Monday, March 12, 2012

Kapan Kita Memulihkan Martabat Penyandang Cacat?

Dulu pertama kali menginjakkan kaki di salah satu negara Eropa, saya tertegun melihat banyaknya orang dengan kursi roda di jalanan. Pikiran naif saya berkata "ada apa dengan negeri ini?" mengapa begitu banyak penderita cacat disini? apakah angka kecelakaan demikian tingginya? atau ada sesuatu dengan "gen" mereka?"

Ternyata di seluruh dunia ada sekitar 600 juta orang menderita cacat baik fisik maupun mental dan 80% diantaranya tinggal di negara berkembang. Lalu kalau merefleksikan balik ke Jakarta misalnya, jarang sekali penderita cacat berkeliaran di jalan-jalan. Padahal sebagai ibu kota negara yang sedang berkembang bisa jadi angka penyandang cacat cukup tinggi di Jakarta.

Lalu setelah dipikirkan lebih jauh tentu saja, penyandang cacat di beberapa negara maju seperti di Amerika dan Eropa lebih "feasible", tak lain dan tak bukan karena tersedianya akses bagi mereka untuk tetap aktif dan tampil di publik.

Penyandang cacat disana mendapat kesempatan untuk bisa hidup layaknya orang normal, diberi perlengkapan dan kemudahan fasilitas untuk mendukung mobilitasnya misalnya tempat di bus ataupun metro yang memungkinkan akomodasi kursi roda, peraturan perusahaan yang memungkinkan mereka bekerja sesuai kemampuannya. Dari menjadi direktur di sebuah lembaga keuangan dunia yang terkenal hingga menjadi petugas pemungut tiket dibioskop-bioskop.

Lalu apa yang terjadi dengan penderita cacat di negara berkembang? dari disembunyikan keberadaannya karena mengundang malu bagi keluarga, diantarkan di tempat lain yang bisa menampungnya atau menghabiskan hari begitu saja dan sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan anggota keluarganya. 

Sehingga bisa ditarik segitiga yang menggambarkan hubungan antara kecacatan-kerawanan terhadap kemiskinan dan kemiskinan (presented by ICRC berdasarkan pengalaman di negara konflik di Afrika).

Mungkin sudah saatnya kita membuka mata dan memberi dukungan bagi anggota masyarakat kita yang menjadi penyandang cacat.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita mulai dari menggolkan kebijakan publik yang bisa membuat mereka menjadi peserta aktif dan setara  antara lain melalui:

Mengadopsi sepenuhnya UN convention on people with disability dengan menelurkan kebijakan terkait penderita cacat. Indonesia merupakan salah satu negara yg telah menanda tangani konvensi tersebut.(http://www.un.org/disabilities/) 

Penandatangan konvensi merupakan sebuah langkah awal untuk berkomitmen dalam gagasan yang diusung konvensi tersebut, lebih lanjut diperlukan langkah konkrit untuk mewujudkannya.

Salah satu kebijakan yang bisa di ambil adalah dengan mengeluarkan peraturan yang mengakomodir kebutuhan penyandang cacat untuk bisa mendapat akses transportasi yang akan menyokong mobilitas mereka baik untuk keperluan ke sekolah, bekerja, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dengan melibatkan penyandang cacat dalam pembuatan keputusan, maka kita bisa mengharapkan tersedianya fasilitas transportasi, jalan serta kendaraan umum yang mengakomodasi kebutuhan mereka. Tersedianya akses ini akan membuka jalan bagi mereka untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang dinikmati penduduk secara umum.

Kebijakan lain adalah dihapuskannya diskriminasi terhadap penyandang cacat untuk bisa bekerja dalam berbagai sektor. Diskriminasi disini tidak berarti dilakukan secara formal, tetapi ada baiknya untuk berbagai pekerjaan yang layak dilakukan dengan kondisi fisik maupun mental yang terbatas, ada persentase yang khusus diberikan bagi penyandang cacat. Di Amerika, misalnya, ada petugas marketing di toko komputer yang bisu namun handal melakukan percakapan lewat layar komputer, atau di beberapa pasar swalayan, sebagian petugas logistik dan kebersihan berasal dari kalangan penyandang cacat. Mungkin pemerintah bisa memberikan "keuntungan" khusus kepada perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan penyandang cacat sebagai stimulan.

