Sunday, August 19, 2012

Catatan dari Amish County Pennsylvania (03/09/09)

Musim semi yang lalu, saat bepergian ke Chicago di kereta yang saya tumpangi saya berpapasan dengan tiga perempuan muda yg terlihat sangat kontras sekali diantara penumpang lainnya. Ada sesuatu yg khas pada wajah-wajah mereka, ekspresi yang lumayan polos dan cara berpakaian mereka yg sekilas mengingatkan saya akan sosok "Ma" di serial Little House on the Praire.

Ya, ditengah penumpang yg multi gaya, dengan rok panjang, pendek, celana jeans, atasan yg bergaya modern, aksesoris rambut alami, rambut warna warni, yg jelas ketiga perempuan itu menyeruak justru dengan gaya mereka yg lain dari kebanyakan. Ketiganya memakai rok panjang nyaris ke mata kaki, pakaian yg tertutup sepenuhnya dan kap berwarna putih menutupi sanggul di bagian belakang kepala mereka. Melihat ketiga orang ini seolah-olah sedang menonton film dari masa lalu. Ketika balik, dari Indiana saya melihat dua prang penumpang, sepertinya mereka adalah pasangan. Seorang bapak-bapak berumur dan istrinya yg gaya pakaian mereka juga cukup menarik perhatian.

Si lelaki, berpakaian hitam, atas ke bawah, dengan topi hitam, janggut panjang dan wajahnya bersih dari kumis, sementara yang perempuan memakai tutup kepala seperti jilbab, dengan baju dan rok yg menutup sampai ke mata kaki. Ada begitu besar rasa keingintahuan saya terhadap orang-orang ini dan komunitas mereka yg dikenal dengan nama komunitas Amish.

Tapi ternyata saat itu saya tak cukup berani untuk menghampiri dan bertanya, melainkan hanya melihat mereka sekilas-sekilas karena saya pikir mereka juga tak nyaman kalau dipelototi terus menerus. Lalu keingintahuan terhadap orang-orang Amish tersebut membuat saya memulai pencarian informasi ttg mereka.

Ada beberapa komunitas Amish di Amerika, mereka tersebar di Pennsylvania, Ohio dan Indiana. Setelah mengumpulkan beberapa informasi maka kami berdua (dengan suami) meluncur ke utara menuju Lancaster county. Ada sebuah kota kecil bernama Bird in Hand yang menjadi salah satu tujuan kami di Pennsylvania.

Berkendara kira-kira setengah jam dari Central Market Lancaster county, kami akhirnya sampai di tempat yg menyediakan layanan Buggy Ride alias berkendara dengan kereta yg ditarik oleh kuda. Ya, terlalu banyak bayangan yg bermain di kepala saya, mungkin miniatur caravan di museum yg kami kunjungi, serta berbagai macam tenunan, quilts, serta perabot-perabotan buatan komunitas Amish membuat saya semakin penasaran dengan komunitas ini.

Kami disambut oleh pak kusir Amish yg bernama Joe. Sayangnya Joe tak berjenggot panjang dan tak pula berpakaian hitam-hitam, seperti kebanyakan lelaki Amish. Lelaki tua ini menjelaskan program apa saja yg tersedia dan apa saja yang akan kami lihat. Kira-kira beginilah ceritanya:

"Komunitas Amish adalah penganut agama kristen aliran Anna Baptist, aliran ini bermula di Switzerland pada pertengahan abad ke 14. Komunitas Amish ini juga dinamakan Mennonite yg berasal dari pencetus aliran ini Menno Simmons. Komunitas Amish menjalani hidup mereka dengan prinsip sederhana, tak boleh menyombongkan diri dan berserah diri kepada Tuhan.



Pada mulanya dari Swiss mereka menyebar ke utara dan ke barat, kira-kira ke Belanda dan Jerman saat ini, sehingga mereka juga kerap menyebut diri mereka sendiri sebagai Dutch-Amish. Pada masa itu, penduduk suatu kerajaan wajib mengikuti agama yg dianut oleh penguasa, sehingga golongan ini serta merta terancam keberlangsungan beragamanya dan memutuskan pindah ke Amerika.

