Sunday, September 2, 2012

Menunggu seorang ratu adil atau membangun komunitas orang bijak yang sama derajatnya?

Tulisan lama yang terinspirasi setelah menonton film Troy, 2008

Seorang teman berkata, bencana datang silih berganti dan belum ada tanda-tanda akan berakhir, banyak orang menantikan datangnya seorang ratu adil.

Ratu adil? apakah dia nyata atau hanya segumpal harapan akan seorang pemimpin yang cerdas dan bijaksana. Tetapi apakah ratu adil itu hanya seorang?

Bagaimana kita bisa yakin kalau satu orang mampu memiliki kemampuan se luar-biasa itu? Se tak-terbatas itukah kemampuan yang mungkin dimilikinya dibandingkan dua ratus jutaan sekian bangsa Indonesia. Kalau dia hanya seorang bagaimana dia akan transparan terhadap apa yg dia putuskan? lalu dimanakah fungsinya dua ratus jutaan kepala-kepala lainnya yang tentunya juga memiliki pikiran cemerlang.

adilkah namanya apabila hanya seorang yang paling bijaksana diantara sejuta orang lainnya?

Pertanyaan ini berputar di kepala saya beberapa hari belakangan ini. Mungkin ini karena baru saja melihat lagi film Troy yang sebenarnya lebih karena ada Brad Pitt didalamnya (hmmm yummy!!) dan melihat para senator berdiskusi atau karena baru baru ini saya merasa tertarik dengan sejarah Amerika sehubungan dengan kunjungan ke Gettysburg ladang perang sipil Amerika semasa Presiden Lincoln.

Akhirnya saya membuat teori sendiri, ratu adil mungkin bukanlah seorang individual saja, ratu adil hanya bisa dicapai apabila ada sekumpulan orang yang mencurahkan perhatian dan komitmennya untuk memajukan bangsanya.
 
Sekumpulan orang ini memikirkan apa solusi yang bisa diterapkan pada saat ini dan situasi seperti apa yang diinginkan tigapuluh-limapuluh-seratus tahun ke depan. Karena sekumpulan ratu adil ini adalah strategic thinker yang pasti mereka tidak akan mengeluarkan kebijakan reaktif yang hanya diatas kertas tetapi tidak ada koridor yang mengatur pelaksanaan, pengawasan maupun sanksi bagi yang yang melanggar. Dan mestinya kebijakannya juga memberi ruang untuk curah pendapat publik.

Mereka juga sekelompok inspiratif sehingga ketika kebijakan di keluarkan ada alternatif yang dapat dilakukan masyarakat untuk tetap mempertahankan kehidupannya sehingga inspirasi yang mereka berikan mampu meredam konflik yang mungkin akan terjadi karena ada alternatif lain yang telah disiapkan.

Dan sudah semestinyalah ratu adil akan berpikir realistis sehingga tidak ada kata-kata dan janji-janji kosong dalam pemilu yang mereka ikuti karena setiap tujuan, setiap perkataan yang mereka janjikan ada indikator yang akan mengukur keberhasilan sehingga tak ada tempat tersedia buat janji-janji kosong. Ratu adil mungkin bukanlah seorang revolusioner sehingga lima tahun berkuasa ia mengubah total kebijakan sebelumnya sehingga"mari kita mulai dari nol lagi"

Dia mungkin akan melibatkan ratu adil lainnya memikirkan apa kekuatan yang mesti kita pertahankan atau kita bangun sehingga bangsa kita maju dan terhormat di tataran bangsa-bangsa lainnya didunia.

Mudah2an seorang ratu adil akan memberi banyak perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, serta memperkuat pertanian dan kelautan yang memang sumber utama kehidupan jutaan bangsanya.

Dan para ratu adil ini memberi pondasi akan rencana strategis bangsa ini ke depan.

Dan pastinya para ratu adil ini memiliki nilai moral yang tinggi, bukan dinilai dengan berapa banyak ucapan religious yang dia katakan pada setiap pertemuan yang lebih karena kemunafikan ingin dipandang religious. tetapi karena ada keberlangsungan kesadaran didalam pikirannya bahwa ia tidak perlu berbohong untuk menyenangkan orang lain, ia boleh berkata tidak walau itu akan menyakitkan,dan yang pastinya sadar betul asset yang ditanganinya adalah milik segenap bangsa dan bukan harta keluarga yang diwariskan kakek buyutnya.

