Hubungan Australia-Indonesia sedikit memanas dalam beberapa hari terakhir. Kejadian ini dipicu oleh bocornya informasi intelijen Australia yang menyadap telepon beberapa tokoh penting Indonesia. Informasi ini pada awalnya diberitakan oleh harian the Guardian dan ABC news.
Di Australia sendiri ada pro dan kontra mengenai tindakan yang harus diambil perdana menteri Abbott terkait masalah ini. Sementara Indonesia meminta penjelasan Australia mengenai aksi ini seperti yang disampaikan oleh Menlu Marty Natalegawa maupun dari akun Twitter presiden SBY. Tetapi PM Abbott masih belum bergeming, jika sebelumnya ia mengatakan sadap-menyadap adalah hal biasa yang dilakukan antar negara, pada prescon (19/11) ia mengatakan penyesalan yang mendalam atas rasa malu yang diderita presiden SBY akibat pemberitaan di media mengenai aksi tersebut.
Sementara di parlemen Australia sendiri, pemimpin oposisi Bill Shorten menyarankan agar perdana menteri meniru langkah yang diambil presiden Obama terhadap kanselir Jerman, Angela Merkel dan berjanji Amerika akan menghentikan kegiatan tersebut. Hal senada disampaikan mantan menlu Australia, Bob Carr, agar pemerintah Australia meminta maaf.
Pernyataan PM Abbott yang kurang sensitif ini bukan baru sekali ini saja terdengar. Pada masa pre-pemilu Agustus-September 2013, ia menggemborkan "buy boat policy" yang ditujukan untuk membeli kapal-kapal sejenis yang biasa digunakan untuk membawa imigran ke Australia untuk dihancurkan serta "turning boat policy" seperti yang diterapkan Australia pada era kepemimpinan PM Howard satu dekade yang lalu. Pesan-pesan yang tampaknya sangat signifikan bagi audiens dalam negeri untuk memenangkan pemilu.
Belum jelas, langkah yang akan diambil PM Abbott, tampaknya ia masih
menunggu surat protes resmi yang akan dikirim Presiden SBY dan
mengindikasikan bahwa ia akan menanggapi surat tersebut dengan sopan dan
sepenuh hati.
Wednesday, November 20, 2013
Monday, November 4, 2013
Numpang nginap ketika bepergian
Sejak tinggal di luar dalam beberapa tahun terakhir, saya kerap dihubungi orang-orang yang ingin numpang nginap. Terus terang, bagi saya pribadi, numpang nginap ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Bahkan untuk menginap di rumah kakak sendiri pun saya akan mikir-mikir dulu, berapa lama akan disana, dan kalau bisa seminimal mungkin sehingga tidak merepotkan. Demikianlah, dulu ketika baru merantau ke Jakarta, begitu saya dapat pekerjaan maka segera berpindah ke kos-kosan.
Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini, biasanya dalam kurun waktu seminggu, saya akan membagi hari dimana saya menginap di tempat penginapan dan beberapa hari di tempat beliau yang lebih karena ingin menghabiskan waktu bersama ponakan tercinta. Entah kenapa, saya juga tidak paham mengapa kegiatan numpang nginap ini semakin berkurang intensitasnya.
Padahal belasan tahun lalu, ketika kembali dari program pertukaran pemuda, saya dan anak-anak lain sekontingen dengan senang hati merepotkan orang tua teman kami dengan tinggal di tempatnya bahkan hingga seminggu lebih, dan bukan hanya satu anak tetapi sekitar selusin :) Dan sebelum mendapat kamar sendiri di tempat kos, sahabat saya menawarkan berbagi kamar dengannya cukup lama hingga saya mendapat kamar sendiri.
Dan, ketika teman-teman dari negara lain berkunjung ke kota saya, dengan senang hati saya menampung mereka dan mengantar berkeliling kota bahkan ke daerah wisata berdekatan. Dan bahkan tempat kos saya dulu nyaris seperti wisma, teman-teman saya menginap disana bahkan ketika saya sedang bepergian.
Belakangan saya sadar, bahwa saya sedikit "teritorial" dalam artian, saya tak keberatan menampung teman-teman yang ingin numpang nginap di tempat saya, tetapi saya sangat sungkan untuk menumpang nginap di tempat mereka. Bahkan dalam sebuah perjalanan terkait kerjaan, saya enggan menginap di rumah kakak tertua saya.
Entah mengapa, rasa sungkan itu begitu besar, apalagi kalau saya sama sekali tidak dekat dengan orang yg ingin diminta tumpangan. Terakhir, ketika berjalan ke Brussel bersama dua teman lainnya, seorang yg dekat dengan kami menyarankan untuk menginap di kenalannya, sesuatu yg saya sangat sungkan untuk melakukan. Tetapi karena berbagai pertimbangan, saya dengan berat hati berjanji untuk mempertimbangkannya. Berat bagi saya menumpang nginap di Indonesia dan terasa lebih berat lagi ketika di luar negeri. Bukan apa-apa, apartemen kebanyakan berukuran kecil dan terkadang benar-benar pas buat penghuni rumah. Sehingga saya yang agak "teritorial" merasa kurang nyaman ketika tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi sendiri maupun si tuan rumah.