Ada beberapa hal yg sangat prinsip dianut oleh komunitas ini antara lain bahwa mereka tak terhubung dengan masyarakat luas, sehingga media yg menghubungkan mereka dgn dunia luar serta merta dibatasi atau tidak diperkenankan pemakaiannya dalam lingkungan komunitas ini. Sehingga mereka tak memiliki televisi, jaringan telephone, internet, mobil, dll.

Kereta kuda (buggy ride) yg kami tumpangi memasuki lahan pertanian yg luas dengan rumah-rumah besar di tengah lahan tsb. Kontras sekali melihat bangunan rumah-rumah modern tsb bersanding dengan kereta kuda dihalamannya dan bukannya mobil-mobil seperti layaknya rumah modern, demikian juga kenyataan bahwa tak ada televisi didalamnya. Joe menjelaskan bahwa rumah-rumah tsb memakai teknologi modern seperti mesin cuci, pendingin dll, hanya saja mereka tak memanfaatkan sambungan listrik ataupun sambungan gas. Mereka memanfaatkan energi matahari dan angin dan menjadi mandiri (self sufficient) dalam kebutuhan energinya, ada juga yg memanfaatkan gas prophane (tabung gas individual berukuran besar).



Sejenak imajinasi saya terbang ke desa-desa di pedalaman negeri sendiri, dimana akses terhadap energi ini begitu terbatas bahkan di beberapa kota besar juga mengalami black out, seandainya teknologi matahari berbasis rumah tangga ini bisa kita manfaatkan tentu anak sekolah akan lebih senang belajar dimalam hari dan banyak lagi keuntungan lainnya yg didapatkan.

Baru-baru ini masyarakat Amish diperkenankan memakai cell phone terutama saat mereka bepergian keluar demi alasan keamanan, tetapi cell phone ini harus tinggal di luar saat pemiliknya masuk ke dalam rumah.

Aliran Annabaptist yang mereka anut tidak membolehkan penganut Amish untuk membunuh manusia. Sehingga mereka tak boleh menjadi anggota militer dan lelaki Amish memakai jenggot panjang tetapi tak berkumis, karena konon anggota militer kerapkali memasang kumis :)

Barangkali sesuatu yg paling menarik dari penuturan Joe adalah tradisi Rumpsringa, tradisi dimana remaja Amish yg berumur dari 16 tahun sampai mereka melakukan konfirmasi untuk bergabung dengan komunitasnya atau keluar dari komunitasnya. Berbeda dari agama-agama lainnya dimana konfirmasi terjadi secara otomatis atau turun temurun, komunitas Amish hanya mengakui konfirmasi setelah seseorang dewasa dan mengerti akan pilihan yg dibuatnya. Dalam masa-masa ini remaja-remaja Amish yg beranjak dewasa di perbolehkan mengeksplorasi kehidupan luar dalam istilah mereka kehidupan ala English, tinggal diluar komunitas, berpakaian ala modern "English", mengkonsumsi alkohol, mengendarai kendaraan bermotor, dll. Dari yg melakukan rumpsringa ini hanya sekitar 15% yang benar-benar keluar dari komunitasnya.

Walaupun menolak sebagian dari cara-cara kehidupan modern, anak-anak Amish tetap bersekolah sampai grade 8, setiap kelas dikelola oleh seorang guru dan asistennya yg merupakan anak yg paling cerdas di kelas tsb, selanjutnya si ibu guru akan mengalami masa-masa "courting" alias masa-masa penjajakan dan pengenalan calon pendamping hidupnya dan menikah pada usia 25 tahun. Amish tak mengakui adanya perceraian sehingga setiap pasangan di beri waktu yg cukup lama untuk mengenali calon pendampingnya dan apabila mereka tak merasa sesuai sah-sah saja mencari sosok yg lebih tepat. Ketersediaan pilihan untuk memilih dan mengenali lebih jauh ini menurut pandangan pribadi saya sangat spesial dari komunitas ini, dengan sadar betul akan pilihan yg dibuatnya bisa jadi membuat individual di dalamnya tak sekedar ikut-ikutan tetapi sadar betul akan pilihan yg dibuatnya serta konsekuensi dari pilihan tsb.