Para ratu adil ini mudah-mudahan akan membawa bangsa ke suatu taraf yang berupa standar minimum kesejahteraan yang mampu dicapai setiap orang sehingga kita tak lagi bersaing dengan alam dan merusaknya untuk meraup keuntungan namun mampu menghargai keberadaanya sebagai partner sejati dalam mengarungi hidup saat ini dan masa depan.

Tapi saya pikir, ratu adil mestinya ada dalam diri setiap kita, dia tidak akan pernah datang kalau kita sendiri tak memulainya. Kita tak boleh berharap pada satu dua orang pemimpin saja tanpa turut serta berpartisipasi memikirkan solusi atau paling tidak menanamkan prilaku ratu adil dalam diri kita, memangkas kemunafikan, memberi porsi orang-orang yang bekerja dengan kita untuk bisa mengekspresikan diri dan membunuh karakter diktator internal yang ada dalam diri kita. Dan bear in mind apa yang kita lakukan membawa dampak tidak hanya bagi sesama kita tetapi juga bagi lingkungan tempat kita hidup.

Sunday, August 19, 2012

62 Tahun Merdeka (Kenangan di Atambua)

Haleluya!

Laki-laki dan perempuan menari bersama, larut dalam kebahagiaan. Sesekali Fredrikus Klau tetua di desa itu melantunkan kata-kata dalam bahasa Timor dan semua yang hadir mengulangi kata-kata yang sama, dan kembali larut, bergerak bersama, diikuti lambaian tenun ikat yang mereka kenakan, mengikuti jejak kaki mereka,maju dan mundur bersama, membentuk lingkaran yang terus bergerak menarikan Tarian Bidu.




Hari itu, setelah 62 tahun Indonesia merdeka, masyarakat dusun Beina di kabupaten Belu NTT yang berseberangan dengan Timor Timur mendapat tetesan air yang dialirkan ke desa mereka. Hari ini upacara besar  pun dilakukan, gendang-gendang adat dikeluarkan dan diseka permukaannya di balai desa. Jangan berharap balai disini berupa gedung pertemuan seperti yang kita lihat dikota besar, balai adat desa Beina berupa lapangan yang ditumbuhi pohon beringin besar dan sebuah berugak beratap ilalang.



Para penari telah bersiap-siap dari pagi. Laki-laki mengenakan pakaian kebanggan mereka, hiasan bulu di kepala, lempengan kulit menghiasi pergelangan kaki serta sebuah cemeti. Perempuan mengenakan tenunan ikat terbaik yang mereka miliki dan menabuh gendang berirama. Tak ada gincu, bedak tabur ataupun polesan pensil alis di wajah mereka. Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah alami perempuan ini. Acara diawali dengan tarian likurai.Tarian Likurai adalah tarian perang yang didendangkan ketika menyambut pahlawan yang kembali dari berperang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal, tentu saja hal yang terakhir ini sudah tak lagi dipraktekkan. Likurai sendiri berarti menguasai bumi, tarian ini sebagai wujud penghormatan kepada mereka yang menaklukan bumi.

Haleluya!! Hari ini kita harus menari, puji syukur kepada Tuhan, hari ini setelah 62 tahun merdeka ada air mengalir ke desa kita!!! Fredrikus meneriakkan haleluya dan disambut oleh yang hadir.
"Hari ini haleluya, oleh karena itu kita semua harus minum, bapa-ibu, semua yang disini harus minum!" Ia mengedarkan gelas yang telah dituangi soppi, minuman arak lokal berasal dari cairan pohon nira. Kita tidak perlu lagi mendaki perbukitan mencari air karena air su datang ke tempat kita, haleluya!!

Hari itu, hati saya tertaut di Beina.

Menyaksikan keindahan tarian nusantara, meminum soppi yang ditawarkan mereka penuh semangat dan saya tak sanggup menolaknya , mendengarkan lantunan indah yang bersahut-sahutan dan menikmati makan siang dengan bumbu yang sangat sederhana:daging kambing bakar, air, garam,cabai dan kacang ijo.

Yang terindah tentunya merasakan ketulusan, ketulusan Beina berbagi dengan kami, senyum tulus dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka.

Air tidak hanya meningkatkan higinis pribadi penduduk Beina, tetapi secara tak langsung membuka akses yang lain, bertanam sayur dan bunga bagi ibu-ibu serta berternak ikan air tawar bagi beberapa keluarga. Air sepertinya benar-benar membuka jalan bagi banyak hal di Beina. Semoga air benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan mereka sekarang dan di masa depan.