Tidak ada seorangpun yang ingin dilahirkan cacat ataupun menderita kecacatan dalam masa hidupnya. Menyembunyikan anggota keluarga yang menderita cacat adalah sesuatu yang tidak bisa diterima lagi di abad yang moderen ini. Tetapi stigma terhadap penderita cacat dan keluarganya masih terus berlangsung hingga sekarang, sudah saatnya berbagai pihak melakukan program advokasi untuk memerangi stigma yang sangat merugikan ini. Setiap orang yang terlahir memiliki bakat tertentu, tak terkecuali dengan mereka yang cacat.

Dengan kebijakan dan program yang inklusif bukan tak mungkin, ke depannya sebagian besar penyandang cacat tidak perlu lagi bergantung dengan keluarga mereka namun bisa hidup mandiri dan bermartabat.

Sunday, March 11, 2012

Semua yang (akan) dirindukan di Washington DC

Setelah melalui proses yang panjang, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan (sedikit terdengar hiperbola) di negara lain. Dari awal kami sadar ada banyak perbedaan selain perbedaan karakter sebagai individu tentunya. Sadar akan ini, kami memutuskan untuk tinggal di tempat baru dengan bahasa yang dapat dimengerti, dengan harapan ini akan memudahkan kami untuk melanjutkan pilihan, minat dan segala sesuatu yang ingin ditekuni.

Ya, semuanya dimulai dari awal lagi. Terkadang, rasanya seperti menulis di buku baru, tetapi tidak semuanya baru tentunya, pengalaman dan memori mengenai hari-hari yang telah dilalui tidak bisa dihapus begitu saja, melekat, membaur, membentur dan menciptakan keseimbangan baru, bagai siklus yang tak pernah berhenti.

Dengan waktu tinggal yang singkat, banyak pengalaman yang tercipta, mengunjungi berbagai tempat, mencoba memahami apa yang dilihat, bertemu teman-teman baru, menciptakan persahabatan di negeri asing, terpapar dengan hal-hal baru dan tentunya mendapat pemahaman yang baru mengenai berbagai hal yang terasa asing sebelumnya.

"Saya akan merindukan berkendara di jalan ini," kata saya pada P yang sedang menyetir. Clara Barton Parkway yang menghubungkan Capital Beltway-495 dengan ibukota Washington DC. Dari arah kami tinggal jalur I-270 di Montgomary County akan tersambung ke I-495 dan keluar pada Exit 40 menuju jalan tersebut, melewati jalan di seputar hutan dan perbukitan disamping sungai Potomac menuju Georgetown. Jalan tersebut merupakan bagian dari George Washington Memorial Parkway yang sebagian besarnya berada di wilayah Virginia, di seberang sungai Potomac. Tak jarang, kami berhenti di beberapa titik untuk sekedar melihat pemandangan alam yang indah di lembah Potomac maupun gedung-gedung tua yang menjulang di perbukitan Georgetown. Maupun bersantai di tepi sungai Potomac pada Minggu petang membawa buku, minuman dan sandwich untuk sekedar menikmati alam.

Georgetown, yang merupakan kota historis yang didirikan tahun 1751 (usianya tentu lebih lama dari Nyonya Meneer yang berdiri sejak tahu 1919 itu ;) merupakan tempat jalan, belanja yang asik, selain menjadi tuan rumah bagi berbagai toko pakaian terkenal, juga tempat asal Georgetown Cupcake yang terkenal, yang sampai saat ini saya belum pernah mencobanya karena malas berdiri di antrian. George town juga memiliki banyak restoran dengan berbagai pilihan dan yang lebih menyenangkan sebagian besar bangunan disana tetap mempertahankan keasliannya termasuk beberapa rumah/ bangunan di sepanjang kanal yang dulu merupakan jalur transportasi utama di kawasan tersebut. Disana juga terletak kedutaan Swedia yang wajib kami kunjungi ketika ada program-program budaya, demi orang Swedia yang ada di rumah kami ;)

Menyusuri Wisconsin Avenue ke arah barat daya Georgetown, tepatnya di 1560 Wisconsin Avenue, terdapat Dolcezza Gelato yang menggugah selera. Gelato dari bahasa Italia yang berarti es krim, yang dijual di sini terasa berbeda, tidak hanya lebih segar karena dibuat sendiri tetapi bahan-bahannya juga memakai produk lokal. Jadi kalau saat berkunjung yang musim buah peach maka akan ada gelato peach, jika saat itu musim berry maka berbagai rasa berry juga akan tersedia. Dolcezza lainnya yang lebih dekat dari tempat tinggal kami terletak di Bethesda.

