Thursday, April 11, 2013

Rasisisme di Australia

Pagi-pagi membuka jaringan TV ABC, 12/4/13 di layar tampak video yang menayangkan seorang wanita kulit putih yg berteriak di dalam bus, tepatnya kepada lelaki berkulit gelap di dekatnya. Salah satu kalimat  yang agak jelas adalah bahwa kakeknya yang turut serta dalam perang dunia ke-2, lebih lanjut ia mengatakan  yg di perjuangkan orang Australia asli, (original Australian) untuk menendang orang berkulit gelap keluar dari Australia.

Tindakan yang berbau rasis di dalam kendaraan umum bukanlah hal yang baru tampaknya di benua ini. Masih jelas dalam ingatan, serangan yang ditujukan kepada mahasiswa asal India dari periode 2009-2010 yang lalu yang menuai banyak kecaman di media massa.

Ternyata aksi-aksi individual ini tidak berhenti begitu saja, awal tahun ini tepatnya bulan February 2013, presenter televisi ABC Jeremy Fernandez yg mengantar anaknya ke sekolah juga mendapat serangan berbau rasis di bus yg mereka tumpangi. Dan malangnya ketika ia melapor kepada supir bus, ia malah disalahkan karena tidak pindah tempat duduk.

Sebelumnya turis asal Perancis juga mendapat perlakuan sama diatas bus yang mereka tumpangi, di Melbourne pada November 2012 lalu. Dipicu oleh nyanyian yang dilantunkan perempuan tersebut dalam bahasa Perancis, salah seorang pelaku mengatakan kepadanya untuk "menggunakan bahasa Inggris atau mati!". Disusul kejadian yang menimpa turis asal Korea di bus yang mereka tumpangi di Sydney awal April 2013. Pelaku yang mungkin menyangka korban adalah warga Jepang mengungkit soal serangan Jepang ke Australia dalam Perang Dunia ke-2.

Dalam serangan-serangan sebelumnya yang terasa mengenaskan adalah, tidak seorangpun penumpang lainnya yang berani menengahi situasi yang menimpa korban, semuanya diam membisu seperti tak terjadi apa-apa. Salah seorang warga keturunan Asia yang mencoba mengintervensi insiden yang menimpa turis Korea mengatakan tak ada penumpang lainnya yang mencoba membantunya mengatasi insiden tersebut.

Namun, setidaknya dalam insiden yang terjadi tadi pagi, penumpang lainnya turut ambil bagian dan meminta pelaku untuk diam. Hal yang sebelumnya tidak tercatat dilakukan penumpang lain yang menyaksikan serangan-serangan verbal berbau rasis ini.

Tampaknya rasisme akan terus muncul dan menjadi tantangan di negara yang menganut paham multikulturalisme ini. Seiring dengan menguatnya perekonomian China, India dan negara-negara non barat lainnya dan potensi keuntungan yang bisa diraup Australia lewat kunjungan wisata maupun mahasiswa internasional yang belajar disini, mau tak mau Australia harus lebih serius dalam menanggapi insiden seperti ini dan sejauh ini memang itu yang ditunjukkan aparat kepolisian yang cepat tanggap dalam menangani kasus-kasus seperti ini.






Sunday, March 3, 2013

1/365 it's rejuvinating! Sehari bersama sahabat


Rejuvenating! Kata yang paling tepat untuk mengekspresikan rasa yang muncul setelah bertemu beberapa sahabat setelah tak bertemu setahun dan bahkan bertahun-tahun.

Ketika terbang dari Copenhagen musim dingin yang lalu, ada rasa sedih yang muncul. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pulang berarti menuju ke barat, tetapi kali ini pulang menuju timur dan selanjutnya ke selatan, ke benua yang baru. Barat aka Maryland dan DC, mau tak mau akan menjadi bagian dari kenangan.

Terus terang, setelah menginjak usia dewasa, tak mudah menemukan sahabat baru, yang klop, yang apa adanya, yang membuat kita bersama-sama, menjadi diri sendiri, terbuka, saling mendukung dan mendengarkan, melakukan aktivitas bersama dan memetik kebahagiaan yang tercipta detik demi detik yang dilalui tentunya melalui momen-momen yang menghimpit dada saat terjadi dan ditertawakan ketika sudah berlalu.