Sebelumnya, dalam perjalanan menuju Beina, di salah satu desa yang kami lewati, anak-anak sekolah dan guru-guru mereka menghentikan laju kendaraan kami, menyanyikan "Padamu Negeri" di tengah cuaca panas, melambaikan bendera "merah putih" kecil dengan tangan-tangan mungil mereka, dan menyampaikan pesan bahwa mereka berharap, suatu saat kami akan membantu desa mereka seperti halnya Beina sehingga mereka bisa mandi, sebelum berangkat sekolah dan tak perlu lagi berjalan beberapa kilometer untuk mendapat air bersih.

Terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi kepada palang merah Indonesia sehingga 300 keluarga di Beina tersentuh oleh air bersih dan fasilitas sanitasi, yang selama ini mereka tunggu selama 62 tahun..


      

Brugge Kotanya Orang Flemish

Kenangan ketika berkunjung ke Brugge 2009.

Brugge yang terletak di propinsi West Flander, Flemish Belgia ini adalah salah satu "world sites heritagenya UNESCO".


Kota tua ini dipenuhi bangunan medieval bergaya Gothic dengan ciri khasnya kisi-kisi jendela berwarna merah. Mengunjungi Brugge dan menikmati bangunan tuanya seperti kunjungan ke masa silam.

Kota tua Brugge dulunya adalah kota pelabuhan yang menghasilkan Kain "lace" dan aktif berdagang dengan pelabuhan lainnya baik yang ada di Perancis maupun Venesia. Kota pelabuhan ini sempat tertidur selama 400 tahun karena sungainya mengalami pendangkalan. Dan saat ini Brugge telah bangkit kembali dengan menjual pesona kota tuanya.

Disekitar city hall/ Market square Brugge ada arsitektur tiga jaman dari Gothic ke Barok dan Rennaissance. Fantasi saya terus bergerak ke masa lampau bagaimana jalan-jalan kota ini dipenuhi lumpur dan kereta kuda, Arc Bishop yang berjalan dari city hall ke gerejanya yang ada di sudut city hall serta kapal-kapal perdagangan yang hilir-mudik ke Brugge.

Kaki saya tertatih mengikuti teman yang mengantar saya ke Brugge, menginjakkan kaki di "Basilica of the holy blood" dimana ada relic darah sang Al Masih, wanita yang menjaganya melambaikan tangan kepada kami. Naik ke podium relic tersebut berwarna putih dengan bercak berwarna merah kecoklatan ditutupi tabung plastik. Dia meminta kami satu persatu memegang relic tersebut dan berdoa. 

Kami beruntung sekali pada hari itu, biasanya relic tersebut disimpan rapi di dalam bejana perak dan pada hari itu sedang di keluarkan. Teman saya yang katolik langsung membuat tanda salib dan berdoa dan saya menundukkan kepala sejenak mengheningkan cipta bagi sang Al Masih.

Kami berempat, saya, Yuki, Valo dan si kecil Leo-san terbuai oleh keindahan Brugge. Banyak kebijaksanaan masa lampau yg masih terlihat disini. Salah satunya adalah Beguinage "perkampunagn di tengah kampung" perumahan  disini khusus dibangun untuk para wanita dan janda yang kehilangan kepala keluarga pada masa perang salib. Wanita-wanita itu tinggal di tempat ini menjalani hidup yang mirip biarawati tetapi mereka bukan biarawati. Mereka berkelompok dan membuat kerajinan kain lace. Mereka dilindungi oleh pemerintah setempat dan dengan tinggal di tempat tersebut kesejahteraannya terjamin. Rumah-rumah ini masih terus ditinggali sampai sekarang. Betapa kearifan masa lampau masih bergema sampai saat ini.

Kaki kecil Leo san asik bermain-main di tengah lumpur, sepertinya benak kecilnya juga menikmati tempat ini, kami terus bergerak di lorong-lorong sempit Brugge. Keterangan didinding bangunan memperlihatkan bahwa tempat ini adalah spa dan rumah bordir. Saya tersenyum, bisnis satu ini tak mengalami perubahan berarti dari jaman ke jaman dan mungkin akan terus ada selama manusia ada.

Dari jaman dulu sampai sekarang kemasan rumah bordir tak jauh berbeda. Uniknya peradaban manusia, teknologi berkembang terus menerus dan saat yang sama kita terus memegang teguh nilai-nilai dan kebiasaan yang telah ada selama ribuan tahun

Ah kalau saja orang-orang ditempat asal saya mampu menghargai dan memelihara bangunan bersejarah, setidaknya satu jalan utama di kampung halaman saya akan terlihat seperti kota tua di Eropa.

