Wednesday, June 13, 2012

Film Review Altipplano (2009)

Salah satu yang menyenangkan di Australia bagi pecinta film independent adalah saluran televisi SBS. Di jaringan ini berbagai program menarik dapat dinikmati pemirsa, dari dokumentari BBC mengenai sejarah dunia, kehidupan masyarakat di sekitar perairan/ samudera Hindia, cerita perjalanan sambil belajar memasak hingga penayangan film-film independent. Sejak tinggal disini, kami jarang pergi ke bioskop untuk menonton film independent, ya apalagi kalau bukan karena saluran SBS tersebut.

Minggu ini saya menonton film berjudul Altiplano karya Peter Brosens dan Jessica Woodworth. Altiplano yang dalam bahasa Spanyol berarti dataran tinggi, adalah rangkaian dataran tinggi Andes yang terletak di wilayah Amerika Selatan meliputi sebagian wilayah Chili, Argentina, Bolivia dan Peru.



Adalah Grace, seorang photographer asal Belgia yang berusaha memulihkan kondisinya pasca meliput perang di Irak, dimana ia mendokumentasikan eksekusi guide-nya, Omar. Photo yang menurut Grace tak pantas untuk di ambil maupun diberi penghargaan, kejadian yang membawanya ke dalam depresi.

Sementara, di Turbamba, sebuah desa kecil di pegunungan Andes, Peru, Saturnina sedang bersiap diri menyelenggarakan pesta pernikahannya dengan Ignacio. Upacara persiapan terganggu dengan jatuh dan pecahnya patung Bunda Maria yang diusung karena anak-anak berlarian setelah melihat air berkilauan terkontaminasi merkuri dari pertambangan di dekat desa tersebut.

Merkuri yang mengguncang desa itu, diawali dengan kebutaan, perdarahan dan berakhir dengan kematian beberapa penduduk desa. Grace dan Saturnina, dipertemukan lewat Max, suami Grace, seorang dokter mata yang ditempatkan di klinik Katarak di dekat Turbamba, tragisnya Max meninggal di desa itu akibat kemarahan warga setempat, kematian itu pula yang mendorong Grace untuk pergi ke Turbamba.

Semasa di Belgia, Max mendorong Grace untuk menerima penghargaan fotografi di Irak tersebut, tetapi ia berkilah "sebuah photo tidak pernah menghentikan peperangan". Namun lain halnya dengan Saturnina, pasca kematian Ignacio ia dan penduduk desa berusaha dengan caranya sendiri memprotes pertambangan di wilayah desanya. Menurut Saturnina, "tanpa gambar maka tak akan ada sebuah cerita, dan bahwa ia tidak akan mati diam-diam maupun pergi tak terlihat". Kontras ini tersambung padi bagian akhir cerita ketika Grace terekspos dengan rekaman Saturnina.

Salah satu kekuatan film ini menurut saya adalah sinematografi yang kuat, gambar-gambarnya sangat berkualitas, kontras antara kehidupan Grace dan Saturnina, pemandangan Andes yang indah disertai ritual-ritual masyarakat setempat. Dan meskipun kekuatan gambar-gambar tersebut sangat terasa, film ini tidak kehilangan alur cerita dan termakan oleh gambar-gambar tersebut seperti beberapa film-film lainnya yang terkadang demi visualisasi kehilangan pesan yang ingin disampaikan.

Friday, June 1, 2012

Bullying Di Tempat Kerja

Bullying berasal dari kata bully, adalah orang yang suka mengganggu atau mengancam orang lain baik lewat kata-kata maupun tindakan fisik yang mengakibatkan korbannya merasa tidak nyaman, ketakutan ataupun menanggung malu.

Biasanya sikap ini dipicu oleh keinginan si pelaku atau "bully" untuk mengontol korbannya pada saat tertentu dengan cara-cara tertentu pula. Biasanya yang menjadi korban adalah mereka yang berada pada level junior termasuk mereka yang baru saja memulai pekerjaannya di tempat tersebut.

Pertama kali mengalaminya, saat bekerja di divisi yang baru saja dibentuk di sebuah lembaga internasional. Orang-orang yang di rekrut kebanyakan orang baru dengan latar belakang khusus dan di latih secara khusus pula, ternyata pelatihan ini merupakan sesuatu yang baru dan menimbulkan kecemburuan, maka tanda-tanda bullying semakin jelas dengan berbagai ungkapan yang menyerang praktek-praktek baru yang diberlakukan. Ungkapan "itu tidak biasa dilakukan disini" kerap dilontarkan untuk tindakan ataupun inisiatif apa saja yang diambil.