Kedua, suasana "awkward" karena tidak pernah dekat atau merepotkan orang yg saya tidak kenal dekat terasa berat dilakukan, meski berjanji tak merepotkan, tetap saja sebagai tuan rumah mereka akan mempersiapkan segala sesuatu, yang menurut saya akan membuat repot si tuan rumah. Maka, sebelum berangkat ke Brussel saya mengirim email kepada calon tuan rumah dan menanyakan apakah beliau tidak keberatan menampung saya dan teman-teman? Walhasil, email saya tidak berbalas. Dan saya merasa itu wajar, boleh jadi beliau menampung kami karena segan dengan kenalannya yang menghubungkan kami. Sehingga saya memutuskan untuk mencari penginapan sendiri tentunya dengan harga terjangkau, nah ketika seorang mantan kolega saya memaksa untuk tinggal dengannya, meski sudah banyak alasan saya utarakan, akhirnya saya menyerah. Salah satu pertimbangan saya adalah karena kami sangat dekat, dan nyaris meluangkan waktu untuk ngobrol setiap hari ketika sama-sama bekerja. Maka sebelum berangkat dari kota tempat saya kuliah, saya menyiapkan rendang ayam, roti dan buah sebagai bekal yg bisa dinikmati bersama, sehingga teman saya tidak repot karenanya :). Dan terlebih lagi saya menumpang kereta terakhir yang sampainya malam dan pagi-pagi sekali saya sudah harus ke bandara menuju kota berikutnya.
Syukurlah teman-teman yang menginap di kosan saya dulu pada mandiri, terlebih ada warung padang dan warteg berdekatan sehingga urusan logistik jadi gampang.
Belakangan, ketika tinggal di luar negeri saya kerap mendapat permintaan menumpang nginap termasuk dari orang-orang yang saya sama sekali tidak kenal, atau kenal tetapi tidak dekat. Untuk permintaan semacam ini saya biasanya melakukan banyak pertimbangan. Semakin lama, saya berusaha membuat kriteria ketika mengiyakan mereka yg ingin numpang nginap antara lain:
1. Saya memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi termasuk privasi mereka.
2.Saya mengenal mereka dalam level "personal", mereka yang pernah berbagi ruang dengan saya pada masa sebelumnya, termasuk sahabat dekat, teman-teman yg dulu sering berdiskusi di cubicle saya, yang pernah bepergian bareng (baik personal maupun keperluan pekerjaan) sehingga kami menjadi dekat.
3. Untuk sahabat-sahabat yang sangat dekat, sudah pasti tempat selalu tersedia, meski hanya tidur di sofa, misalnya.
4. Orang-orang yang jika saya tanya diri sendiri apakah (dengan berat hati) saya akan menginap di tempat mereka, dan jawabannya iya.
5. Dengan pertimbangan bahwa saya tidak lagi hidup sebagai lajang, sudah pasti kenyamanan "my other half" juga menjadi pertimbangan utama.
Maka dengan kriteria-kriteria diatas, dengan berat hati saya mulai menolak permintaan menginap terutama dari orang-orang yang tidak saya kenal dan belum merasa nyaman untuk berbagi ruang privat. Tetapi tentu saja saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi kabar ataupun menemani ke tempat-tempat wisata dalam kota ketika memiliki waktu luang.
Bagi saya, tidak menawarkan fasilitas menginap bukan berarti tidak ingin bersilaturahmi atau tak ingin bertemu. Hanya saja saya mempertimbangkan sehingga pertemuan tersebut terasa nyaman bagi kedua belah pihak.
Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini, biasanya dalam kurun waktu seminggu, saya akan membagi hari dimana saya menginap di tempat penginapan dan beberapa hari di tempat beliau yang lebih karena ingin menghabiskan waktu bersama ponakan tercinta. Entah kenapa, saya juga tidak paham mengapa kegiatan numpang nginap ini semakin berkurang intensitasnya.
Padahal belasan tahun lalu, ketika kembali dari program pertukaran pemuda, saya dan anak-anak lain sekontingen dengan senang hati merepotkan orang tua teman kami dengan tinggal di tempatnya bahkan hingga seminggu lebih, dan bukan hanya satu anak tetapi sekitar selusin :) Dan sebelum mendapat kamar sendiri di tempat kos, sahabat saya menawarkan berbagi kamar dengannya cukup lama hingga saya mendapat kamar sendiri.
Dan, ketika teman-teman dari negara lain berkunjung ke kota saya, dengan senang hati saya menampung mereka dan mengantar berkeliling kota bahkan ke daerah wisata berdekatan. Dan bahkan tempat kos saya dulu nyaris seperti wisma, teman-teman saya menginap disana bahkan ketika saya sedang bepergian.
Belakangan saya sadar, bahwa saya sedikit "teritorial" dalam artian, saya tak keberatan menampung teman-teman yang ingin numpang nginap di tempat saya, tetapi saya sangat sungkan untuk menumpang nginap di tempat mereka. Bahkan dalam sebuah perjalanan terkait kerjaan, saya enggan menginap di rumah kakak tertua saya.
Entah mengapa, rasa sungkan itu begitu besar, apalagi kalau saya sama sekali tidak dekat dengan orang yg ingin diminta tumpangan. Terakhir, ketika berjalan ke Brussel bersama dua teman lainnya, seorang yg dekat dengan kami menyarankan untuk menginap di kenalannya, sesuatu yg saya sangat sungkan untuk melakukan. Tetapi karena berbagai pertimbangan, saya dengan berat hati berjanji untuk mempertimbangkannya. Berat bagi saya menumpang nginap di Indonesia dan terasa lebih berat lagi ketika di luar negeri. Bukan apa-apa, apartemen kebanyakan berukuran kecil dan terkadang benar-benar pas buat penghuni rumah. Sehingga saya yang agak "teritorial" merasa kurang nyaman ketika tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi sendiri maupun si tuan rumah.