Bethesda, kota kecil dipinggiran DC cukup sering menjadi tempat nongkrong karena dua hal. Pertama, Penang restoran yang maknyus dan bersuasana Asia serta menjual makanan yang sesuai dengan lidah Melayu. Dari roti canai-nya yang krispi, nasi lemak/ uduk hingga rendang dan laksa. Biasanya kami singgah di tempat ini sebelum maupun sesudah menonton film di teater kesayangan "Bethesda Row Cinema".

Bethesda Row Cinema terasa sangat spesial bagi kami, pecinta film-film independent dari mana saja. Lewat teaternya yang berada di bawah tanah, kami menyaksikan film-film menarik dan bermakna. Dari "Milk" yang dibintangi Sean Penn tahun 2008 yang bercerita mengenai perjuangan kaum gay di San Francisco, The White Ribbon yang menceritakan pergulatan di sebuah desa kecil di Jerman menjelang Perang Dunia-2, (500) Days of Summer yang bercerita tentang dinamika hubungan dua anak muda, The Secret In Their Eyes, film asal Argentina yang memenangkan Oscar 2010, serta Incendies yang menceritakan dua anak kembar yang menyelusuri tanah leluhur mereka di Timur Tengah untuk menguak rahasia masa lalu keluarga. Bethesda Row Cinema menjadi tempat nongkrong nyaris 2-3 kali setiap bulan. Film-film (terutama independen) yang diputar disini sangat berkesan. Alurnya jarang bisa di tebak, bahasanya sederhana, dan setelah selesai menonton, topiknya selalu memicu diskusi yang lebih dalam. Tak jarang penonton yang mayoritas berusia lima puluh tahun keatas, duduk sejenak sekedar bertepuk tangan atau duduk terdiam, berusaha meresap apa yang baru saja mereka saksikan. Dan pada kebanyakan berkesempatan kami berdua terasa sangat muda diantara mereka yang duduk di teater tersebut. Disini juga saya mendapat tips bagi teman-teman yang lajang, terinspirasi dari seorang wanita paruh baya yang duduk di satu kursi dan menaruh tasnya di kursi sebelah, ketika seorang perempuan lain bertanya apakah tempat itu kosong, iya menjawab tidak. Lalu setelah beberapa perempuan lainnya, datanglah seorang lelaki paruh baya yang bertanya hal yang sama, iya segera mengangkat tas-nya dan memberi lelaki itu tempat duduk. Trik yang cerdas! Hahaha!

Salah satu tempat yang paling berkesan lainnya adalah Eastern Market. Yang letaknya tidak jauh dari tempat kerja  di pusat kota DC. Pasar tua yang terletak di 7th street ini merupakan tempat nongkrong wajib di pagi hari tiga kali dalam seminggu. Di samping pasar ini terletak kolam renang kesayangan saya dan mbak Y atau oleh Not-Not teman kami namanya dipanjangkan menjadi MYSarkozy. Hmmm...terdengar pas juga! Pertama kali bertemu ketika ikut rapat hari pertama di kantor, lalu ternyata meja kita bersebelahan. Saya yang sebelumnya tidak pernah bekerja di media/ creative agensi terus terang gagap menjalani pekerjaan yang baru, menyadur berita terasa lebih alami dibanding merekam suara, mencampur dan menimpa dengan suara asal serta proses menyunting, yang membuat keringat dingin bercucuran, apalagi ketika tenggat waktu produksi semakin mendekat. Dengan tenang, cekatan, sabar, tulus, si Mbak telah menjadi guru yang sangat diandalkan di minggu-minggu pertama bekerja. Lalu tercetus ide, berolahraga bareng, ternyata kita sama-sama turunan "ikan pesut" istilah seorang teman bagi pecinta renang. Maka kolam renang Robert H Humprey di Eastern Market menjadi pilihan utama untuk berenang di pagi hari sebelum ke kantor. Berenang yang diawali dari lima, sepuluh hingga akhirnya rata-rata 20-25 laps, bukan karena kami terlalu berdedikasi tetapi karena malas meladeni obrolan opa-opa yang suka sekali mengajak ngobrol. Hingga akhirnya begitu Opa tiba, maka kami terus berenang tak berhenti...hohoho! Maafkan ya Opa!