Bagi saya, memiliki sahabat bukan berarti kita selalu memiliki pandangan yang sama terhadap berbagai hal, atau menyetujui segala sesuatu yang disetujui sahabat kita. Justru dengannya, kita bebas mengutarakan pendapat kita tanpa takut dihakimi, tidak menjadi orang lain untuk sekedar diterima olehnya, bahkan boleh jadi kita tetap berteman dengan orang-orang yang berkonflik dengan sahabat kita. Yang terakhir terdengar kurang alami, bagaimana mungkin kita berteman atau menjaga hubungan baik dengan orang yang berkonflik dengan sahabat kita? Tentu saja dengan menjaga integritas kita, independensi/ ketidak-berpihakan dan tentunya dengan tidak menjadi pembawa pesan terutama yang bernada negatif mengenai keduanya. Dan yang pasti, dengan sahabat terkadang ada hal-hal yang lebih baik kita simpan dan tak perlu menanyakan lebih jauh.

Tak jarang, persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun tergelincir seiring dengan waktu. Boleh jadi hubungan kita renggang karena ada hal-hal yang sangat prinsip yang tidak dapat di jembatani maupun di tolerir, atau dalam pengalaman saya, ketika bertemu lagi, saya tidak lagi mengenali mereka seperti yang selama ini saya tahu.

Ya, orang pasti berubah, tak terkecuali diri sendiri. Tetapi ketika menyadari ketika menghabiskan waktu bersama, satu hari dalam 365 hari tersebut  tidak memberi rasa nyaman, terasa asing, topik yang dibicarakan tidak lagi personal, terlalu banyak dibubuhi misteri yang meninggalkan banyak pertanyaan dan wajah-wajah terasa seperti topeng, dan tak jarang saya tiba-tiba berhadapan dengan "VVIP", yang sibuk mengutak atik gadget terakhir dalam beberapa jam tersebut, diselingi sesi-sesi pengambilan potret dengan senyum "template" saya lantas bertanya dalam hati, mengapa saya membuang waktu berharga ini, dan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga dan sahabat lainnya, dimana dengan secangkir kopi atau teh, kita berbicara tentang hidup, tentang hal-hal yang tak sempat dibagi dalam 365 hari kita, tentang kelucuan tingkah ponakan yang baru hadir, tentang tukang ojek, tentang lelucon-lelucon masa lalu yang turut terbawa ke sekarang, tentang ruwetnya merawat orang tua yang memasuki usia lanjut, tentang harapan-harapan kita akan masa depan?

Terakhir, bersahabat seperti hal lainnya juga berarti kita "membatasi harapan-harapan kita akan mereka" dengan "me-manage expectation" kita tidak melulu mengharapkan mereka hadir sebagai penolong setiap saat. Dengan tidak berharap banyak, maka kita tak perlu kecewa.


(Bali, Jakarta, 2013-muchas gracias)





Sunday, January 20, 2013

Balada Nasi Padang dan Tempat yang tak terkunjungi

Tak mudah hidup jauh dari keluarga, apalagi memiliki orang tua yang mulai di dera berbagai penyakit. Terkadang mendapat miscall dari "unkonwn number" abroad atau dari nomor telepon tak dikenal dengan kode Indonesia bisa membuat "sport jantung", kaki lemas maupun deg-deg-an tak karuan.

Terlebih lagi bila orang tua kita tinggal seorang. Meski tak jarang banyak juga cerita-cerita lucu yang membuat gemes sekaligus mengundang tawa. Baru-baru ini si kakak yang menjaga mama di seberang lautan ngedumel kalau anak asuhnya alias si mama susah diatur makannya. Padahal beberapa kali dokter sudah mengingatkan, dia harus mulai menjaga apa yg dimakan termasuk porsi yang dimakan, mengingat beberapa tahun terakhir diabetes mulai menggerogoti.

Alih-alih menjaga makanan sendiri, si kakak kadang suka di perlakukan sebagai mandor yg mengawasi gerak-geriknya. Ada kalanya beliau tak mau makan karena makanan tidak berasa, beginilah nasib, lahir dan dibesarkan di Padang yang terkenal dengan masakan penuh bumbu menggugah selera. Di lain hari, beliau ngumpet dan beralasan jalan pagi dan tak berapa lama pemilik warung dekat rumah memberi laporan bahwa seporsi penuh lontong sayur mengisi perutnya beberapa hari ini, sehingga bubur gandum yang sudah disiapkan di rumah hanya dicicipi sedikit saja.