Kedua, suasana "awkward" karena tidak pernah dekat atau merepotkan orang yg saya tidak kenal dekat terasa berat dilakukan, meski berjanji tak merepotkan, tetap saja sebagai tuan rumah mereka akan mempersiapkan segala sesuatu, yang menurut saya akan membuat repot si tuan rumah. Maka, sebelum berangkat ke Brussel saya mengirim email kepada calon tuan rumah dan menanyakan apakah beliau tidak keberatan menampung saya dan teman-teman? Walhasil, email saya tidak berbalas. Dan saya merasa itu wajar, boleh jadi beliau menampung kami karena segan dengan kenalannya yang menghubungkan kami. Sehingga saya memutuskan untuk mencari penginapan sendiri tentunya dengan harga terjangkau, nah ketika seorang mantan kolega saya memaksa untuk tinggal dengannya, meski sudah banyak alasan saya utarakan, akhirnya saya menyerah. Salah satu pertimbangan saya adalah karena kami sangat dekat, dan nyaris meluangkan waktu untuk ngobrol setiap hari ketika sama-sama bekerja. Maka sebelum berangkat dari kota tempat saya kuliah, saya menyiapkan rendang ayam, roti dan buah sebagai bekal yg bisa dinikmati bersama, sehingga teman saya tidak repot karenanya :). Dan terlebih lagi saya menumpang kereta terakhir yang sampainya malam dan pagi-pagi sekali saya sudah harus ke bandara menuju kota berikutnya.
Syukurlah teman-teman yang menginap di kosan saya dulu pada mandiri, terlebih ada warung padang dan warteg berdekatan sehingga urusan logistik jadi gampang.
Belakangan, ketika tinggal di luar negeri saya kerap mendapat permintaan menumpang nginap termasuk dari orang-orang yang saya sama sekali tidak kenal, atau kenal tetapi tidak dekat. Untuk permintaan semacam ini saya biasanya melakukan banyak pertimbangan. Semakin lama, saya berusaha membuat kriteria ketika mengiyakan mereka yg ingin numpang nginap antara lain:
1. Saya memiliki ruang yang cukup untuk menjaga privasi termasuk privasi mereka.
2.Saya mengenal mereka dalam level "personal", mereka yang pernah berbagi ruang dengan saya pada masa sebelumnya, termasuk sahabat dekat, teman-teman yg dulu sering berdiskusi di cubicle saya, yang pernah bepergian bareng (baik personal maupun keperluan pekerjaan) sehingga kami menjadi dekat.
3. Untuk sahabat-sahabat yang sangat dekat, sudah pasti tempat selalu tersedia, meski hanya tidur di sofa, misalnya.
4. Orang-orang yang jika saya tanya diri sendiri apakah (dengan berat hati) saya akan menginap di tempat mereka, dan jawabannya iya.
5. Dengan pertimbangan bahwa saya tidak lagi hidup sebagai lajang, sudah pasti kenyamanan "my other half" juga menjadi pertimbangan utama.
Maka dengan kriteria-kriteria diatas, dengan berat hati saya mulai menolak permintaan menginap terutama dari orang-orang yang tidak saya kenal dan belum merasa nyaman untuk berbagi ruang privat. Tetapi tentu saja saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi kabar ataupun menemani ke tempat-tempat wisata dalam kota ketika memiliki waktu luang.
Bagi saya, tidak menawarkan fasilitas menginap bukan berarti tidak ingin bersilaturahmi atau tak ingin bertemu. Hanya saja saya mempertimbangkan sehingga pertemuan tersebut terasa nyaman bagi kedua belah pihak.
Monday, October 7, 2013
Film Review: The Act of Killing
Film besutan sutradara Joshua Oppenheimer ini berkisah tentang preman yang terlibat dalam pembunuhan tokoh-tokoh yang terlibat PKI di era tahun 65-an.
Anwar Congo yang merupakan tokoh utama film ini didampingi rekannya sesama pelaku, A Zulkadry serta Herman Koto, tokoh preman yang lebih muda, mengisahkan kembali tindakan pembunuhan yang mereka lakukan, dengan berbagai cara termasuk mengunjungi lokasi pembunuhan, mereka ulang kejadian-kejadian yang berujung pada pembunuhan tersebut termasuk dengan adegan-adegan teatrikal yang disisipkan dalam film ini dimana Herman Koto berperan sebagai waria dengan dandanan yang menyolok.
Film ini juga memberi gambaran betapa para pelaku justru di puji bagai pahlawan justru dengan pembunuhan yang mereka lakukan. Beberapa dekade setelahnya, Anwar Kongo yang mulai memasuki usia sepuh menjadi pentolan organisasi Pemuda Pancasila.
Sekilas film ini juga menyoroti aksi Pemuda Pancasila yang sejatinya berjuang mempertahankan Pancasila tetapi kenyataannya menjadi kanker dalam masyarakat. Tokoh-tokoh pemuda itu yang kebanyakan adalah preman mendatangi kios-kios di pasar Medan yg dimiliki warga keturunan Tionghoa dan meminta sumbangan disertai ancaman. Dan para pedagang itu dengan senyum kecut dan terpaksa harus memberi uang sesuai yang diminta.