Menurut "Workplace Bullying Institute" ungkapan tadi merupakan salah satu tanda yang menjurus pada bullying di tempat kerja, ungkapan itu ditujukan untuk meminimalisasi inovasi-inovasi baru sekaligus mematikan persaingan di tempat kerja.

Disamping itu, pelaku bully biasanya adalah orang-orang yang sangat ambisius dan sedikit banyaknya juga narsisistik, anti sosial dan hanya berfokus pada pencapaian pribadinya dan cenderung menyakiti orang lain demi mencapai keinginannya. Karena pelaku ini sangat ambisius ia akan melakukan apa saja agar dirinya terlihat hebat di tempat kerja, ia tidak peduli jika ia harus merebut pekerjaan orang lain karena baginya yang terpenting adalah betapa hebat reputasinya setelah itu.

Tak jarang, setelah berhasil melakukan manipulasinya, pelaku terjebak dengan beban kerjanya sendiri dan prilaku bully-nya pun akan keluar. Dengan mudah ia akan mengintimidasi orang-orang yang bekerja satu tim dengan dirinya dan menjadikan beban kerja sebagai alasan ia berlaku kasar kepada rekan-rekan kerjanya. Prilaku ini akan terus berlanjut dan menyebabkan ketidaknyamanan dalam tim dan tidak akan berhenti sebelum pelakunya dihukum karena perbuatan tersebut.

Tanda-tanda yang paling jelas adalah lewat ucapan-ucapan kasar, bahasa tubuh memerintah maupun gertakan, yang membuat korban mengalami tekanan psikologis dan tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaan.

Sayangnya, manajer yang mempekerjakan para bully, cenderung tidak tahu atau menutup mata terhadap prilaku ini. Dan terkadang tidak mudah bagi korban untuk melaporkan kejadian tersebut, karena si pelaku sangat pandai memutarbalikkan fakta sehingga membuat korban kebingungan karena fakta dan perasaan yang ia alami tidak mudah dipilah.

Dan pihak yang paling berkompeten menangani pelaku adalah manejer mereka. Selama mereka dibiarkan mereka tidak akan pernah merasa bersalah dengan tindakan tersebut dan akan terus menerus mencari korban baru untuk melampiaskan emosinya.

Jadi, ada baiknya ketika menelusuri pekerja baru di tempat kerja, jangan hanya mengandalkan referensi dari manajer saja, sebaiknya tanyakan juga pada rekan kerja sehingga prilaku ini bisa dengan cepat ditangani.

Tuesday, May 29, 2012

Mencari Banana House-2 (finish)

Akhirnya setelah melalui proses pencarian yang mendebarkan termasuk menyetir di jalur bus dan masuk stasiun, Banana  House ditemukan juga.

Tak ada yang terlalu istimewa di tempat ini kecuali jaraknya yang cukup dekat ke kota, berada di lingkungan yang jauh dari kebisingan/ party zone dan interiornya yang rapi tetapi sangat mungil. Tapi setidaknya kali ini ada balkoni :)

Ya, balkoni sudah lama menjadi bahan candaan di tempat lama di Rockville. Tinggal di lantai 7 tanpa balkoni terasa menyesakkan. Dan lebih parah karena itu adalah lantai teratas maka pada musim panas akan terasa sangat panas dan musim dingin tentunya lebih dingin.

Banana home yang sekarang terletak di kompleks kecil tiga lantai, dan seperti kebanyakan rumah/ apartemen di Brisbane yang konon dicintai oleh banjir, maka lantai dasar biasanya merupakan garasi atau gudang. Praktis yang ditinggali lantai dua ke atas.

Pindah ke tempat baru cukup gampang disini. Ada lembaga yang membantu kita mengaktifkan sambungan listrik, air, telephone dan internet sehingga ketika kita masuk ke tempat baru semuanya sudah tersambung. Usahakan memberi jeda waktu 2 minggu untuk urusan tersebut sehingga lembaga tadi yang bernama "On The Move" bisa mengakomodir permintaan kita.