Demikian juga untuk urusan kesehatan, mereka tak mengenal istilah asuransi, setiap layanan kesehatan akan dibayar langsung oleh keluarga yg bersangkutan atau ditanggung bersama-sama oleh komunitas ini.

Pertautan dengan komunitas Amish ini terus terang membuat mata saya lebih terbuka terhadap peradaban manusia. Dibalik berbagai warna, agama, lokasi yg berlainan ternyata banyak sekali persamaan-persamaan diantara berbagai peradaban yang ada. Kerapkali kita berpikir seolah-olah kita berbeda sekali dengan yg lain ternyata justru banyak sekali persamaan yg ada yg nyaris tak terpikirkan sebelumnya.

Lain Padang Lain Belalang (26/5/2010)

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, demikian bunyi suatu peribahasa yang saya pelajari saat duduk di bangku SD kelas tiga dulu. Tak perlu menebak-nebak artinya, ya setiap tempat memiliki keunikan tersendiri.

Sudah nyaris dua setengah tahun ini tinggal di negeri orang, selalu saja ada hal-hal baru yang saya pelajari setiap hari. Layaknya bangsa Melayu, dari kecil saya diajari sopan santun, basa basi, ramah tamah, serta aturan-aturan lainnya untuk bertahan di tengah masyarakat baik oleh orang tua, guru maupun ibu-ibu lain para tetangga keluarga saya.

Diantara aturan-aturan tersebut, mungkin basa basi telah mulai berkurang secara drastis, saya sadari dari dulu, basa basi inilah yg paling membingungkan buat saya, misalnya saat ditawari apa saja rasanya sulit menolak kalau memang itu adalah sesuatu yg diinginkan dan tentu saja kalau kita tak menginginkan barang yg ditawarkan gampang sekali menolak, saya bingung mengapa tak boleh berkata iya saat itu juga padahal terus terang itu gampang sekali.

Saya masih ingat beberapa ibu-ibu memberi laporan kepada ibu saya soal anak perempuannya yg satu ini. Rata-rata kakak dan terutama adik saya adalah mahkluk-mahkluk sosial yg ramah melempar sapaan siapa saja yg mereka temui di jalan menuju maupun keluar dari kediaman ini, kecuali seorang anak perempuan kurus dan hitam (katanya) yg lebih suka memandang lurus ke depan atau memandang aspal seraya berjalan cepat seolah-olah ada sesuatu yg di perhatikan di aspal tersebut.

Lalu, sesampainya di rumah, Ibu pun menasehati, "apa sih susahnya menegur orang pada saat lewat?" liat tuh adiknya, dia ramah sekali dan banyak sekali yg suka, fansnya termasuk sepasang suami istri berusia lanjut yg sangat menggandrungi keramahan adik saya.

"Ya, memang ga ada salahnya sih, cuma ga kepikiran aja", jawab saya sejujurnya. "Memangnya apa sih yg dipikirin kalau lagi jalan kaya gitu?" ibu saya bertanya balik. "Hmmm,..ya banyak, kadang sambil jalan sambil ngitung perkalian, kadang ingat ttg bacaan sebelumnya, kadang mikirin sepeda," ya ada aja deh yg berputar di kepala" dan terus terang saya bingung mengapa apa yg saya pikirkan menjadi menarik buat ibu saya.

Ya, begitulah akhirnya. Saya tumbuh menjadi anak yg berwajah cukup serius dan bahkan di perkuliahan oleh sahabat saya suka ditiru mimik seriusnya saat mendengarkan dosen berceloteh di depan kelas. Bahkan oleh seorang teman kerja dan beberapa orang lagi wajah saya dikatakan agak jutek terutama di jam-jam sibuk. Tak lupa driver di kantor lama yg saya temui tahun lalu berujar," wah mbak beda ya sekarang, udah ga jutek lagi" Gleg!@#$%^!@@#

Ah entahlah, saya tak pernah bersungguh-sungguh bermaksud jutek, ekspresi itu memang dari sana datangnya, dan akan semakin jelas terlihat jika ada yg saya pikirkan.