Akhirnya si kakak mengalah, daripada sembunyi-sembunyi makan diluar dan kita tidak tahu apa yg dimakannya, akhirnya di buat masakan ala Padang dengan porsi yang di kontrol dan bumbu yang sedikit di modifikasi. Fanatisme terhadap masakan Padang ini tampaknya sangat kental pada si mama.

Tahun lalu, saya mengajaknya jalan-jalan. Ketika ditanya mau kemana, dia menjawab "Singapura". Wah, bagus juga dalam hati saya, kenapa tidak Bali atau Jogja?". Katanya biar bisa melihat negara lain. Sudah lama dia memendam keinginan ke Singapura yang cukup dekat dari Medan, tempat ia tinggal meski ia sering pergi ke Penang dan KL, tempat ia berobat beberapa tahun terakhir ini.

Demikianlah akhirnya kami bertemu di Singapura. Di sepanjang perjalanan di taksi, ia melihat keluar, ke jalan, ke gedung-gedung perkantoran dan apartemen yang menjulang tinggi. Tak ada macet ya disini? tidak seperti Medan dan Jakarta, katanya. Tampaknya ia sangat menikmati Singapura, melihat betapa transportasi lancar, kotanya bersih, banyak taman kecil dimana-mana serta bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan.

Hingga, tibalah saat makan. Di hotel dekat kami tinggal terdapat banyak restoran India. Setelah kami duduk dan mulai makan, ia bertanya," tak ada ya masakan Padang?". Ya, mungkin ada tapi tidak di dekat sini, ujar saya. Karena kita baru sampai ya kita makan disini saja dulu. Ia terdiam, dan makan sedikit saja. Sementara si kakak mulai tersenyum-senyum.

Begitulah, setelah hari itu, mau tak mau kami harus mencari restoran Padang untuk sekedar makan. Dari restoran kecil di salah satu food court di Orchard Road, hingga bolak-balik  dari Little India, dimana kami tinggal ke restoran Garuda di Vivo City.

Baru-baru ini, saya menelepon beliau dan bertanya apa ia mau jalan-jalan lagi. "Maunya kemana?" tanya saya. Ke Vietnam!" dia menjawab dengan antusias, "atau Kamboja". Yang terakhir ini masuk dalam lists negara yang ingin saya kunjungi. Hmmm...tak berapa lama saya menyahut, tapi kalau nanti disana tidak ada Nasi Padang bagaimana?". Tak ada jawaban di seberang sana. " Ya, sudah, pikir-pikir dulu aja," jawab saya. Nanti di telpon lagi.

Ketika ditelpon lagi, jawabnya? , "ya sudah kemana saja deh yang penting ada nasi Padangnya."Gubrak!!!

Semoga ini tak dialami keluarga asal Padang lainnya :)





Friday, December 28, 2012

Religi, tradisi dan bencana

Belum lama hilang dari ingatan kita tentang dahsyatnya tsunami tahun 2004 yang lalu. Yang menewaskan ratusan ribu orang di beberapa negara dan setengah dari jumlah tersebut berasal dari Indonesia.

Kali ini saya tidak sedang berbicara tentang bencana alam serta penanggulangannya. Tetapi lebih kepada bagaimana kita memandang bencana tersebut. Mengapa pandangan ini penting? Karena pola pandang kita akan mempengaruhi reaksi kita terhadap bencana alam yang terjadi.

# Bencana merupakan hukuman Tuhan.
Karena bencana dianggap merupakan hukuman dari Tuhan maka serta merta penduduk yang tertimpa bencana diasumsikan telah berbuat dosa sehingga bencana tersebut merupakan peringatan bagi mereka untuk kembali ke jalan Tuhan. Sudut pandang ini kerap ditemui dari kelompok religious yg konservatif, misalnya saat terjadi badai Katrina di Amerika Rev Pat Robertson, Hal Lindsey dan Charles Colson mengkaitkan badai Katrina dengan berbagai isu seperti legalisasi aborsi, peneguhan Amerika untuk memenangkan perang terhadap teror dsb ( http://mediamatters.org/research/200509130004). Demikian juga dengan kejadian tsunami yang menimpa Indonesia beberapa waktu lalu, berbagai kalangan berasumsi bahwa bencana yg datang bertubi-tubi merupakan hukuman dari Tuhan.