Kalau dipikir-pikir, persahabatan kami terasa sangat alami,  kebanyakan waktu dihabiskan bersama baik di tempat kerja, sebelum jam kerja, dan terkadang setelah jam kerja kami masih sempat window shopping di seputar Metro Center maupun makan malam di Dupont Circle, tetapi semuanya berjalan mulus, tak ada friksi sedikitpun, dan masih tersisa ruang bagi teman-teman lain untuk berinteraksi. Termasuk Ngeteh sore-sore di kantor dan bercuap-cuap seputar pekerjaan di web. Dan yang lebih parah, sebagai sama-sama food lovers, maka setiap hari ada saja makanan untuk berbagi dan menjadi alasan supaya "mesut" lebih lama lagi keesokan harinya, yeah! Ritual renang dilanjutkan dengan ngupi, ngeteh, ngobrol di Marvelous Cafe membuat kegiatan rutin menjadi terasa lebih menyenangkan. Diselingi candaan segar terhadap rekan-rekan lainnya di dekat cubicle kita, dari MC terbaik di dunia dengan dandanan terbaik, siapa yang akan membuang abu salah seorang editor kita ke Potomac, termasuk gule daun ubi tumbuk dan ikan sale yang digantung ala Mandailing dan bahasa-bahasa ala Medan yang lama tak terdengar di telinga, serta menemani Not-not membeli makan siang sambil bercerita ini-itu.



Dupont Circle, yang menjadi tempat nongkrong, Raku dimana mas-masnya yang baik hati suka memberi kejutan, tempat nongkrong bersama sahabat-sahabat tersayang, Pizzeria Paradisso yang renyah dan konon menjadi tempat makan pizza favorit Obama, Sakana dengan Agedashi Tofu yang maknyus serta tak lupa Teaism yang merupakan kesukaan gurunya, nya-refer to P. Makan malam bersama pada Rabu malam setelah selesai kelas Bahasa di kedutaan selalu menyenangkan. Tentunya karena nongkrong bersama orang-orang yang unik dan maaf "sedikit" gila.

Acara makan-makan bersama ibu-ibu sesekali dipindah ke Dupont Circle. Sebagian besar acara ini diadakan dari rumah ke rumah. Beberapa tahun disini tak terasa kami memiliki keluarga baru, disertai hadirnya ponakan-ponakan baru. Pindah ke tempat yang sama sekali baru bisa membawa rasa sepi apalagi ketika keluarga dan sahabat kita tinggal berjauhan. Dan menjalin persahabatan setelah kita beranjak dewasa rasanya tidak semudah dimasa-masa sebelumnya. Ada yang berdasarkan chemistry, alias pertama kali ngobrol langsung nyambung dan banyak yang menjadi sahabat setelah berkenalan selama beberapa waktu. Demikian halnya ketika saya bertemu sahabat pertama yang dikenalkan oleh teman kami. Tak terasa tiga jam berlalu pada sebuah siang musim dingin dan masih banyak yang ingin kami bicarakan, sementara hari mulai beranjak sore dan si masnya sudah datang menjemput. Ya sejak saat itu, acara nongkrong, memasak, window shopping,  menjadi lebih menyenangkan, terlebih kegiatan yang terakhir. Kami sama-sama mengeluh pergi berbelanja terutama pakaian dengan suami tidak seseru bila pergi bersama sahabat perempuan. Ya wajar saja, mereka tak betah lama-lama di toko pakaian sementara kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam mencoba ini-itu dan (kebanyakan waktu) tak membeli satupun :). Persahabatan kami meluas dan terus meluas dengan hadirnya keluarga-keluarga baru dan disemarakkan dengan acara makan-makan. Sebagian besar acara ini diadakan dari rumah ke rumah. Beberapa tahun disini tak terasa kami memiliki keluarga baru, disertai hadirnya ponakan-ponakan baru.Acara makan biasanya diselingi dengan cerita-cerita terbaru mengenai apa saja, budaya, perjalanan, resep makanan, musik, bahkan agama. Ketika berkumpul, rasanya nyaris seperti "pulang kampung", duduk bersama, ada saja cerita, yang terus mengalir dan rasanya tak ingin beranjak "kalau tak ingat besok hari harus bekerja". Persahabatan kadang sedikit aneh, ada orang yang kita jumpai setiap hari tetapi belum tentu mereka langsung dekat di hati kita, dan ada "mereka" yang kita jumpai di tempat yang jauh bahkan asing, tetapi kita merasa telah saling kenal dalam waktu lama. Ya, seperti kata P, "chemistry", ada misteri di dalamnya.






