah (dengan berat hati) saya akan menginap di tempat mereka, dan jawabannya iya.
5. Dengan pertimbangan bahwa saya tidak lagi hidup sebagai lajang, sudah pasti kenyamanan "my other half" juga menjadi pertimbangan utama.
Maka dengan kriteria-kriteria diatas, dengan berat hati saya mulai menolak permintaan menginap terutama dari orang-orang yang tidak saya kenal dan belum merasa nyaman untuk berbagi ruang privat. Tetapi tentu saja saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi kabar ataupun menemani ke tempat-tempat wisata dalam kota ketika memiliki waktu luang.
Bagi saya, tidak menawarkan fasilitas menginap bukan berarti tidak ingin bersilaturahmi atau tak ingin bertemu. Hanya saja saya mempertimbangkan sehingga pertemuan tersebut terasa nyaman bagi kedua belah pihak.
Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini, biasanya dalam kurun waktu seminggu, saya akan membagi hari dimana saya menginap di tempat penginapan dan beberapa hari di tempat beliau yang lebih karena ingin menghabiskan waktu bersama ponakan tercinta. Entah kenapa, saya juga tidak paham mengapa kegiatan numpang nginap ini semakin berkurang intensitasnya.
Padahal belasan tahun lalu, ketika kembali dari program pertukaran pemuda, saya dan anak-anak lain sekontingen dengan senang hati merepotkan orang tua teman kami dengan tinggal di tempatnya bahkan hingga seminggu lebih, dan bukan hanya satu anak tetapi sekitar selusin :) Dan sebelum mendapat kamar sendiri di tempat kos, sahabat saya menawarkan berbagi kamar dengannya cukup lama hingga saya mendapat kamar sendiri.
Dan, ketika teman-teman dari negara lain berkunjung ke kota saya, dengan senang hati saya menampung mereka dan mengantar berkeliling kota bahkan ke daerah wisata berdekatan. Dan bahkan tempat kos saya dulu nyaris seperti wisma, teman-teman saya menginap disana bahkan ketika saya sedang bepergian.
Belakangan saya sadar, bahwa saya sedikit "teritorial" dalam artian, saya tak keberatan menampung teman-teman yang ingin numpang nginap di tempat saya, tetapi saya sangat sungkan untuk menumpang nginap di tempat mereka. Bahkan dalam sebuah perjalanan terkait kerjaan, saya enggan menginap di rumah kakak tertua saya.
Entah mengapa, rasa sungkan itu begitu besar, apalagi kalau saya sama sekali tidak dekat dengan orang yg ingin diminta tumpangan. Terakhir, ketika berjalan ke Brussel bersama dua teman lainnya, seorang yg dekat dengan kami menyarankan untuk menginap di kenalannya, sesuatu yg saya sangat sungkan untuk melakukan. Tetapi karena berbagai pertimbangan, saya dengan berat hati berjanji untuk mempertimbangkannya. Berat bagi saya menumpang nginap di Indonesia dan terasa lebih berat lagi ketika di luar negeri. Bukan apa-apa, apartemen kebanyakan berukuran kecil dan terkadang benar-benar pas buat penghuni rumah. Sehingga saya yang agak "teritorial" merasa kurang nyaman ketika tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi sendiri maupun si tuan rumah.
Kedua, suasana "awkward" karena tidak pernah dekat atau merepotkan orang yg saya tidak kenal dekat terasa berat dilakukan, meski berjanji tak merepotkan, tetap saja sebagai tuan rumah mereka akan mempersiapkan segala sesuatu, yang menurut saya akan membuat repot si tuan rumah. Maka, sebelum berangkat ke Brussel saya mengirim email kepada calon tuan rumah dan menanyakan apakah beliau tidak keberatan menampung saya dan teman-teman? Walhasil, email saya tidak berbalas. Dan saya merasa itu wajar, boleh jadi beliau menampung kami karena segan dengan kenalannya yang menghubungkan kami. Sehingga saya memutuskan untuk mencari penginapan sendiri tentunya dengan harga terjangkau, nah ketika seorang mantan kolega saya memaksa untuk tinggal dengannya, meski sudah banyak alasan saya utarakan, akhirnya saya menyerah. Salah satu pertimbangan saya adalah karena kami sangat dekat, dan nyaris meluangkan waktu untuk ngobrol setiap hari ketika sama-sama bekerja. Maka sebelum berangkat dari kota tempat saya kuliah, saya menyiapkan rendang ayam, roti dan buah sebagai bekal yg bisa dinikmati bersama, sehingga teman saya tidak repot karenanya :). Dan terlebih lagi saya menumpang kereta terakhir yang sampainya malam dan pagi-pagi sekali saya sudah harus ke bandara menuju kota berikutnya.
Syukurlah teman-teman yang menginap di kosan saya dulu pada mandiri, terlebih ada warung padang dan warteg berdekatan sehingga urusan logistik jadi gampang.
Belakangan, ketika tinggal di luar negeri saya kerap mendapat permintaan menumpang nginap termasuk dari orang-orang yang saya sama sekali tidak kenal, atau kenal tetapi tidak dekat. Untuk permintaan semacam ini saya biasanya melakukan banyak pertimbangan. Semakin lama, saya berusaha membuat kriteria ketika mengiyakan mereka yg ingin numpang nginap antara lain:
1. Saya memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi termasuk privasi mereka.
2.Saya mengenal mereka dalam level "personal", mereka yang pernah berbagi ruang dengan saya pada masa sebelumnya, termasuk sahabat dekat, teman-teman yg dulu sering berdiskusi di cubicle saya, yang pernah bepergian bareng (baik personal maupun keperluan pekerjaan) sehingga kami menjadi dekat.
3. Untuk sahabat-sahabat yang sangat dekat, sudah pasti tempat selalu tersedia, meski hanya tidur di sofa, misalnya.
4. Orang-orang yang jika saya tanya diri sendiri apakah (dengan berat hati) saya akan menginap di tempat mereka, dan jawabannya iya.
5. Dengan pertimbangan bahwa saya tidak lagi hidup sebagai lajang, sudah pasti kenyamanan "my other half" juga menjadi pertimbangan utama.
Maka dengan kriteria-kriteria diatas, dengan berat hati saya mulai menolak permintaan menginap terutama dari orang-orang yang tidak saya kenal dan belum merasa nyaman untuk berbagi ruang privat. Tetapi tentu saja saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi kabar ataupun menemani ke tempat-tempat wisata dalam kota ketika memiliki waktu luang.
Bagi saya, tidak menawarkan fasilitas menginap bukan berarti tidak ingin bersilaturahmi atau tak ingin bertemu. Hanya saja saya mempertimbangkan sehingga pertemuan tersebut terasa nyaman bagi kedua belah pihak.
Subscribe to:
Posts (Atom)