# Bencana merupakan peristiwa alamiah
Dengan semakin majunya sains dan ilmu pengetahuan, beberapa bencana alam dan fenomenanya dapat dipantau dan diperkirakan. Di Amerika misalnya, FEMA (Federal Emergency Management Agency), salah satu lembaga pemerintah yang cepat tanggap dalam mengantisipasi bencana. Salah satu tugasnya memperkirakan resiko bencana serta taksiran biaya kerugian yang ditimbulkan bencana. Lembaga ini menganalisa informasi seputar bencana baik gempa bumi, banjir, badai dan sebagainya serta mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menimalkan dampak yang ditimbulkan. Antara lain menetapkan standar bangunan, mengusulkan ruang resapan air, dsb. FEMA juga bertanggung jawab dalam melakukan penanggulangan bencana.

# Bencana merupakan peristiwa alamiah yang bisa memicu bencana yang lebih besar akibat campur tangan manusia atau teknologi yang dihasilkan manusia.
Bencana gempa bumi yang terjadi di Jepang tahun lalu disertai dengan rusaknya fasilitas nuklir merupakan perpaduan antara bencana alam dan bencana yang ditimbulkan dari teknologi. Gempa dengan skala besar yang memicu tsunami dan menewaskan ribuan orang, di perparah lagi dengan krisis nuklir dan radiasi yang ditimbulkannya.

Pandangan terhadab bencana vs respons terhadap bencana.
Pandangan terhadap bencana berhubungan dengan bagaimana kita merespon bencana tersebut. Di Jepang misalnya, orang-orang dididik sedemikian rupa bahwa negara mereka terletak di daerah rawan gempa, sehingga mereka terlatih bagaimana menghadapi gempa, apa yg dilakukan ketika gempa maupun tsunami terjadi, tidak hanya itu mereka juga menerapkan standar bangunan yang aman dan secara teori mampu menahan gempa hingga dalam skala tertentu.

Di Amerika, begitu memasuki musim panas maka badai akan datang bertubi-tubi, sementara musim dingin membawa badai salju. Dari badai Katrina yang memporakporandakan New Orleans, badai Irene yang menutup jalur penerbangan di pantai Timur hingga badai Sandy baru-baru ini. Begitu siaganya mereka sehingga berita tentang badai tersebut selalu muncul di saluran televisi, baik ketika badai muncul di Karibia, hingga mencapai Florida serta terus naik menuju Virginia, dan New York. Berita ini disertai analisa dimana badai tersebut akan terhempas di daratan sehingga kekuatannya berkurang. Dan beberapa hari sebelumnya sudah diumumkan kalau jadwal penerbangan akan terganggu, dan maskapai penerbangan pun bersiap-siap mengatur ulang jadwal penumpang yang akan terbang.

Tahun 2011 lalu, gempa melanda Washington DC. Peristiwa yang sangat jarang terjadi, gempa berskala 5.8 skala Richter tersebut berpusat di Virginia, cukup mengejutkan banyak pihak. Tetapi yang lebih mencengangkan adalah bagaimana mereka merespon bencana tersebut. Kantor-kantor segera dikosongkan, para pekerja tumpah ke jalan, selanjutnya gedung dinilai kerusakan dan bahayanya, setelah tim penilai menyatakan gedung tersebut aman barulah orang-orang boleh kembali bekerja. Demikian juga dengan kereta bawah tanah, kereta yang biasanya berjalan cepat terasa sangat lamban karena meskipun telah dinilai aman, penilaian lanjutan terus dilakukan dengan hati-hati. Dan yang terpenting lagi tidak ada korban jiwa dari gempa tersebut.

Pandangan terhadap bencana sebagai fenomena alam tersebut membuat kedua negara lebih tanggap dalam menghadapi bencana. Bukan berarti bahwa dengan perencanaan yang matang, tidak akan ada korban, tetapi lebih banyak lagi yang bisa diselamatkan dengan analisa berkelanjutan dan perencanaan tersebut.






Wednesday, December 5, 2012

Perjalanan ke Flores 7: Taman Nasional Rinca dan Komodo


Hari ini,  hari terakhir kami di Flores dan Labuhan Bajo, pagi-pagi sekali Amsterdam,mobil yang kami sewa,  menjemput kami untuk belanja snack dan minuman sebelum bertolak ke P. Rinca dan P. Komodo. Jam sepuluh pagi kapal kecil yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Labuhan Bajo  menuju Pulau Rinca. Saatnya mengucapkan terima kasih kepada pak supir dan Amsterdam yang telah mengantarkan kami beberapa hari ini.