Dari Perang Melawan Teror ke Perang Meniadakan Tuhan

Peperangan di Gaza yang sedang hangat-hangatnya diberitakan di berbagai media Januari 2009 yang lalu, secara tak langsung membuat saya tak henti-hentinya membaca tentang asal muasal konflik disana. Informasinya bisa diunduh disini :http://en.wikipedia.org/wiki/1948_Arab-Israeli_War, dan http://en.wikipedia.org/wiki/Six-Day_War




Dan secara tak sengaja setelah membaca halaman demi halaman dan meneliti kata kunci sampai juga akhirnya di google video berjudul BBC Politics: The Power of Nightmares, sebuah film dokumenter yang dimandori oleh Adam Curtis. Film ini terdiri dari tiga seri : (1) Baby it's cold out there; (2) the Phantom victory dan (3) The shadows in the cave. Bagi teman-teman yang punya waktu silahkan di google saja judulnya dan bisa menonton film ini dari google video.

Film ini dimulai dari kilas balik tentang dua orang yang kurang lebih berpandangan sama tetapi tidak identik satunya seorang Professor yang menganut paham neo-konservatif dan seorang pelajar Mesir di Amerika yang pulang ke negerinya membawa paham atau gerakan Islam fundamental. 

Kedua-duanya melihat adanya masalah dengan liberalisme. Disatu sisi berkembang Islam yang fundamentalist dan disisi lain neo-konservatif menemui jalannya di perpolitikan Amerika.

Sambil menonton paparan tentang fundamental di film ini saya teringat masa-masa kuliah dulu i.e. masa-masa pencarian jati diri, seorang sahabat saya benar-benar tertarik mendalami masalah agama, baginya tak cukup sesi diskusi seminggu sekali yang di fasilitasi oleh mahasiswa senior tetapi juga kegiatan-kegiatan khusus lainnya yang lebih advance. Hingga suatu saat sahabat yang lain curhat bahwa kami tak cukup Islami sehingga apabila kami berkunjung ke kamar kosnya maka seluruh lantai harus dilap kain basah dan mukena yang dipinjam untuk shalat mesti disucikan kembali. Dan beberapa teman-teman yang lain mengemukakan niatnya berpartisipasi di konflik yang terjadi di Maluku saat itu. Tak jauh berbeda dengan pemikiran orang Mesir iniBisa jadi setelah puluhan tahun, esensi pemikirannya menyebar kemana-mana.

Lalu di Amerika sendiri kaum anti liberal akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan berkeinginan mengubah Amerika kearah neo konservatif. Dan lambat laun dua gerakan ini berkembang dan menjadi musuh bagi satu sama lain.

Disini perang "kebaikan melawan kejahatan" dimulai. Untuk melindungi rakyat maka musuh harus diciptakan sekaligus ditaklukkan, bermula dari Russia hingga jaringan teroris yang sangat terkenal sekarang ini. Lucunya semuanya berdasarkan asumsi yang dibuat sendiri, dijual sendiri dan dibeli sendiri. Yah, demi keamanan nasional rakyat perlu ditakut-takuti supaya kebijakan yang mau diluncurkan mendapat legitimasi. Disisi lain demi menegakkan pemikiran fundamentalis sesama penganut agama sendiri darahnya menjadi halal. Sungguh mengenaskan mengingat kebanyakan yang menjadi korban adalah saudaranya sendiri. Film ini membuka cakrawala pemikiran baru buat saya. 

Ditengah kemaruknya perang atas nama yang Kuasa, menjelang pelantikan Obama kaum atheist dan agnostic menuntut lembaga kehakiman Amerika supaya sang Presiden tidak mengucapkan kata-kata "Tuhan bantulah saya"

Sepertinya, ada jurang baru yang melebar, tidak hanya antar agama-agama yang ada yang terus saling bertikai dan sulit untuk duduk bersama tetapi juga masuknya pemain-pemain baru yang iklan-iklan mereka meramaikan kendaraan umum yang lalu lalang di beberapa kota di Inggris dan Amerika baru-baru ini yang gencar mempertanyakan "untuk apa percaya dengan Tuhan".