Terus terang urusan internetlah yang paling ribet saat pindah kemarin. Di tempat penampungan sementara, kami membeli layanan Jimojo untuk dua bulan penuh, tetapi jarang sekali bisa tersambung dan ketika di sampaikan keluhan mereka sama sekali tidak menanggapinya, juga mereka diam saja ketika diminta mengembalikan uang yang telah dibayarkan karena servis yang buruk tersebut. Terus terang ini cukup mengagetkan, sepertinya hak konsumen tidak dihargai sama sekali.

Dan akses internet di tempat baru cukup lama, berhubung penghuni sebelumnya tidak memiliki sambungan telepon, sehingga sambungan baru harus dibuat sebelum bisa tersambung, disini lagi-lagi terasa layanan mereka kurang memuaskan, dan tampaknya sistim review di internet belum dipraktekkan secara luas disini. Sistim review online sangat bermanfaat bagi konsumen sekaligus menjadi alat pemberi masukan yang baik bagi perusahaan dalam memperbaiki layanan mereka.

Pada hari yang sedikit cerah, kira-kira beginilah pemandangan dari Banana home.



Ya, pemandangan disini tak banyak bedanya dari Indonesia, beberapa tanaman terlihat familiar, demikian juga dengan unggas yang beterbangan, bedanya disini, terasa lebih hijau dan burung-burung bebas bernyanyi dan beterbangan serta membuat keributan :)

Kembali ke Banana Home, semoga tempat ini membuat kami betah menjalani hari-hari ke depan.

Saturday, March 17, 2012

Mencari Banana House-1

Tepat dua minggu tinggal di TPS (Tempat Penampungan Sementara) kami mulai mencari apartemen untuk ditempati ke depan. Ada berbagai pertimbangan yang diambil dalam mencari tempat tinggal baru ini, jarak ke tempat kerja, transportasi, fasilitas, dan akses ke berbagai tempat seperti pasar swalayan, restoran, serta berapa kamar yang tersedia.
 
Awalnya, kami sudah jatuh cinta dengan TPS di Gregory Terrace yang ditempati saat ini, lokasinya yang cukup sentral di Fortitude Valley dan P bisa berjalan kaki ke kantor serta kami bisa berjalan kaki ke pusat kota termasuk Queen Street dan China Town yang hanya berjarak 300m serta tersedianya kolam renang/ jacuzzi/gym yang terasa sangat menyenangkan. Hanya saja, Fortitude Valley adalah salah satu "party area" di Brisbane, di jalan yang kurang dari 500 meter terdapat 3-4 pubs yang memainkan musik yang berdentum keras di telinga terutama di akhir pekan.

The Story Bridge-Brisbane


Sekedar catatan, ketika kami memutuskan berjalan kaki setelah mengikuti acara berbuka bersama dari kedutaan di Dupont Circle menuju stasiun Adam Morgan yang merupakan salah satu "party area di DC yang dipenuhi anak-anak muda gaul, mengamati betapa "excitingnya" anak-anak muda ini berdandan dan berseliweran di pubs-pubs disana, kami berdua paham, "gaul" bukan lagi salah satu prioritas saat ini. Bertahan sampai jam 12 malam saja rasanya sudah luar biasa, sesudah itu, tentunya tak sanggup menanggung pagi yang terasa seperti "jet lagged" yang berlangsung sedikitnya hingga dua hari setelah itu. Ya begadang jangan begadang, kata Bang Oma. Terutama kalau tak lagi punya "stamina".

Musisi memainkan musik "Irish" pada St Patrick Festival di Queen Street.
Minggu lalu adalah saat pertama kalinya melihat apartemen, dengan menenteng catatan kecil dan pulpen, dengan sedikit deg-degan (yang tentunya tidak penting), akhirnya bus yang ditunggu-tunggu berhenti di halte. Berbeda dengan di Maryland/ Washington DC, dimana kita hanya perlu memindai kartu bus sekali saja, saat naik di Brisbane, kartu dipindai saat naik dan turun dari bus, sistim ini lebih mirip dengan menaiki metro (kereta bawah tanah di DC).