Ada juga narsisisme yang kuat tertangkap di dalam film ini, baik dari tuturan Anwar sendiri maupun Herman Koto yang bercita-cita menjadi anggota dewan. "Mengapa tidak mau (nyaleg)?", ujarnya. "Saya sudah pantas menjadi caleg karena sudah dikenal, kalo lolos kan bisa dapat uang dari manapun, bisa dapat sogokan dari mana-mana", sambil memberi contoh bagaimana ia bisa mengeruk uang dengan posisi sebagai anggota dewan. Lalu Anwar sendiri terdengar bijak dengan mengatakan anggota DPR adalah perampok berdasi.
Herman boleh jadi terinspirasi dari Marzuki, tokoh PP yang saat ini menjadi anggota dewan dari partai Golkar. Dengan polosnya Marzuki membeberkan bagaimana organisasi tersebut mengeruk uang dari kegiatan perjudian, illegal logging, illegal fishing, penyelundupan barang, memeras pengusaha. Dengan posisinya sebagai anggota dewan, ia lebih kuat karena orang-orang tersebut (yang ia peras) tahu bahwa ia memiliki jaringan dengan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.
Dan uniknya lagi, pada acara pertemuan organisasi ini juga dimulai dengan doa, yang membuat mereka terlihat "absurd", mungkin sama halnya dengan berbagai kejahatan lain di negeri ini yang sulit dibedakan karena dibungkus dengan agama.
Ternyata tidak hanya preman yang terlibat dalam pembunuhan ini, yang lebih mengejutkan seorang wartawan senior Medan Pos, (IS) juga terlibat dalam menginterogasi korban dan memutuskan siapa yang pantas dibunuh. Termasuk menyiarkan propaganda seolah-olah korban sangat jahat sehingga mereka memang layak menerima hukuman yang keji tersebut.
Berbeda dengan Anwar yang sedari awal merasa bangga dengan aksinya, Adi justru dengan lugas mengatakan, pihaknya lah yang salah, namun hingga akhir film ia tetap berpegang bahwa ia tak perlu merasa bersalah atas aksinya.
Sementara Anwar sendiri, yang pada awalnya terasa tidak memiliki empati terhadap para korban, pada akhirnya di salah satu adegan menyadari, inilah ketakutan yang dialami korbannya ketika menghadapi maut yang ia hantarkan lewat tangannya sendiri. Ia yang selama ini dihantui mimpi buruk, dan berusaha menutupi kegelisahannya dengan menggembar-gemborkan bahwa ia adalah pahlawan, pada akhirnya dalam satu adegan dimana ia berperan sebagai korban, tampaknya di dera perasaan bersalah.
Film ini menarik bukan karena unsur sejarahnya, yang memang minim tetapi jujur bertutur tentang pembunuhan massal yang terjadi pasca G.30S/PKI lewat pelakunya sendiri. Film ini dalam pandangan saya juga memberi kesempatan penyembuhan bagi Anwar Kongo sendiri dan pelaku lainnya.
Film ini meninggalkan pertanyaan besar bagi saya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh gerakan komunis sehingga mereka diganjar hukuman berat tak berperi kemanusiaan seperti ini? Hukuman yang membabi buta, tanpa peradilan dan berdampak pada ribuan nyawa. Informasi tentang gerakan komunis ini tampaknya masih tertutup kabut dan lebih banyak mengandalkan propaganda Orde Baru yang kejujurannya patut dipertanyakan.
Film ini juga membuka kesempatan bagi rekonsiliasi nasional serta meluruskan kembali sejarah bangsa, dan sudah selayaknya negara meminta maaf dan memberi kompensasi bagi keluarga korban.
Note: bagi mereka yang tinggal di Indonesia, film ini dapat di unduh di: theactofkilling.com
Anwar Congo yang merupakan tokoh utama film ini didampingi rekannya sesama pelaku, A Zulkadry serta Herman Koto, tokoh preman yang lebih muda, mengisahkan kembali tindakan pembunuhan yang mereka lakukan, dengan berbagai cara termasuk mengunjungi lokasi pembunuhan, mereka ulang kejadian-kejadian yang berujung pada pembunuhan tersebut termasuk dengan adegan-adegan teatrikal yang disisipkan dalam film ini dimana Herman Koto berperan sebagai waria dengan dandanan yang menyolok.
Film ini juga memberi gambaran betapa para pelaku justru di puji bagai pahlawan justru dengan pembunuhan yang mereka lakukan. Beberapa dekade setelahnya, Anwar Kongo yang mulai memasuki usia sepuh menjadi pentolan organisasi Pemuda Pancasila.
Sekilas film ini juga menyoroti aksi Pemuda Pancasila yang sejatinya berjuang mempertahankan Pancasila tetapi kenyataannya menjadi kanker dalam masyarakat. Tokoh-tokoh pemuda itu yang kebanyakan adalah preman mendatangi kios-kios di pasar Medan yg dimiliki warga keturunan Tionghoa dan meminta sumbangan disertai ancaman. Dan para pedagang itu dengan senyum kecut dan terpaksa harus memberi uang sesuai yang diminta.