Lalu apa hubungannya dengan lain padang lain belalang? ya terus terang hidup di negeri orang seperti ini, saya tak perlu repot berbasa basi dengan orang-orang di sekitar. Cukup anggukan kepala saat bertemu di lift atau saat dibukakan pintu dan syukur-syukur dibarengi have a good day sudah lebih dari cukup, berbeda sekali dengan pengamatan saya saat tinggal bersama ibu dimana jalan menuju rumah sepanjang 300 meter tersebut banyak sekali orang di kiri kanan yang harus disapa.

Tetapi, ada dua ajaran yg masih melekat sampai saat ini yaitu kalau melihat orang yg jauh lebih tua atau ibu hamil berdiri dan saya menduduki kursi di kendaraan umum, saya harus memberikan kursi tersebut pada mereka. Saya ingat dulu sekali ditahun 1990-an, saya naik bus umum ke Siantar sekitar 2.5 jam perjalanan dari Medan, keluar dari stasiun Amplas mendekati Tg Morawa, bus yg sudah penuh tersebut menaikkan 3 orang penumpang (nyaris 4 sebenarnya), seorang ibu hamil dan dua anaknya yg masih balita. Tak ada penumpang yg beranjak, akhirnya sukseslah saya berdiri sampai tiba di Sinaksak, suatu tempat yg berjarak 10-15 menit dari perhentian terakhir. Nah yang satunya lagi adalah manakala melihat ibu-ibu maupun mereka yang berusia lanjut yg membawa beban yg lumayan merepotkan mbok ya ditawarkan bantuan membawanya, yg belakangan ini lumayan dipraktekan beberapa kali, kecuali tentunya saat berjuang keluar masuk bandara karena saya juga memiliki gembolan sendiri yg tak kalah ukurannya.

Lalu di tempat tinggal yg sekarang ini, ada beberapa senior citizens yg sering berpapasan di lobby, mereka suka sekali berkumpul pada jam-jam tertentu dan membentuk grup sendiri. Suatu hari, saat saya kembali dari gym, saya melihat seorang nenek yg berjalan tertatih-tatih menuju pintu masuk dengan gembolan belanjaan, sungguh tak tega melihatnya berjalan menghabiskan begitu banyak waktu menuju lobby yang hanya bisa ditempuh kurang dari dua menit. Belum lagi dia harus menscreen token dan bergegas membuka pintu yg membutuhkan kecepatan tertentu. Melihatnya, lalu saya menawarkan membawakan barang-barangnya dan kembali ke bagasi mobilnya dan menuntaskan seluruh barang belanjaannya. Ia tak menolak, dan tersenyum mengucapkan terima kasih. Ia tak terlihat sehat saat itu.

Kali berikutnya, saya kembali menjumpainya di parkiran sedang mengeluarkan barang2xnya dari bagasi, saya hampiri dan sekali lagi saya tawarkan bantuan, ia menolak bantuan tersebut.

Merupakan hal yg umum, disini para orang tua hidup mandiri, dalam artian menjalani segala sesuatunya sendiri. Bahkan diusia yg sedemikian senja mereka masih menyetir sendiri kemana-mana, pergy ke gym, dan banyak sekali kegiatan yg mereka lakukan tanpa bantuan orang lain.

Lalu, minggu lalu saat hendak ke Mall, saya naik bus yg lewat di depan kompleks apartemen dimana tujuan terakhirnya adalah Mall tersebut. Seperti biasa, kepala saya mulai mengingat-ingat apa yg ingin saya beli, dimana kira-kira lokasi tokonya, dan apa saja yg ingin saya lihat-lihat kali ini. Tak berapa lama, bus berhenti didepan bangunan besar yg merupakan tempat tinggal senior citizens.

Pada awalnya saya tak melihat siapa yg naik, tetapi karena bus tak kunjung beranjak saya menoleh kearah entrance, yg berjarak 3 meter dari tempat saya duduk. Dua orang nenek naik, dilanjutkan dengan sepasang kaki, sebuah buntalan sleeping bags, dan sebuah tas besar. Ia terlihat kewalahan, menggiring satu persatu barang bawaannya dari satu tangga ke tangga lainnya (walaupun supir bus tersebut telah menyesuaikan tangga tersebut untuk mempermudah ia naik).