Mungkin sudah saatnya pendidikan agama yang diajarkan disekolah-sekolah tak hanya memisahkan pelajar berdasarkan agamanya tetapi juga memuat sesi-sesi diskusi antar pelajar dengan agama yang berbeda sehingga anak didik bisa mempelajari agama satu dan lainnya, menarik persamaan dan perbedaan dan yang terpenting dengan pemahaman tersebut bisa menumbuhkan toleransi dalam hidup bermasyarakat.

Dengan masuknya pemain baru ini yang mengajak orang meninggalkan keyakinannya, sudah selayaknya bagi mereka yang masih percaya akan kekuatan yang Maha Tinggi untuk duduk bersama dan menjadi teladan, sehingga ketika ada yang mempertanyakan apa yang membuat ajaran agama pantas mendapat tempat, mereka mampu mendapatkan jawabannya.

Tentunya sambil tetap menghormati pilihan  mereka yang nyaman hidup tanpa merasa perlu menganut ajaran-ajaran tersebut.

The Sands is (temporarily) Out of My Shoes (02/09/09)

Catatan lama tentang trust and friendship, ternyata dalam hidup ini "a bunch of  sands out and more to come" :)

Baru-baru ini saya merasa senang dan bersyukur sekali, luka lama yg selama ini terpendam dan saya coba obati sendiri telah berangsur-angsur sembuh. Terlebih lagi ketika seorang teman yang terlibat di dalamnya secara terbuka membicarakan hal itu dan meminta maaf.

Cerita ini dimulai beberapa tahun lalu tepatnya setelah selesai kuliah dan mulai bekerja pertama kali. Euforia kerjaan pertama sungguh luar biasa. Setelah di telpon oleh kantor lama lalu ditempatkan di sebuah pulau eksotis, rasanya doa dan usaha saya digranted.

Bersama beberapa teman sejawat kita mendapat training ttg psiko-sosial secara kita akan menjadi frontline memfasilitasi para pengungsi yang terdampar di belahan timur. Training yang pada akhirnya membuat kita menjadi dekat satu sama lainnya dan menjadi sahabat sampai sekarang.

Ternyata niat dan antusiasme dan profesionalisme saja kadang tak cukup. Berada di lapangan dan bekerja dengan tim lain dengan target yang sama tetapi fokus yang berbeda sesekali memunculkan konflik.

Puncaknya apa saja yang dilakukan selalu salah, performa kerja tak pernah dinilai tetapi close follow up tentang kehidupan personal mendapat porsi yang sangat tinggi. Sungguh mengherankan pada awalnya ditempat yang seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi kemanusiaan justru nilai kemanusiaan terasa hambar. Tak hanya pandangan personal yang bersebrangan terhadap pendekatan yang mesti dilakukan tetapi secara sektoral pola pandang ini juga bersebrangan. Akibatnya jalur komunikasi tak penting dan illegal report ramai seperti jalanan ramai.

Kondisi gerah ini terus terang membuat tak nyaman. Sebagai bagian dari tim pastinya siapa saja ingin dipercaya, diberi kepercayaan, memiliki hubungan yang baik dengan sesama pekerja. Usaha pun ditempuh mengorbankan waktu cuti saya terbang ke kantor induk berusaha mengatasi barrier dengan atasan saya. Komentarnya " ooh gak ada apa-apa. Prestasi kamu bagus kog, keep the good work"

Tetapi ternyata masalahnya adem sekitar dua bulan, saja setelah itu ada insiden kecil pada saat kantor kita mengadakan training. Dengan beberapa teman kita iuran dan menyewa mobil bermaksud pelesiran selama satu hari mengunjungi beberapa tempat. Ternyata ada yang ingin ikutan dan oleh kita diberi tumpangan gratis. Ditengah jalan group baru tersebut meminta itenerary dibelokkan padahal semuanya sudah terencana rapi dan terang saja kita menolak. Sesuatu yang dalam beberapa jam kemudian mentrigger masalah lain lagi, berbagai berita miring muncul, laporan disertai drama tangisan, pokoknya apa saja alasan yang kita kemukakan intinya "kami pihak yang menyewa mobil, memberi tumpangan gratis, yang telah menjelaskan itenerary sebelum berangkat dan disetujui menjadi terdakwa" karena teman lain yang ikut serta memutuskan tak ingin melanjutkan perjalanan bahkan setelah "sedikit dirayu"pun masih saja menolak melanjutkan perjalanan.

Dan tidak hanya itu, pemberitaan semakin melebar kemana-mana, sebagaimana anak muda pada jaman itu berada difield office dan berargument dengan imigran yang lumayan bahlul cukup membuat stress sehingga akhir pekan adalah ajang bertemu teman-teman dan tentu saja mengekspresikan diri. Ps: kalau liat anak-anak Federasi Jogja dan Hepapnya seperti kembali ke masa itu:), berbahagialah mereka dan semoga persahabatan yg terjalin tak lekang oleh waktu.