Ada juga narsisisme yang kuat tertangkap di dalam film ini, baik dari tuturan Anwar sendiri maupun Herman Koto yang bercita-cita menjadi anggota dewan. "Mengapa tidak mau (nyaleg)?", ujarnya. "Saya sudah pantas menjadi caleg karena sudah dikenal, kalo lolos kan bisa dapat uang dari manapun, bisa dapat sogokan dari mana-mana", sambil memberi contoh bagaimana ia bisa mengeruk uang dengan posisi sebagai anggota dewan. Lalu Anwar sendiri terdengar bijak dengan mengatakan anggota DPR adalah perampok berdasi.
Herman boleh jadi terinspirasi dari Marzuki, tokoh PP yang saat ini menjadi anggota dewan dari partai Golkar. Dengan polosnya Marzuki membeberkan bagaimana organisasi tersebut mengeruk uang dari kegiatan perjudian, illegal logging, illegal fishing, penyelundupan barang, memeras pengusaha. Dengan posisinya sebagai anggota dewan, ia lebih kuat karena orang-orang tersebut (yang ia peras) tahu bahwa ia memiliki jaringan dengan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.
Dan uniknya lagi, pada acara pertemuan organisasi ini juga dimulai dengan doa, yang membuat mereka terlihat "absurd", mungkin sama halnya dengan berbagai kejahatan lain di negeri ini yang sulit dibedakan karena dibungkus dengan agama.
Ternyata tidak hanya preman yang terlibat dalam pembunuhan ini, yang lebih mengejutkan seorang wartawan senior Medan Pos, (IS) juga terlibat dalam menginterogasi korban dan memutuskan siapa yang pantas dibunuh. Termasuk menyiarkan propaganda seolah-olah korban sangat jahat sehingga mereka memang layak menerima hukuman yang keji tersebut.
Berbeda dengan Anwar yang sedari awal merasa bangga dengan aksinya, Adi justru dengan lugas mengatakan, pihaknya lah yang salah, namun hingga akhir film ia tetap berpegang bahwa ia tak perlu merasa bersalah atas aksinya.
Sementara Anwar sendiri, yang pada awalnya terasa tidak memiliki empati terhadap para korban, pada akhirnya di salah satu adegan menyadari, inilah ketakutan yang dialami korbannya ketika menghadapi maut yang ia hantarkan lewat tangannya sendiri. Ia yang selama ini dihantui mimpi buruk, dan berusaha menutupi kegelisahannya dengan menggembar-gemborkan bahwa ia adalah pahlawan, pada akhirnya dalam satu adegan dimana ia berperan sebagai korban, tampaknya di dera perasaan bersalah.
Film ini menarik bukan karena unsur sejarahnya, yang memang minim tetapi jujur bertutur tentang pembunuhan massal yang terjadi pasca G.30S/PKI lewat pelakunya sendiri. Film ini dalam pandangan saya juga memberi kesempatan penyembuhan bagi Anwar Kongo sendiri dan pelaku lainnya.
Film ini meninggalkan pertanyaan besar bagi saya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh gerakan komunis sehingga mereka diganjar hukuman berat tak berperi kemanusiaan seperti ini? Hukuman yang membabi buta, tanpa peradilan dan berdampak pada ribuan nyawa. Informasi tentang gerakan komunis ini tampaknya masih tertutup kabut dan lebih banyak mengandalkan propaganda Orde Baru yang kejujurannya patut dipertanyakan.
Film ini juga membuka kesempatan bagi rekonsiliasi nasional serta meluruskan kembali sejarah bangsa, dan sudah selayaknya negara meminta maaf dan memberi kompensasi bagi keluarga korban.
Note: bagi mereka yang tinggal di Indonesia, film ini dapat di unduh di: theactofkilling.com
Tuesday, October 1, 2013
Review film "Blue Jasmine".
Setelah menonton beberapa film besutan Woody Allen sebelumnya seperti Manhattan, Husband and Wife, hingga ke film-filmnya yang lebih baru seperti Vicky Christina Barcelona dan Midnight in Paris, film terakhir ini Woody Allen terasa kembali ke tema-tema yang lebih serius dan dalam.
Kate Blanchet pun sangat apik dalam perannya sebagai Jasmine atau Jeanette, wanita dari kalangan atas yang tinggal di East Side, New York yang pada akhirnya kehilangan segalanya, kekayaan, rumah mewah, perhiasan dan suami yang kaya raya.
Lalu Jasmine yang terbiasa hidup mewah, dengan pergaulan sosialnya mau tak mau harus memulai lagi dari nol. Film ini menceritakan dilema yang dialami Jasmine, dari penyangkalan diri terhadap situasi yang dialaminya, terutama dengan mempertahankan gaya berpakaian yang trendi, terbang ke San Francisco dengan "business class" untuk menumpang hidup dengan saudara perempuannya dan praktis tak memiliki uang serta diserang "nervous breakdown". Lalu mampukah ia melalui semuanya?
Yang jelas Woody Allen, sangat jeli sekali dalam membangun karakter-karakter yang kuat dan kontras antar pemain film ini. Dengan apik ia mengambarkan tingkah polah dan interaksi antar tokoh dalam film tersebut. Kepiawaiannya dalam menangkap gelagat kalangan atas dan bawah terasa sangat menggigit seperti halnya dalam film-film karyanya sebelumnya.
Dengan film ini Kate Blanchet pantas diganjar Oscar.
Kate Blanchet pun sangat apik dalam perannya sebagai Jasmine atau Jeanette, wanita dari kalangan atas yang tinggal di East Side, New York yang pada akhirnya kehilangan segalanya, kekayaan, rumah mewah, perhiasan dan suami yang kaya raya.