Bus segera mengarah ke utara dan berhenti di terminal Brisbane Royal Hospital, terminal yang hanya terdiri dari dua jalur, dengan beberapa kursi kayu bagi penumpang dan layar yang menunjukkan nomor bus dan tujuannya. Terminal bus terlihat sangat bersih, nyaman dan moderen. Beberapa bus terus melaju ketika tak terlihat satu orangpun penumpang yang melambaikan tangan. Ya, terasa cukup lucu karena berdiri di halte saja tidak cukup untuk membuat bus berhenti, calon penumpang harus melambaikan tangan pada bus yang mendekat, sehingga supir menghentikan bus tersebut.

Apartemen yang pertama ini "penampakannya" cukup menjanjikan seperti yang terlihat di laman www.realestate.com.au maupun www.domains.com.au dengan kolam renang di tengah serta modelnya yang menyerupai cottage terlihat menjanjikan, tetapi setelah melihat langsung pencahayaan apartemen ini terasa kurang dan kolam renang yang ada di tengah kompleks sangat kecil tak seperi yang ada digambar.

Perjalanan pulang tak semulus perjalanan pergi, karena ingin sedikit bertualang, saya memutuskan menunggu bus dari jalan yang lain, dan tiba-tiba gerimis mulai melanda, dan bus yang ditunggu lewat padahal jalan pun belum disebrangi. Lumayan juga menunggu bus selanjutnya 20 menit lebih di tengah gerimis. Biasanya di waktu "rush hour" jam pp kerja, frekuensi bus lebih banyak dibanding waktu lainnya.

Pencarian apartemen terus dilanjutkan ditengah kondisi internet yang hidup/matinya hanya operator dan Tuhan saja yang tahu. Kadang nyala sehari penuh, kadang tak ada tandanya sama sekali dan rasanya sudah malas buat mengeluh ke manejer yang noatbene baru dan belum begitu handal menangani keluhan ini.

Akhirnya, weekend ini kami memutuskan menyewa mobil untuk melihat-lihat apartemen yang ingin kami amati lebih dekat. Kami berdua yakin, melihat langsung tempatnya, mengamati lingkungan sekitar dan merasa nyaman adalah salah satu kunci utama saat memutuskan yang mana yang akan di tempati.

Di Australia, seperti halnya di Indonesia, orang menyetir di sebelah kiri. Berbeda dengan Amerika dimana penumpang duduk di sebelah kanan. Dulu selalu ada saja kejadian lucu saat menjadi penumpang disana. Ketika akan bepergian saya selalu mengarah ke pintu depan kiri dan P suka bertanya," mau nyetir ya?" sambil nyengir tentunya. Dan itu tak terjadi sekali saja, ya, kadang susah mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung cukup lama itu. Selama tinggal di sana, saya lebih memilih menjadi penumpang, karena malas mengurus learner permit. Mestinya bisa dengan memakai SIM Indonesia, tetapi berhubung SIM saya mati dan saat akan di perpanjang urusannya lumayan berbelit ditambah tak ingin menghabiskan waktu libur untuk mengurusnya, maka dengan sukses saya tak bisa menyetir baik ketika berlibur di kampung halaman maupun ketika tinggal di Rockville.

Saran saya, buat teman-teman yang ingin menyetir di luar, jangan lupa urus SIM internasional, di Ditlantas Jakarta MT Haryono, cukup dengan membawa fotokopi KTP/Paspor dan pas photo serta membayar 250 ribu dan meluangkan waktu 15 menit saja, sudah bisa mendapat SIM Internasional yang bisa digunakan selama beberapa bulan di negara lain, sehingga tetap bisa menyetir sambil menunggu keluarnya SIM baru.

Kembali ke urusan sewa mobil, dengan posisi menyetir di sebelah kiri, akhirnya diputuskan saya yang akan menyetir saudara-saudara! Duh! Deg! Dong! Rasanya....lumayan nano-nano, terutama setelah sukses menjadi penumpang selama bertahun-tahun dan tak pernah menyetir sejak hari pernikahan tahun 2007 silam, akhirnya saya akan kembali di belakang kemudi dan di tempat asing pula ;)

Setelah sukses mengalahkan rasa khawatir, rasa "excited" dan tentunya sambil mengatasi rasa canggung, pelan-pelan saya mengeluarkan mobil mini Hyundai Getz dari kandangnya di lantai dua parkiran. Ternyata jalan yang saya pilih macet dan satu-satunya pilihan adalah mundur ke tanjakan. "Bagaimana bisa??"...seumur-umur kalau mundur ya di jalan rata dong, mestinya sih bisa aja, tetapi rasa canggung benar-benar merajai, akhirnya P menawarkan bantuan dan mengembalikan si mungil ke jalur sebenarnya :)