Insting saya ingin menolongnya dan bergerak saat itu juga. Tetapi saya di dahului oleh seorang pemuda yg duduk lebih dekat ke arah pintu masuk dan menjulurkan tangannya menawarkan bantuan.

"Oh! Baiklah pikir saya", namun tiba-tiba saya terperanjat dengan teriakan keras," No Thanks!" Dilanjutkan, "You know What?! I am not weak, it just I am slow, I don't need any help!!! Dan mengalirlah banyak sekali kata-kata dari mulut nenek tersebut.

Pemuda tadi beringsut-ingsut kembali ke kursinya seraya mengucap maaf. Ternyata ucapan maaf tersebut tidak cukup, begitu kembali ke bangkunya, sang nenek melanjutkan celotehannya sambil memandang ketus kearah pemuda tersebut, "You see! katanya, you cannot just hand your hand like that! You have to ask first! I remember, 35 years ago, an old lady that I want to carry because she walked so slow told me that! Beberapa penumpang yg kebetulan dapat dihitung jari saling melirik satu sama lain, heran dengan reaksi berlebihan nenek tersebut. Dan dalam hati saya bersyukur dan berterima kasih kepada pemuda tersebut yg telah sukses mendahului saya menawarkan bantuan karena kalau tidak saya pastilah akan menjadi sasaran omelan nenek tersebut.

Ternyata lain lubuk memang lain bener ikannya. Paling tidak, saya belajar ternyata gesture menawarkan bantuan yg sangat lazim di tempat asal saya ternyata tak berlaku di tempat ini.

Sedang kangen; Travel to Lombok, highlight dari ex penduduk lokal

Catatan dari multiply originally posted 3 Dec 2009

Kemenangan Obama dan Inlander Mentality (2008)

Catatan dari lapak multiply-yang akan segera berakhir sehingga dipindah kesini, originally dari 8 November 2008.
Beragam respons terlihat menanggapi kemenangan kubu demokrat baik di US, Kenya, Jepang, maupun Indonesia.

Yang pertama karena baru kali ini seorang kulit hitam mampu menduduki kursi presiden, sehingga konon menurut seorang teman yang bermukim di Chicago, lapangan tempat perayaan kemenangan kubu demokrat di penuhi lautan manusia, dan mayoritas hitam. Lalu dilanjutkan di Daily show dimana John Stewart dan Colbert dengan lelucon mereka bakal digantikan oleh black brothers, sampai-sampai teman saya bercanda kayanya James Bond ntar diganti ama Denzel Washington:). Terus terang menonton televisi dua hari terakhir ini terasa membosankan karena liputan seputar hal yang sama diputar berulang-ulang.

Lalu sekelompok Obama fans di desa Obama dekat Tokyo juga jejingkrakan merayakan kemenangan tersebut dan engga hanya itu model rambut si Lipstick Pitbull aka Sarah Palin juga menjadi trend baru disana.

Tanggapan beragam juga muncul dari tanah air, umumnya memuat harapan akan hubungan yang lebih baik antara dua negara ke depan dan lebih khusus lagi karena masa kecilnya dihabiskan di Indonesia selama empat tahun dari umur 6-10 tahun. 

Beberapa teman mendeskripsikan perasaannya sampai menangis dst, dan menanyakan kapan Indonesia akan punya pemimpin seperti ini? padahal, boleh saja kita turut bahagia dengan pencapaian beliau tetapi jangan berharap yang berlebihan terhadap peran yang dimainkannya terhadap Indonesia. Dan untuk lebih objective, kinerjanya baru akan kita lihat empat tahun dari tahun 2009. Terlebih lagi dengan berbagai permasalahan yang ditinggalkan pendahulunya, si raja perang Bush jr.