Lalu Jasmine yang terbiasa hidup mewah, dengan pergaulan sosialnya mau tak mau harus memulai lagi dari nol. Film ini menceritakan dilema yang dialami Jasmine, dari penyangkalan diri terhadap situasi yang dialaminya, terutama dengan mempertahankan gaya berpakaian yang trendi, terbang ke San Francisco dengan "business class" untuk menumpang hidup dengan saudara perempuannya dan praktis tak memiliki uang serta diserang "nervous breakdown". Lalu mampukah ia melalui semuanya?
Yang jelas Woody Allen, sangat jeli sekali dalam membangun karakter-karakter yang kuat dan kontras antar pemain film ini. Dengan apik ia mengambarkan tingkah polah dan interaksi antar tokoh dalam film tersebut. Kepiawaiannya dalam menangkap gelagat kalangan atas dan bawah terasa sangat menggigit seperti halnya dalam film-film karyanya sebelumnya.
Dengan film ini Kate Blanchet pantas diganjar Oscar.
Monday, September 16, 2013
Whale watching di Sunshine Coast
Sebenarnya sudah lama kami memiliki keinginan mengamati ikan paus. Tetapi dulu kog ya (semasa tinggal di DC) rasanya mahal amat. Kudu ke Alaska atau Norwegia. Dan sudah pasti biayanya sangat mahal dan menguras kantong karena kudu ikutan "cruise". Ga sanggup banged ya cyieen...
Mumpung saat ini tinggal di Australia dan ikan-ikan paus rutin melewati perairan disini dalam masa perpindahan mereka, maka hayuklah, mari melihat ikan paus dekat rumah!
Dekat rumah, karena hanya berjarak satu jam menyetir dari kediaman kami. Setelah mencari informasi lewat google, ternyata sedang ada diskon dari groupon. #Wah#*** padahal saya paling malas "subscribe" ke akun yang satu ini, malas dibanjiri email promosi. Cek bebi cek, ternyata sahabat saya memiliki akun tersebut. Alhamdulillah, akhirnya terbelilah tiga tiket untuk melihat ikan paus di perairan dekat pantai Mooloolaba, Sunshine Coast. Dan yang lebih menyenangkan, tentunya harga tiket yang telah dikurangi 50%. Horeee!
Sebelum berangkat, saya menyelidiki lagi tentang kegiatan "whalewatching" ini di situs trip advisor. Ternyata meski kegiatan ini hanya berlangsung tiga jam, banyak penumpang yang "jackpot". Hadeuh! Bisa berabe, secara suami juga sangat rawan terhadap "motion sick". Ditambah lagi dari kesaksian teman kami yang mengatakan hal yang sama. Maka pada malam sebelum kami berangkat saya membuat persiapan untuk besok paginya.
"lunch box" buat bertiga dengan ayam woku dan sayur pare pake teri / checked!
sunblock/ checked!
baju renang buat berdua dan kain pantai buat bertiga/ checked!
jaket tahan air/ checked!
botol minuman plus termos mini buat teh dan kopi/ checked
print-an tiket/ errr## waduh belum ke print, terpaksa malam-malam numpang ngeprint ke kantor suami. Ketahuan deh ga punya printer di rumah :)))
Memang persiapan kudu dilakukan satu malam sebelumnya, mengingat kami berdua bukan "manusia pagi" aka "not a morning person". (Ini Vickinisasi ga sih?) Alias raga boleh bangun tapi jiwanya masih melanglang buana dipagi hari. Kalau sudah disiapkan, pagi-pagi ga perlu mikir langsung capcus.
Maka setelah salah belok sekali, akhirnya sampai juga di Wharf-nya pantai Mooloolaba. Cari mencari kog ga ada kantornya Whale One. Wah jangan-jangan salah ini, cuma ada tulisan kecil yang menempel di restoran Thai dekat dermaga. Ah ternyata memang disitu meeting point-nya.
Kapal baru merapat membawa penumpang yang berangkat jam 7 pagi. Setelah diamat-amati, tidak ada yang kelihatan "miserable". Semua tampak segar dan ceria. Maka setelah sedikit drama karena ternyata tiket tidak dibawa dan membuat saya merasa "bersalah". Ditambah pertanyaan, lah kalo ga bisa ingat tiket gimana lagi yang lain-lain dari sahabat saya, waduh gimana ya? gimana dong? idih! segitunya, berarti predikat mama tiri yang efisien yang di dapat saat bepergian ke Flores beberapa tahun lalu (yang mengecek segala sesuatu dan merencanakan segala sesuatu) pudar dong? sungguh prestasi yang membanggakan!) Untungnya dapat SMS konfirmasi dari Whale One, ternyata ramah lingkungan sekali mereka, ga perlu print tiket, cukup tunjukkan bukti SMS saja. Ahhh! jadi lega deh :)
Segera saja kami memilih spot masing-masing dan bersiap-siap dengan kamera. Ombak laut lumayan "gengges" pagi itu. Begitu keluar dari sungai ombak langsung tinggi dan kapal naik turun dibuatnya, sesekali air laut memercik ke dek kapal. Ah untunglah saya "berpakaian" lengkap. Dan kayanya satu-satunya penumpang berpakaian lengkap. Sepatu tertutup, celana panjang dan baju lengan panjang plus rain jacket, yang terus terang membuat saya terlihat kontras dibanding penumpang lainnya pagi itu. Ga pa pa kan? demi menjaga supaya kulit tidak terbakar matahari yang baru saja pulih sepulangnya dari Gili 2 minggu lalu.