Tentu saja, salah "exit" tadi bukan satu-satunya petualangan saya hari ini. 300 meter meninggalkan parkiran saya mulai paham bahwa jalan di depan saya mulai menanjak dan ujungnya tidak terlihat, sementara saya masih meraba-raba berusaha memulihkan kemampuan nyetir yang lama tertidur. Akhirnya sukses juga sampai di jalan utama, dan sambil mendengar GPS dan tentunya bantuan "navigator" yang duduk disamping, saya berpikir, ya ikutin saja bus yang di depan, yang sama-sama mengarah ke kiri. Bus berbelok ke kiri lalu mengambil jalur kanan, saya dengan sigap mengikutinya, tak lama saya sadar, ya ampun! Bus kan menuju terminal! Dan tak ada jalan lain, saya dengan senyum malu-malu mengekor di belakang bus (tentunya dengan pandangan aneh penumpang yang menunggu di terminal) dan begitu ada kesempatan saya segera menyerongkan si mungil ke kiri, keluar dari jalur bus secepatnya sebelum ada yang "ngepriiit" tentunya.

Kalaupun dihentikan, saya sudah pasrah, "maaf Pak," saya baru di kota ini dan belum paham jalan, untungnya manuver tadi berlangsung mulus dan perjalanan bisa dilanjutkan. Ternyata tanjakan yang pertama tadi belum seberapa dibandingkan dengan tanjakan-tanjakan sebelumnya. Tentu saja pada saat lampu merah, rasa grogi kembali menyerang, sambil ngedumel "duh kenapa sih mobil yang dibelakang deket banget?"!!!Ga tahu apa sini masih suka mundur kalo berhenti di tanjakan, dan puncaknya, setelah berhenti di salah satu tanjakan si mungil tak bergerak maju sama sekali dan malah...sedikit mundur@$@!@@ padahal gas sudah ditekan sedalam mungkin, sambil menarik napas dan merapal doa-doa, terdengar P berkata, ya kan giginya belum masuk...(saya hanya bisa !@@$%%#@!!!!) dan si mungil kembali melesat.

Akhirnya setelah menyetir nyaris setengah hari, tak terasa memegang kemudi tidak lagi menegangkan seperti beberapa jam sebelumnya, berhenti di tanjakan bukan lagi hal yang menakutkan dan si mungil melesat lebih mulus. Dan beberapa calon "BananaHouse" mulai terlihat. Di Amerika, "unfurnished" apartemen biasanya telah memiliki kompor gas/listrik dan lemari es serta fasilitas "laundry" baik internal maupun sharing, sehingga kita hanya perlu membeli perabotan, disini hanya satu yang pasti, di dapur tersedia kompor gas, terkadang dibarengi dengan dishing machine dan fasilitas "laundry" di beberapa tempat hanya kompor yang tersedia.

Setelah enam jam di jalan dan mengunjungi beberapa area dan berhasil melihat beberapa apartemen, bertanya-tanya pada brokernya serta orang yang tinggal disana dan membuat catatan kecil mengenai beberapa tempat yang menarik perhatian. Kami memutuskan perjalanan hari ini dicukupkan sampai disini, dan berharap tak lama lagi kami memiliki tempat sendiri. Tak lupa, thanks to P yang telah menjadi navigator handal dan sangat sabar hari ini.




Monday, March 12, 2012

Kapan Kita Memulihkan Martabat Penyandang Cacat?

Dulu pertama kali menginjakkan kaki di salah satu negara Eropa, saya tertegun melihat banyaknya orang dengan kursi roda di jalanan. Pikiran naif saya berkata "ada apa dengan negeri ini?" mengapa begitu banyak penderita cacat disini? apakah angka kecelakaan demikian tingginya? atau ada sesuatu dengan "gen" mereka?"

Ternyata di seluruh dunia ada sekitar 600 juta orang menderita cacat baik fisik maupun mental dan 80% diantaranya tinggal di negara berkembang. Lalu kalau merefleksikan balik ke Jakarta misalnya, jarang sekali penderita cacat berkeliaran di jalan-jalan. Padahal sebagai ibu kota negara yang sedang berkembang bisa jadi angka penyandang cacat cukup tinggi di Jakarta.