Wednesday, March 7, 2012

Percakapan di toko Apple

Beberapa bulan lalu, suami dan saya memutuskan mengganti telepon genggam kami . Keinginan tersebut membawa kami bertandang ke toko Apple terdekat. Buat suami, bertandang ke toko elektronik terutama komputer sama halnya seperti seorang anak bermain ke toko yang penuh dengan cokelat dan permen. Mungkin karena ia memiliki sejarah panjang dengan komputer, dari sekedar berkenalan, membuat permainan dan menjadikan adiknya sebagai kelinci percobaan, hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan lewat pekerjaan yang ia geluti.

Kami berdua menyukai bagaimana toko Apple ini di tata, rapi, sederhana, meja-meja lebar diatur sedemikian rupa dengan berbagai fitur diatasnya. Kita boleh memandang, mengutak-atik dan bermain sepuas hati dan tidak terintimidasi dengan sapaan staf yang melayani penjualan.

Setelah memutuskan apa yang kami inginkan, seorang staf mendekat dan memberi aba-aba lewat gerakan tangannya untuk mendekat ke komputer terdekat. Setelah beberapa saat saya baru sadar kalau si mbak eh si mas yang cantik dan parasnya sedikit menyerupai Christian Syriano, desainer yang terangkat namanya lewat program televisi "Project Runway" sangat berbeda dari staf penjual umumnya.

Yang lebih menarik lagi, ia sangat percaya diri dengan senyumnya dan matanya yang sangat responsif ketika menanggapi pertanyaan kami. Lalu dengan senyum kami memulai percakapan ini.

A:"Apa anda sudah tahu apa yang diinginkan?"
S:"Ya, kami ingin mengganti versi ini dengan versi xx".
A:"Oh, tapi anda tahu versi terbaru baru saja keluar?", lebih ringan dan ada fitur tambahan."
S:"Ya, tapi saya kurang menyukai modelnya, terlalu maskulin buat saya." (sambil mengernyitkan dahi)
A:"Oh! Sama, saya juga kurang suka," ia tersenyum dan mengeluarkan lipstik dari tas mungilnya dan memasang lipstik di depan kami.
S:"Oh , saya suka warna lipstik itu," dengan cepat saya menyela.
A:"Benarkah? Saya juga suka. Lalu kami sama-sama tersenyum.

Ia selanjutnya menjawab beberapa pertanyaan kami seputar barang yang kami inginkan. Dan memastikan bahwa kami paham akan pilihan kami. Ketika meninggalkan toko itu, suami saya berkata, wah tadi sangat mulus ya percakapannya, sepertinya kalian memiliki "chemistry" alias nyambung. Ya, saya menyukai staf tadi. Terlebih lagi fakta bahwa ia tidak dapat berbicara tidak menghentikannya untuk berkiprah sebagaimana orang lain yang bisa berbicara, terlebih lagi, kebijakan di Amerika yang tidak mendiskriminasi orang yang memiliki kemampuan berbeda untuk mendapat pekerjaan patut diacungi jempol.

Lalu jika ada pertanyaan terlintas, bagaimana orang yang bisu bisa melakukan percakapan diatas, tentu saja, kami berada di toko Apple, percakapan dilakukan di layar MAC komputer ;)

Monday, December 12, 2011

Tips-tips menjadi bos yang baik


Menurut seorang konsultan bisnis dan manajemen internasional, Greg Smith, manejer yang baik memiliki karakter-karakter khusus seperti bersifat terbuka, memiliki sikap yang positif, dan bisa membantu anggota tim melakukan tugas mereka.

Ada beberapa faktor lainnya yang membuat seorang manejer lebih unggul dibanding yang lainnya.

Pertama, memiliki visi dan strategi yang jelas serta mampu menjadi contoh bagi anggota tim. Sebaiknya seorang manejer melibatkan anggota tim dalam membangun visi serta strategi itu termasuk membahas keberhasilannya, sehingga ada rasa memiliki diantara anggota tim terhadap tujuan yang hendak dicapai bersama.

Kedua, bagi-bagi pekerjaan. Seorang manejer sebaiknya tidak melakukan semuanya sendiri atau bertindak  sebagai“one man show”. Kenali anggota tim dan sedikit demi sedikit, alihkan beberapa tanggung jawab kepada mereka. Seorang manejer harus paham bahwa apabila seseorang diberi tanggung jawab ia akan berusaha memenuhi tanggung jawab tersebut.

Ketiga, jadilah pelatih yang baik, beri masukan yang membangun kepada anggota tim dan tekankan aspek-aspek positif dan negatif dari kinerja anggota tim. Hindari mengevaluasi anggota tim dengan membahasnya dengan anggota tim yang lain, dan jaga kerahasiaan informasi yang dibahas. Promosikan anggota tim ketika ada kesempatan untuk menapak jenjang karir yang lebih tinggi.