Dalam perjalanan selanjutnya, ke taman nasional Rinca dan Komodo dan selanjutnya berlayar ke Lombok, kami kedatangan dua anggota baru, sepasang orang Perancis, sehingga total ada empat orang Perancis dalam kelompok kami. Kalau teman jalan kami adalah sepasang Perancis akademisi yang malu-malu dan suka senyum kalau yang dua ini sangat senang berbicara dan terlihat percaya diri. Dalam perjalanan menuju Taman Nasional, awak kapal mengantarkan kami snorkeling di sebuah pulau kecil dengan pantainya yang berwarna kemerahan.

Segera saja semuanya terjun ke laut berenang dan ber-snorkeling sepuas-puasnya. Tak jarang,  kami yg sedang asik ger-snorkelling  terkaget-kaget merasakan gigitan ikan-ikan kecil yg berenang di dekat kami. Ternyata ukuran besar bukan berarti menjadi jaminan keselamatan, ha ha.

Pantai merah diselimuti pasir putih yang bercampur dengan butir pasir merah yang berasal dari pecahan koral berwarna merah yang banyak terdapat disana. Kami berenang cukup jauh menuju pantai karena awak kapal tidak mau membuang jangkar terlalu dangkal dan merusak koral, kesadaran yang cukup mendalam bagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari parawisata bahari ini. (Bagi teman-teman yang kurang mahir berenang ada baiknya membawa pelampung ketika turun dari kapal mengingat jaraknya yang cukup jauh ke pantai.)

Koralnya sendiri sangat indah, membentuk bunga-bunga yang berwarna-warni dan bahkan beberapa titik didominasi warna hijau dan merah, dan tentunya banyak sekali ikan yg berenang dengan berbagai ukuran. Keindahan ini mengingatkan saya ketika  ber-snorkelling di Gili Nanggu di Lombok beberapa waktu lalu. Ada perasaan takjub yang luar biasa saat menikmati keindahan karang dan berenang bersama ikan-ikan, seolah-olah kita menjadi bagian dari habitat disekitar pantai tersebut.

Naik kembali ke kapal dan berlayar meninggalkan pantai merah menjelang senja,  makan malam sudah menunggu, hmm,.. menu ikan bakar segera ludes dalam sekejap. Malam itu kami menginap diatas kapal yang berhenti di balik pulau kelelawar untuk melanjutkan perjalanan esok harinya.



DS Photography
Jembatan panjang dari sandaran kapal

Pagi-pagi sekali, pelayaran dilanjutkan dan kami menginjakkan kaki di Pulau Rinca. Jembatan kayu panjang menjadi tempat sandaran dan pintu utama memasuki kawasan Taman Nasional Komodo. Setelah membeli karcis masuk kami dikawal oleh ranger setempat mulai berjalan kaki di seputar taman nasional, melewati sarang komodo berupa timbunan tanah dan dedaunan yang menjadi tempat komodo ngadem, melihat bayi komodo dipucuk pohon, serta bertemu dua ekor kerbau liar, rusa dan akhirnya sampai di atas bukit dengan pemandangan yang "ruarrr biasa"


Mejeng sejenak di Pulau Komodo
Selanjutnya kami berlayar  menuju ke Pulau Komodo dan di kejauhan terlihat Kampung Komodo "yang terletak memanjang ditepi pantai". Memasuki gerbang Pulau Komodo, kami disambut tiga ekor komodo remaja, kami yang sedikit was-was, satu persatu memanjat gapura,..kayanya semuanya pada takut kalo sampe digigit oleh si Komo, ditempat ini banyak komodo berjalan-jalan disekitar rumah-rumah yang menjadi bagian dari Komodo Nasional Park. Berbeda dengan Rinca yang hanya ada satu ekor komodo yang kami lihat dari jauh di jembatan menuju Rinca.

Setelah puas berjalan kaki mengitari kawasan di dekat pos penjaga dan sedikit mengeksplorasi kawasan di sekitarnya, kami naik lagi ke kapal dan perlahan lahan bergerak menuju laut Sumbawa.

DS Photography
Komodo remaja menyambut kami di Pulau Komodo


Kapal kami terus bergerak menantang ombak  melewati Pulau Sangiang dan "somewhere in the ocean" menjelang malam, sang kapitan menanyakan apa kita mau mandi, yang tentu saja kami sambut dengan gembira,..ia lalu mengurangi kecepatan dan mengarahkan kapal pada sebuah area yang penuh koral dan lebih dangkal, gelombang membentuk riak-riak kecil seperti lingkaran dengan warna hijau turqoise didalam lingkarannya. Sepertinya acara mandi sore itu tidak bisa singkat,  Pak Kapitan telah meneriaki kita untuk segera naik tapi tak ada satupun yang mau beranjak sehingga mau tak mau dia menyalakan mesin kapal dan berpura-pura me ninggalkan kita, akhirnya dengan berat hati semuanya naik kembali ke kapal menuju pulau Satonda.