Lalu setelah dipikirkan lebih jauh tentu saja, penyandang cacat di beberapa negara maju seperti di Amerika dan Eropa lebih "feasible", tak lain dan tak bukan karena tersedianya akses bagi mereka untuk tetap aktif dan tampil di publik.

Penyandang cacat disana mendapat kesempatan untuk bisa hidup layaknya orang normal, diberi perlengkapan dan kemudahan fasilitas untuk mendukung mobilitasnya misalnya tempat di bus ataupun metro yang memungkinkan akomodasi kursi roda, peraturan perusahaan yang memungkinkan mereka bekerja sesuai kemampuannya. Dari menjadi direktur di sebuah lembaga keuangan dunia yang terkenal hingga menjadi petugas pemungut tiket dibioskop-bioskop.

Lalu apa yang terjadi dengan penderita cacat di negara berkembang? dari disembunyikan keberadaannya karena mengundang malu bagi keluarga, diantarkan di tempat lain yang bisa menampungnya atau menghabiskan hari begitu saja dan sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan anggota keluarganya. 

Sehingga bisa ditarik segitiga yang menggambarkan hubungan antara kecacatan-kerawanan terhadap kemiskinan dan kemiskinan (presented by ICRC berdasarkan pengalaman di negara konflik di Afrika).

Mungkin sudah saatnya kita membuka mata dan memberi dukungan bagi anggota masyarakat kita yang menjadi penyandang cacat.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita mulai dari menggolkan kebijakan publik yang bisa membuat mereka menjadi peserta aktif dan setara  antara lain melalui:

Mengadopsi sepenuhnya UN convention on people with disability dengan menelurkan kebijakan terkait penderita cacat. Indonesia merupakan salah satu negara yg telah menanda tangani konvensi tersebut.(http://www.un.org/disabilities/) 

Penandatangan konvensi merupakan sebuah langkah awal untuk berkomitmen dalam gagasan yang diusung konvensi tersebut, lebih lanjut diperlukan langkah konkrit untuk mewujudkannya.

Salah satu kebijakan yang bisa di ambil adalah dengan mengeluarkan peraturan yang mengakomodir kebutuhan penyandang cacat untuk bisa mendapat akses transportasi yang akan menyokong mobilitas mereka baik untuk keperluan ke sekolah, bekerja, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dengan melibatkan penyandang cacat dalam pembuatan keputusan, maka kita bisa mengharapkan tersedianya fasilitas transportasi, jalan serta kendaraan umum yang mengakomodasi kebutuhan mereka. Tersedianya akses ini akan membuka jalan bagi mereka untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang dinikmati penduduk secara umum.

Kebijakan lain adalah dihapuskannya diskriminasi terhadap penyandang cacat untuk bisa bekerja dalam berbagai sektor. Diskriminasi disini tidak berarti dilakukan secara formal, tetapi ada baiknya untuk berbagai pekerjaan yang layak dilakukan dengan kondisi fisik maupun mental yang terbatas, ada persentase yang khusus diberikan bagi penyandang cacat. Di Amerika, misalnya, ada petugas marketing di toko komputer yang bisu namun handal melakukan percakapan lewat layar komputer, atau di beberapa pasar swalayan, sebagian petugas logistik dan kebersihan berasal dari kalangan penyandang cacat. Mungkin pemerintah bisa memberikan "keuntungan" khusus kepada perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan penyandang cacat sebagai stimulan.

Tidak ada seorangpun yang ingin dilahirkan cacat ataupun menderita kecacatan dalam masa hidupnya. Menyembunyikan anggota keluarga yang menderita cacat adalah sesuatu yang tidak bisa diterima lagi di abad yang moderen ini. Tetapi stigma terhadap penderita cacat dan keluarganya masih terus berlangsung hingga sekarang, sudah saatnya berbagai pihak melakukan program advokasi untuk memerangi stigma yang sangat merugikan ini. Setiap orang yang terlahir memiliki bakat tertentu, tak terkecuali dengan mereka yang cacat.

Dengan kebijakan dan program yang inklusif bukan tak mungkin, ke depannya sebagian besar penyandang cacat tidak perlu lagi bergantung dengan keluarga mereka namun bisa hidup mandiri dan bermartabat.