Mungkin kita kecewa dengan prilaku pemimpin bangsa yang sulit sekali akur dan saling mendukung, apalagi presiden-presiden jaman reformasi tak bisa duduk akur satu meja membahas kepentingan bangsa, kalau ini bolehlah kita sedikit berkiblat terhadap negrinya Obama, setelah bertempur mati-matian pake pesan positip dampai yg negatif sekali, kalau kalah ya mengaku kalah secara kesatria dan setelah itu memusatkan perhatian bagi persatuan bangsa dan mendukung pemenang. Hal yang masih langka di negara kita.

Lalu beberapa teman lain masgyul dengan fenomena ini, mungkin termasuk saya didalamnya. Mengapa inlander mentality ini begitu menguasai kita? Nah soal inlander ini, dulu kata-kata ini sangat sering kita pakai untuk menertawakan diri sendiri. Misalnya dalam membandingkan "blue blood" dan "common people". Meneer dan inlander yang suka dipakai kalo lagi ledek-ledekan dengan teman-teman peserta pertukaran pemuda satu dekade lalu. Terminologi yang dulu sering disaksikan dengan menonton film-film bertemakan masa penjajahan.

Inlander ini sepertinya terminology yang digunakan pada masa penjajahan dulu untuk mewakili kelompok pribumi. Sayangnya bahkan setelah lebih dari separuh abad kita merdeka, mental inlander ini belum juga hilang dari tindak tanduk kita. 

Dari observasi selama ini berikut ini bisa jadi prilaku inlander yang mencolok: tidak percaya diri dengan kemampuan diri sendiri atau bangsa sendiri. Berpikir seolah-olah bangsa asing lebih manjur dan lebih pintar dibandingkan dengan bangsa sendiri. Akibatnya bisa dilihat diperkantoran yang multinasional , perlakuan terhadap bangsa sendiri menjadi berbeda bila dibandingkan dengan bangsa asing, mulai dari supir, staff admin dan lainnya ramah dan menunduk sedalam-dalamnya kalo ada yg agak kinclong sedikit, entah apa alasannya barangkali bangsa sendiri "kurang bermutu"?

Artinya kemampuan kita dan mereka saling melengkapi untuk bisa mencapai tujuan yang ingin dicapai, karena masing-masing memiliki potensi sendiri tentunya derajat yang satu tak lebih tinggi dari derajat yang lain.

Bukan berarti kita tidak boleh mencontoh bagaimana bangsa lain memajukan masyarakatnya, lewat good governance, kebijakan mereka yang mensejahterakan rakyatnya dsb, tetapi berkelakuan seolah-olah kita adalah pembantu seperti jaman feodal dulu rasanya sudah tidak layak. Bahkan kalau perlu pekerjaan sebagai pembantu pun baiknya kita beri ruang khusus untuk menjaga martabat mereka seperti pembatasan jam kerja, cuti, tugas dan tanggung jawab, dsb.

Sudah saatnya kita memandang sesama sebagai manusia dengan derajat yang sama. Dan mengurangi atau bahkan menghentikan inlander mentality ini, sehingga dengan sendirinya  kita berhenti menjadi (maaf, budak) di negeri sendiri?

Thursday, August 16, 2012

Antara Islam, HAM, Demokrasi dan Pluralisme

Cuplikan tanggapan dalam sebuah diskusi dengan seorang teman Muslim yang mengatakan HAM, Demokrasi dan Pluralisme tak sejalan dengan Islam (informasi di kompilasi dari berbagai sumber), berikut adalah hasil penelusuran saya yang menyatakan sebaliknya.

Ketika Rasulullah wafat, para sahabat berkumpul disertai perwakilan suku-suku dan masyarakatnya,  lalu dipilih Khalifah Abu Bakar. Pemilihan tersebut adalah salah satu asas demokrasi. Islam mengutamakan kesetaraan (termasuk dalam kesejahteraan umat), akuntabilitas seorang pemimpin artinya pemimpin yang bisa dimintai pertanggung jawaban, penghormatan terhadap perbedaan dan perbedaan keyakinan. Nilai-nilai diatas tidak bertentangan dengan demokrasi dan pluralisme. Setelah Beliau wafat, tidak ada dinasti yang memerintah berdasarkan pertalian darah langsung dengan Beliau melainkan dengan memilih kalifah pengganti.