Pagi harinya saya bangun pagi-pagi dan "luckily" melihat sepasang lumba-lumba yang berenang berputar dalam harmoni, sayang yang lain belum pada bangun, tak berapa lama  kita sampai di Satonda. Pulau ini memiliki danau air tawar ditengah-tengahnya, pemandangannya cukup bagus, dan ada jalan setapak mendaki menuju danau, terdapat pura kecil yang digunakan umat Hindu bersembahyang, setelah berenang dilautan sepertinya minat untuk berenang di danau drastis berkurang.

Kru kapal menurunkan sampan kecil dan mengantar kami ke pantai Satonda, sekilas Satonda terlihat seperti sebuah bukit, kami mendaki menuju puncaknya lalu berjalan turun menuju danau, di jalan kami berpapasan dengan beberapa orang, diantaranya perempuan memakai kebaya, persis seperti perempuan-perempuan Bali yang pergi bersembahyang. Ketika kembali ke kapal, tak seorangpun tampaknya tertarik menaiki sampan, kami menceburkan diri ke pantai dan berenang ke kapal,  hanya kamera-kamera kami yang naik sampan.

Kapal terus berlayar dilaut Sumbawa yang tidak ada ramah-ramahnya, ditengah laut kami diombang-ambingkan ombak, terkadang sedikit bergidik melihat langit yang dipenuhi awan gelap, untungnya penumpangnya lumayan kuat, buktinya tak ada seorangpun yang sampai mabuk berat,  puyeng sedikit iya, kita menghabiskan hari dengan berjemur, ngobrol, main kartu dan membaca buku.

DS Photography
Kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung ke Taman Nasional Komodo.


Sang kapitan menunjuk kearah pulau Medang, tempat asal kapal yang kami tumpangi. Mereka seluruhnya berasal dari pulau yang terletak di laut Sumbawa ini. 

Malam terakhir di kapal, kami menghabiskan waktu dengan "telling the story of ourselves" apa aja termasuk yang malu-maluin, and "everyone seemed to enjoy it". Dari kejauhan terlihat lampu-lampu berkerlap-kerlip dari daratan Sumbawa yang tak terlihat karena tertutup malam pekat.

Keesokan harinya kapal merapat di Pulau Moyo, disini kami berjalan kaki meninggalkan pantai menuju sungai dan air terjun. Hmm...lumayan asik seger-segeran di air tawar, setelah beberapa hari ini, kami hanya bersinggungan dengar air asin. Segera saja kami berloncatan dari tebing disekitar air terjun, dan berpuas-puas berenang di lubuk sungai itu, namun, kesegaran air tawar pulau Moyo jadi tak bersisa, begitu kami kembali berenang menuju kapal meninggalkan Pantai Moyo.

Sore harinya, kapal kami akhirnya sampai di Labuan, Lombok, akhirnya "4 days 3 night trips of being anak buah kapal" pun berakhir. Ada rasa yang campur aduk antara sedih dan gembira, ketika mengucapkan perpisahan, mengingat pengalaman beberapa hari belakangan ini menciptakan semacam ikatan diantara kami. Beberapa teman melanjutkan "adventure" mereka mendaki Rinjani, lainnya menuju Gili-gili di Lombok.

Sementara kami bertiga akan menginap semalam di Mataram, "the city where I used to live for 2 years", puas-puasin makan ayam taliwang di resto 2M di Cakranegara, selanjutnya kami terbang dan menghabiskan satu hari lagi di Bali sebelum bertolak ke Jakarta.


DS Photography
Kapal  kami beserta kru-nya, muchas gracias!

"Thanks to the boat crews" atas keramahan dan pelayanan yang sangat baik!! Dalam hati saya "make a wish" semoga suatu saat bisa kembali lagi ke Flores, menikmati keindahannya dan mengalami perjalanan yang berbeda, mungkin "overland" dari Flores, melewati daratan Sumbawa melintas ke Lombok dan bermalas-malasan di Gili Meno atau Gili Nanggu, pulau favorit saya (amin).

Ps: Bagi teman-teman yg ingin mencari tahu ttg wisata Flores bisa dilihat disini : www.floresexplore.com