Setengah jam berlayar, belum juga keliatan tanda-tanda ikan paus. Lalu kapal berbelok ke kiri dan kapten mengumumkan adanya paus di kiri jauh. Wah! langsung pada ceria deh penumpangnya. Dan ga hanya satu, dua ekor saudara-saudara! Ibu dan anaknya!
Kapal mendekat dan menjaga jarak sekitar 50 meter dan mulailah kami berteriak-teriak kegirangan. "Exciting"! Melihat si kecil melompat-lompat ke udara, berenang kesana kemari dan ibunya yang berputar-putar di dekatnya.
Dan lucunya, semakin kami bertepuk tangan dan bersorak-sorak, semakin banyak aksi si kecil, ternyata paus narsis juga ya? hehehehe...
Lalu hingga ke satu titik, tiba-tiba ekor si ibu naik ke atas permukaan air nyaris 180 derajat. Dan itu berlangsung cukup lama, saya sampai mengira jangan-jangan dia terperangkap diantara batu karang. Lalu ia mulai menghempaskan ekornya ke air, berulang kali, sangat kuat sehingga terlihat busa air menyembur kemana-mana begitu ekornya mendarat di permukaan air.
Sementara si anak masih sibuk dengan gerakannya, melompat ke udara, berputar-putar, persis seperti anak kecil yang bermain. Tak jauh darinya ibu paus masih terus menghempaskan ekornya.
Lalu, si anak mendekat dan menaikkan ekornya, belum lurus seperti si ibu, nyaris bengkok malah. Dan dengan pelan menghempaskan ekornya. Wow!!...... kami terkesima. Lalu ia mulai lagi, kali ini lebih lurus, lebih cepat dan bertenaga.... Lagi! dan lagi!!! dan keduanya melakukan seirama! dan ini berlangsung beberapa menit.... Menit-menit yang berharga!
Deg! entah mengapa saya tiba-tiba terharu sekali. Sekaligus berkaca-kaca. Melihat ibu dan anak ini dan bagaimana pengetahuan tersebut di turunkan turun temurun, dari generasi ke generasi. Ah tiba-tiba saya pengin punya anak, saat itu juga, saat melihat betapa asiknya mereka, berdua saja dan laut milik berdua.
Tak lama si ibu melakukan gerakan lainnya, berenang sambil memutar tubuh, menggerakkan sirip seperti berenang gaya punggung dan sebagainya, dan si anak mengikutinya dan sesekali tetap saja melompat keluar air menampakkan tubuhnya yang kecil tetapi besar itu (yah, namanya juga bayi paus bukan bayi tikus) :)
Akhirnya, tiga jam kami pun usai, dan saya teringat suami, (isteri yang aneh) apakah ia bertahan di tengah gelombang tadi? terakhir kali saya melihatnya masih baik-baik saja di dek dalam tetapi setelah kapal mengarah ke paus ia tak terlihat lagi karena penumpang memadati dek.
Ternyata, meski sudah diganjar pil, doi tetap jackpot dan hanya bisa melihat atraksi tadi sebentar saja. Yaah, kesian sih tapi bagaimana lagi....
Keluar dari parkiran, kami menuju pantai yang terdekat, leyeh-leyeh sambil makan siang. Sungguh wiken yang menyenangkan!
Mumpung saat ini tinggal di Australia dan ikan-ikan paus rutin melewati perairan disini dalam masa perpindahan mereka, maka hayuklah, mari melihat ikan paus dekat rumah!
Dekat rumah, karena hanya berjarak satu jam menyetir dari kediaman kami. Setelah mencari informasi lewat google, ternyata sedang ada diskon dari groupon. #Wah#*** padahal saya paling malas "subscribe" ke akun yang satu ini, malas dibanjiri email promosi. Cek bebi cek, ternyata sahabat saya memiliki akun tersebut. Alhamdulillah, akhirnya terbelilah tiga tiket untuk melihat ikan paus di perairan dekat pantai Mooloolaba, Sunshine Coast. Dan yang lebih menyenangkan, tentunya harga tiket yang telah dikurangi 50%. Horeee!
Sebelum berangkat, saya menyelidiki lagi tentang kegiatan "whalewatching" ini di situs trip advisor. Ternyata meski kegiatan ini hanya berlangsung tiga jam, banyak penumpang yang "jackpot". Hadeuh! Bisa berabe, secara suami juga sangat rawan terhadap "motion sick". Ditambah lagi dari kesaksian teman kami yang mengatakan hal yang sama. Maka pada malam sebelum kami berangkat saya membuat persiapan untuk besok paginya.
"lunch box" buat bertiga dengan ayam woku dan sayur pare pake teri / checked!
sunblock/ checked!
baju renang buat berdua dan kain pantai buat bertiga/ checked!
jaket tahan air/ checked!
botol minuman plus termos mini buat teh dan kopi/ checked
print-an tiket/ errr## waduh belum ke print, terpaksa malam-malam numpang ngeprint ke kantor suami. Ketahuan deh ga punya printer di rumah :)))
Memang persiapan kudu dilakukan satu malam sebelumnya, mengingat kami berdua bukan "manusia pagi" aka "not a morning person". (Ini Vickinisasi ga sih?) Alias raga boleh bangun tapi jiwanya masih melanglang buana dipagi hari. Kalau sudah disiapkan, pagi-pagi ga perlu mikir langsung capcus.