Dan pada masa-masa kekhalifahan bahkan ketika masa dinasti Islam berkuasa, sistemnya lebih desentralisasi dan ada ruang bagi masyarakat lokal untuk menetapkan aturan mereka sendiri.

Cukup mengherankan mengapa banyak yang mengatakan Islam tidak "compatible" dengan Hak Azasi Manusia (HAM). HAM memiliki beberapa unsur,  diantaranya:

1. Right to life (atau hak untuk hidup)
Hak yang langsung diberikan Allah kepada manusia. Dalam Al Maidah: 32 " Oleh karena itu Kami isyaratkan kepada Bani Israli, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum kisas dan bukan karena membuat kerusuhan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya.

Disana disebutkan manusia bukan Muslim bukan pula kafir (non-believers) tetapi manusia.

2. Right to Freedom

Kebebasan pribadi dijamin oleh Qur'an, bahwa tak ada seorang pun yang boleh membatasi hak tersebut melainkan Allah semata. Termasuk siapa yang berhak menghakimi siapa yang benar dan yang salah ( Ash Shura: 21) dan lebih lanjut dalam Ali Imran 3:79 Qur'an dengan jelas mencermati kecendrungan manusia menjadi diktator, serta membuat pemerintahan yang sewenang-wenang. Bahkan di masa itu dimana perbudakan adalah sesuatu yang umum, Qur'an menyerukan supaya hak-hak mereka dihormati. (An-Nisa 36).
Di Qur'an memang tidak menegaskan dihapuskannya perbudakan tetapi aku kira Islam tak menentang dihapuskannya perbudakan.

3. Right to Justice (fair trial)

Dalam Al-Ma'idah: 8, kita dianjurkan untuk semata-mata berdiri tegak karena kebenaran, jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum sampai mempengaruhimu untuk berlaku tidak adil, dst dan Dalam An- Nisa': 135 ditekankan persamaan hak dan kewajiban yang merujuk kepada HAM.

Islam mengenal kata-kata adil dan ihsan. Keduanya mengandung sifat terpuji. Adil berarti sama, tidak kurang tidak lebih. Sifat terpuji tidak ditentukan oleh kekayaan, jenis kelamin, agama tetapi oleh "kebenaran" berdasar keyakinan dan tindakan atau amal. Dan dengan ihsan misal dalam An Nahl: 90, kita dianjurkan berbuat adil dan kebaikan (ihsan).

Bahkan Qur'an menjamin hak-hak lainnya yang belum dicakup HAM i antara lain hak untuk dilindungi privasi dan dilindungi dari fitnah seperti dicakup An-Nur: 27-28, 58; Surah Al-Ahzab: 53; Surah 49: Al- Hujurat : 12. Jika merujuk pada ayat-ayat ini, tindakan masyarakat yang memasuki properti milik orang lain untuk mengintip kegiatan mereka yang awam kita baca di berbagai berita tampaknya bertentangan dengan ayat-ayat tersebut.


Juga menjamin hak untuk mendapat kehidupan yang layak seperti dalam Surah Hud:6, setiap manusia bergantung rejekinya pada Allah. Selanjutnya dalam Al-An'am: 165; Al-Mulk:15, dapat diartikan setiap manusia memiliki hak untuk menunjang hidupnya dan bahwa mereka yang memegang kekuasaan ekonomi atau politik tidak memiliki hak untuk mencabut hak orang lain dari kebutuhan hidup dasar dengan menggelapkan atau menyalahgunakan sumber daya yang telah diciptakan oleh Tuhan untuk manfaat kemanusiaan secara umum.

Bahkan Qur'an mengutuk mereka yang menzalimi diri mereka sendiri dengan menolak dunia dan menyiksa diri seperti dalam Al-A'raf 32 dan menegaskan tentang pembelaan HAM di Al-A'raf 33.

Kiranya akan lebih bijaksana kalau kita tidak begitu saja mengiyakan informasi yang sampai pada kita tanpa berusaha mencari tahu terlebih dahulu, dan memandang ketiga terminologi diatas serta merta salah hanya karena mereka diagung-agungkan di Barat.