Puncaknya, ketika kita lolos seleksi beasiswa dan mesti cuti karena ujian diadakan di seberang pulau, saat itu pula teror melanda. Luar biasa sekali perbuatan segelintir oknum ini. Cuti yang sah diganggu dengan panggilan telepon, sedang dimana? bersama siapa? apa yg sedang dikerjakan? dan seabreg pertanyaan lainnya diajukan oleh oknum yang berbeda-beda.Padahal otak kan mesti konsentrasi dengan ujian yg menganut sistem gugur.

Akhirnya saya memutuskan inilah saatnya keluar dari tempat ini. Tempat yang saya sukai karena ini pengalaman tak terlupakan, tempat yang membuat saya lebih berani menghadapi apa saja, bahkan saya tak takut mengancam seorang Bapak berbadan besar dari timur tengah sana yang suka memukuli isterinya, tempat dimana ditengah tekanan demonstrasi, mogok makan, jahit bibir dan segala macem, dan nyaris setiap bulan disorot media tetapi ada juga penghibur disana ada juga sih mas-masnya yang cakep dan berdasi kalo jalan ga tanggung-tanggung cakepnya, bikin konsentrasi menyetir jadi buyar :)

Mendapat lampu hijau ditempat baru saya resmi mengundurkan diri. Seminggu yang terasa lambat dan menyedihkan karena semua pada sedih dan bahkan kita juga menangis.Saya pergi dari tempat itu, tetapi tingkat kepercayaan saya terhadap kolega berkurang, saya memaafkan mereka yang menyebar berita dibelakang dan meminta maaf juga bila ada kesalahan yang telah dilakukan, bagaimanapun untuk bertahan disana bukan lagi sebuah pilihan. Tempat itu berjasa besar, tak hanya membuat saya lebih tegar tetapi juga membuat saya tak lagi sehangat dulu, mampu menjalin pertemanan dengan mudah dan dalam hitungan menit, pengalaman disitu membuat saya trauma dan tak mudah menjalin hubungan akrab dengan semua orang. Lucunya ditempat baru seringkali dalam pertemuan antar lembaga saya bertemu dengan mantan kolega yang sempat membuat dada ini serasa mau pecah. 

Anehnya pertemuan itu tak hanya sekali, awalnya dari colekan di sebuah bandara ketika sama-sama ke daerah tsunami sampai saling memalingkan wajah dimeeting-meeting reguler dan di tahun ketiga, akhirnya saya tak punya jalan lain, saya memaafkan orang itu hanya dengan beginilah saya bisa sepenuhnya menerima diri saya, kekurangan saya dimasa lalu dan menganggap hal itu adalah bagian dari yang sudah terjadi. Akhirnya kita duduk semeja dan mulai berbicara sedikit demi sedikit menertawakan masa itu. 

Lalu beberapa waktu lalu seorang teman lama menghubungi, dia yang jadi bagian dari skenario tersebut mengakui keterlibatannya, menceritakan versi yang ia ketahui dan meminta maaf. Lalu saya menanyakan apa kesalahan saya? Jawabnya singkat "kamu dan teman mu sebenarnya pintar dan ada kans untuk maju" oh la..la..maaf ya ternyata itu menjadi bagian dari masalah:(

Saya bener-bener lega sekarang, walau bagaimanapun menurut saya pribadi hubungan baik itu mutlak diperlukan. Hubungan baik kunci kenyamanan dalam hati. Saya berkata tak perlu minta maaf sebenarnya karena saya telah memaafkan dan menganggap itu adalah phase dalam pembelajaran hanya saja pembelajarannya terlalu keras sehingga membuat saya jadi takut untuk bisa percaya lagi seperti dulu. Tapi siapa tahu dengan berjalannya waktu saya bisa benar-benar pulih dari trauma tersebut.

Tulisan ini saya tujukan buat dua anak manis yg dulu menjadi rekan sejawat di sebuah operasi gempa. Di tengah tekanan akan profesionalitas dan performa sungguh memiliki sahabat memberi kita kekuatan dalam menjalani apa saja. Dan seorang teman yang dengannya banyak hal-hal gila yg dilakukan dari makan malam berkesan di Trawangan sampai insiden ambruk di Leiden, thanks to be true all of these years.