Maka setelah salah belok sekali, akhirnya sampai juga di Wharf-nya pantai Mooloolaba. Cari mencari kog ga ada kantornya Whale One. Wah jangan-jangan salah ini, cuma ada tulisan kecil yang menempel di restoran Thai dekat dermaga. Ah ternyata memang disitu meeting point-nya.
Kapal baru merapat membawa penumpang yang berangkat jam 7 pagi. Setelah diamat-amati, tidak ada yang kelihatan "miserable". Semua tampak segar dan ceria. Maka setelah sedikit drama karena ternyata tiket tidak dibawa dan membuat saya merasa "bersalah". Ditambah pertanyaan, lah kalo ga bisa ingat tiket gimana lagi yang lain-lain dari sahabat saya, waduh gimana ya? gimana dong? idih! segitunya, berarti predikat mama tiri yang efisien yang di dapat saat bepergian ke Flores beberapa tahun lalu (yang mengecek segala sesuatu dan merencanakan segala sesuatu) pudar dong? sungguh prestasi yang membanggakan!) Untungnya dapat SMS konfirmasi dari Whale One, ternyata ramah lingkungan sekali mereka, ga perlu print tiket, cukup tunjukkan bukti SMS saja. Ahhh! jadi lega deh :)
Segera saja kami memilih spot masing-masing dan bersiap-siap dengan kamera. Ombak laut lumayan "gengges" pagi itu. Begitu keluar dari sungai ombak langsung tinggi dan kapal naik turun dibuatnya, sesekali air laut memercik ke dek kapal. Ah untunglah saya "berpakaian" lengkap. Dan kayanya satu-satunya penumpang berpakaian lengkap. Sepatu tertutup, celana panjang dan baju lengan panjang plus rain jacket, yang terus terang membuat saya terlihat kontras dibanding penumpang lainnya pagi itu. Ga pa pa kan? demi menjaga supaya kulit tidak terbakar matahari yang baru saja pulih sepulangnya dari Gili 2 minggu lalu.
Setengah jam berlayar, belum juga keliatan tanda-tanda ikan paus. Lalu kapal berbelok ke kiri dan kapten mengumumkan adanya paus di kiri jauh. Wah! langsung pada ceria deh penumpangnya. Dan ga hanya satu, dua ekor saudara-saudara! Ibu dan anaknya!
Kapal mendekat dan menjaga jarak sekitar 50 meter dan mulailah kami berteriak-teriak kegirangan. "Exciting"! Melihat si kecil melompat-lompat ke udara, berenang kesana kemari dan ibunya yang berputar-putar di dekatnya.
Dan lucunya, semakin kami bertepuk tangan dan bersorak-sorak, semakin banyak aksi si kecil, ternyata paus narsis juga ya? hehehehe...
Lalu hingga ke satu titik, tiba-tiba ekor si ibu naik ke atas permukaan air nyaris 180 derajat. Dan itu berlangsung cukup lama, saya sampai mengira jangan-jangan dia terperangkap diantara batu karang. Lalu ia mulai menghempaskan ekornya ke air, berulang kali, sangat kuat sehingga terlihat busa air menyembur kemana-mana begitu ekornya mendarat di permukaan air.
Sementara si anak masih sibuk dengan gerakannya, melompat ke udara, berputar-putar, persis seperti anak kecil yang bermain. Tak jauh darinya ibu paus masih terus menghempaskan ekornya.
Lalu, si anak mendekat dan menaikkan ekornya, belum lurus seperti si ibu, nyaris bengkok malah. Dan dengan pelan menghempaskan ekornya. Wow!!...... kami terkesima. Lalu ia mulai lagi, kali ini lebih lurus, lebih cepat dan bertenaga.... Lagi! dan lagi!!! dan keduanya melakukan seirama! dan ini berlangsung beberapa menit.... Menit-menit yang berharga!
| "You and me and the ocean is ours" |
Deg! entah mengapa saya tiba-tiba terharu sekali. Sekaligus berkaca-kaca. Melihat ibu dan anak ini dan bagaimana pengetahuan tersebut di turunkan turun temurun, dari generasi ke generasi. Ah tiba-tiba saya pengin punya anak, saat itu juga, saat melihat betapa asiknya mereka, berdua saja dan laut milik berdua.
Tak lama si ibu melakukan gerakan lainnya, berenang sambil memutar tubuh, menggerakkan sirip seperti berenang gaya punggung dan sebagainya, dan si anak mengikutinya dan sesekali tetap saja melompat keluar air menampakkan tubuhnya yang kecil tetapi besar itu (yah, namanya juga bayi paus bukan bayi tikus) :)
Akhirnya, tiga jam kami pun usai, dan saya teringat suami, (isteri yang aneh) apakah ia bertahan di tengah gelombang tadi? terakhir kali saya melihatnya masih baik-baik saja di dek dalam tetapi setelah kapal mengarah ke paus ia tak terlihat lagi karena penumpang memadati dek.
Ternyata, meski sudah diganjar pil, doi tetap jackpot dan hanya bisa melihat atraksi tadi sebentar saja. Yaah, kesian sih tapi bagaimana lagi....
Keluar dari parkiran, kami menuju pantai yang terdekat, leyeh-leyeh sambil makan siang. Sungguh wiken yang menyenangkan!
Subscribe to:
Posts (Atom)