Keempat, beri penghargaan bagi kinerja individu dan kinerja tim.

Terakhir, seorang manejer harus mampu memberi kesempatan kepada anggota tim untuk memberi masukan akan kinerja manejer tersebut, karena manejer tidak selamanya bertindak benar, masukan tersebut akan membantunya menjadi pimpinan yang lebih baik dan melatihnya menjadi seorang “leader” atau pemimpin

Wednesday, December 7, 2011

Selingkuh, bisa dilakukan (siapa) saja?


kita seringkali terkejut ketika tokoh-tokoh terkenal yang dikagumi banyak orang tiba-tiba ketahuan berselingkuh. Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberitaan mengenai orang nomor satu di IMF Dominique Strauss Kahn,dan gubernur California Arnold Schwarzenegger sebelumnya berbagai tokoh seperti mantan gubernur South Carolina Mark Sanford, , mantan gubernur New York Eliot Spitzer, mantan calon presiden John Edwards hingga Bill Clinton melakukan perbuatan yang mencoret reputasi mereka.

Tetapi David DeSteno seorang pakar psikologi dalam buku terbarunya “Out of Character “ yang ditulis bersama rekannya Piercarlo Valdesolo mengatakan setiap orang bahkan dengan kedudukan terhormat pun mempunyai kecendrungan untuk bertindak diluar kebiasaan atau kepribadiannya. Kepribadian adalah alat ukur yang kita pakai untuk menilai seseorang.

Dalam eksperimennya, DeSteno menguji sekelompok orang dengan memberikan dua pilihan tugas yang ringan dan sulit. Mereka harus mengundi dengan koin untuk mendapatkan tugas tersebut. Mereka diberitahu bahwa tugas yang tak terpilih akan diberikan kepada orang berikutnya. Setelah memberi penjelasan setiap peserta ditinggalkan sendiri untuk membuat pilihan. Ternyata, mereka tidak mengundi dan langsung memilih tugas paling ringan dan ketika ditanya apakah mereka melakukan sesuai prosedur, mereka mengiyakan.

Menurut De Steno karena mereka tidak mengundi, timbul perasaan bersalah tetapi dalam 30 detik perasaan itu akan dirasionalisasikan dan diterima. Yang berbahaya adalah apabila kemunafikan seperti itu sering terjadi maka akan membahayakan hubungan jangka panjang yang dibina orang tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan prilaku moral seseorang lebih kompleks dari apa yang kita harapkan sehingga tak ada gunanya mendefinisikan kepribadian seseorang karena kita akan terkejut apabila ia bertingkah lain.

Sementara itu Mark Held yang juga seorang pakar psikologi seperti yang di kutip majalah Time mengatakan apabila seorang laki-laki mendapat kesempatan maka ia akan cenderung bertindak guna memanfaatkan kesempatan itu.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang mampu melakukan perselingkuhan yang merusak reputasi yang telah mereka bina selama bertahun-tahun. Menurut Larry Josephs, seorang dosen psikologi pada Universitas Adelphi ada ukuran baru yang disebut “the dark side” atau sisi-sisi gelap seseorang, yang terdiri dari narsisisme, Machiavellinisme dan psikopati. Ketiga unsur tersebut bisa hadir pada kepribadian seseorang dan semakin besar unsur tersebut semakin tinggi kecenderungan untuk mengikuti dorongan itu.

Faktor lainnya adalah kecendrungan untuk menghadapi tantangan yang meningkatkan kadar  adrenalin. Banyak tokoh-tokoh terkenal mengemban jabatan penting yang membutuhkan tanggung jawab dan otoritas. Menyembunyikan perselingkuhan memberi tantangan tersendiri dan membutuhkan kontrol kuat yang berefek meningkatkan kadar  adrenalin.

Selain itu kekuasaan atau kesuksesan membuat seseorang dikelilingi oleh pemujanya yang cenderung membenarkan keputusan maupun prilaku orang-orang yang sukses tersebut, tak jarang prilaku-prilaku menyimpang tersebut ditutupi atau bahkan tak ada yang berani menentang apapun yang dilakukan sehingga membuat kabur batas-batas yang ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri.

Namun demikian tindakan yang “out of character” ini dapat terjadi pada siapa saja baik perempuan maupun laki-laki, dan penjelasan diatas bukan berarti bahwa tindakan yang menyimpang tersebut dapat diterima begitu saja.